Meski Terlahir dari Keluarga Konglomerat, Suami Ayu Dewi Ungkap Dididik Hidup Sederhana Sejak Kecil

Regi Datau dididik hidup sederhana

Bagi sebagian orang, lahir di keluarga kaya mungkin dianggap sebagai jaminan bisa hidup mewah dan apapun keinginannya bisa tercapai. Namun, sebenarnya hal tersebut tergantung dengan nilai-nilai yang diterapkan dalam keluarga. Nggak sedikit lo, keluarga kaya yang justru menerapkan nilai-nilai kesederhanaan dalam hidup. Seperti yang dialami oleh pengusaha Regi Datau, suami seleb dan presenter ternama Ayu Dewi.

Advertisement

Ayu selama ini memang dikenal bersuami pengusaha dari keluarga kaya. Kendati demikian kehidupan mereka nggak terlihat terlalu mewah seperti seleb lain yang dinikahi pengusaha kaya. Ternyata hal tersebut karena Regi sudah terbiasa dididik untuk hidup sederhana oleh orang tuanya, sehingga terbawa di kehidupannya saat ini. Perjuangan Regi hidup sederhana meski orang tuanya berkecukupan diungkap Regi sendiri dalam podcast di channel YouTube MrsAyuDewi pada Minggu (14/08).

Keluarganya terkenal memiliki pabrik barang elektronik, tapi Regi mengaku nggak punya televisi di kamar sejak kecil hingga dewasa

Regi merupakan anggota keluarga Gobel yang memiliki perusahaan elektronik ternama di Indonesia yang sudah turun temurun dari sang kakek Thayeb Mohammad Gobel dari tahun 1954. Gobel Group atau PT Gobel Internasional milik keluarga Regi memiliki banyak anak perusahaan mulai dari PT Panasoic Gobel Indonesia di bidang elektronik, hingga properti, periklanan dan kuliner. Walaupun lahir di keluarga kaya, tapi nggak lantas membuat kehidupan Regi serba mewah seperti keluarga kaya pada umumnya. Hal ini Regi ungkap ketika menjawab rasa penasaran warganet terhadap sebutan anak konglomerat yang disematkan pada Regi.

Advertisement

“Pernah nggak sih ngerasain sampo abis diisi air, botol dikocok-kocok atau sampo sachet sampai dilipat-lipat sampai keluar,” tanya Ayu pada Regi saat membacakan pertanyaan warganet.

“Aku enggak pernah merasa semenjak kecil seolah-olah konglomerat,” ujar Regi. Meski sejak kecil teman-teman di sekolah dan guru-guru selalu bilang bahwa kakek Regi punya pabrik yang besar, tapi hal tersebut justru biasa saja baginya. Regi hanya berpikir kehidupannya nggak seperti yang orang-orang kira saat menilai keluarganya. Regi mengakui jika ia hidup sederhana jauh dari apa yang orang lain pikirkan.

Advertisement

Pria kelahiran 1984 ini juga bercerita jika keluarganya hanya punya satu televisi di rumah yang digunakan bersama-sama “Aku diajarin dari pertama aku kecil sampai aku berangkat kuliah di luar negeri, lulus kuliah luar negeri, aku enggak pernah punya televisi sendiri di kamar. Padahal konon katanya kakek aku bisnis elektronik, artinya sesimpel punya teve di kamar aja aku nggak punya,” jelas Regi.

Jika biasanya keluarga kaya memiliki mobil lebih dari satu, bahkan tiap anak diberi mobil saat sudah bisa mengendarai sendiri, Regi justu hanya punya satu mobil yang dipakai beramai-ramai

Regi juga bercerita jika zaman ia SMA teman-temannya sudah memiliki mobil sendiri, alih-alih diberi mobil orang tua, keluarga Regi pun hanya punya satu mobil tua yang dipakai bersama-sama. Bahkan seumur hidupnya Regi mengaku belum pernah diberi mobil oleh orang tua. Mobil pertamanya didapat setelah ia bekerja dan memiliki uang untuk kredit mobil, tapi karena gajinya nggak cukup, orang tuanya hanya membantu setengahnya saja.

“Itu soal mobil, barang yang bukan kebutuhan pokok. Parahnya pas masih kuliah nggak pernah tuh tiap bulan otomatis ditransfer uang sama mama papa tiap bulan. Aku harus buat laporan keuangan tiap bulan supaya bisa dapat transferan berikutnya,” jelas Regi. Selain soal fasilitas, Regi dan semua saudaranya juga harus bisa membersihkan rumah sendiri. Mereka nggak punya pembantu yang tinggal 24 jam di rumah. Sehingga ketika sore, pembantu sudah pulang, semua tugas rumah dikerjakan anak-anak termasuk membersihkan kamar mandi.

Regi mengaku bersyukur dididik bisa mandiri dan nggak mudah dalam mendapatkan sesuatu sejak kecil, sehingga ia terbiasa berjuang dalam mewujudkan keinginannya

“Jangan harap bisa seenaknya minta sesuatu ke mama papa. Aku nggak boleh begitu, mereka merasa nggak wajib untuk memberikan semua keinginan anaknya. Bahkan kalau bisa kumpulin uang sendiri, kalau nggak bisa jangan harap akan dibelikan,” ungkap Regi.

Didikan tersebut menurut Regi bertujuan untuk mengajarkannya supaya bisa bertahan dalam kondisi sesulit apa pun. Bapak 3 anak ini pun mengakui hasil didikan tersebut bisa membuatnya seperti saat ini, bisa berjuang menghadapi berbagai permasalahan dengan baik. Meski nggak merasakan hidup seperti orang kaya pada umumnya, Regi sangat bersyukur dengan apa yang orang tuanya lakukan sejak ia kecil.

“Jadi nggak ada aku merasa apa itu, yang tadi dibilang istilahnya konglomerat. Tapi syukur alhamdulillah orang tua dulu keras banget didik aku. Mau nangis darah pun barang yang aku mau nggak akan ada kalau nggak usaha sendiri. Selain Regi, Ayu juga mengaku ia dididik keras seperti itu oleh orang tuanya. Hanya saja, jika Regi dididik keras karena pilihan aku karena keadaan karena berasal dari keluarga yang pas-pasan. Pengalaman tersebut pun membuat pasangan yang menikah pada Juli 2012 ini juga ingin mendidik anak-anak mereka supaya bisa tetap bertahan dalam kondisi sesulit apa pun.

Advertisement
Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

Penikmat buku dan perjalanan

Editor

Pemerhati Tanda-Tanda Sesederhana Titik Dua Tutup Kurung

CLOSE