Soroti Dampak PPKM bagi Pedagang, Tantri Kotak Merasa Pilu: Saya Pernah Ada di Posisi Mereka

Tantri Kotak tanggapi dampak PPKM bagi pedagang

Pemberlakukan pembatasan aktivitas di masyarakat masih diterapkan. Hal tersebut dilakukan demi meredam lonjakan kasus Covid-19 di Indonesia. Terhitung sudah 12 hari PPKM untuk wilayah Jawa dan Bali dijalankan. Selama itu pula mencuat kabar tak mengenakan akibat dampak peraturan tersebut, terutama bagi sejumlah usaha milik warga.

Advertisement

Meski kebijakan tetap harus dijalani, dalam penerapannya tak sedikit yang justru menaruh iba. Pasalnya ada saja oknum yang berlaku kasar secara fisik hingga perusakan yang dianggap bukan solusi dan justru memperparah keadaan. Di sisi lain, masyarakat belum serentak menaatinya sebab penghasilan utama untuk makan dari pekerjaan harian tersebut.

Hal itulah yang ditanggapi musisi Indonesia, Tantri Syalindri Ichlasari alias Tantri Kotak. Melalui Instagram miliknya ia mengutarakan dampak pandemi Covid-19 yang merugiakan banyak pihak, baik untuk pemerintah ataupun masyarakat kecil.

Tantri Kotak mencoba mengutarakan pandangan dari sisi pedagang, yang mana ia pernah berada di pengalaman yang sama

Pandangan Tantri dampak PPKM untuk pedagang | Credit: Instagram @tantrisyalindri

Sebelum kariernya meroket seperti sekarang, ternyata Tantri sempat berdagang untuk memenuhi kehidupan sehari-hari. Kala itu sang ayah memiliki struk ringan yang membuat dirinya dan ibunda harus mencari nafkah. Berjualan nasi uduk, sayur sampai es ia lakukan untuk bisa memenuhi kebutuhan.

Advertisement

“Saya pernah ada di posisi mereka dan saya tahu sulit sekali rasanya. Setelah kondisi ayah saya yang kena struk ringan dan harus pensiun dini. Jadilah kami mencoba berdagang untuk bisa dapat uang minimal untuk harian,” tulis Tantri dalam keterangan, Kamis (15/7).

Istri Hatna Danarda itu sebenarnya jarang sekali mengomentari suatu kasus, tapi menurutnya hal ini sangat relevan dengan pengalaman yang pernah ia rasakan. Lantas Tantri menjelaskan bahwa berjualan bukan hal yang mudah, apalagi jika penghasilannya benar-benar untuk makan di hari yang sama. Ketika sudah terkenal dengan nama Kotak, nyatanya ia masih berat membuka usaha sampai berujung pada penutupan.

Advertisement

“Saya ngerasain banget susahnya jadi pedagang, pendapatan yang fluktuatif, buang makanan sisa kalau ga laku, dan pernah buntung daripada untung. Melihat kondisi saat ini yang berjuang untuk dapat upah harian tapi harus menutup dagangan mereka di jam malam, dimana banyak orang yang suka makan malam rasanya kurang pas,” lanjut Tantri.

Ia pun memberikan solusi jika penertiban seharusnya ditekankan pada pengunjung, bukan lantas mengambil dagangan penjual apalagi merusaknya

Tantri lantas berharap pedagang bisa lebih diedukasi, jangan langsung dihakimi. Ia pun menceritakan seorang penjual bubur langganan yang baru buka ketika malam, tetapi harus cepat pulang lantaran takut dagangannya di sita. Ia yang melihat langsung merasa iba karena bubur yang dijual belum seberapa bahkan terbilang masih banyak.

“Yang salah bukan dagangannya, mereka berjuang mencari nafkah untuk keluarga, hanya tinggal mengedukasi orang yang beli tanpa harus makan di tempat mungkin lebih tepat dibanding harus menutup dagangan karena terlihat ada kerumunan. Take away, ojek online bisa membantu dagangan mereka bahkan tetap bisa membantu ekonomi para ojol,” imbuh Tantri.

Kendati begitu, pelantun lagu “Beraksi” itu tak menyalahkan kebijakan pemerintah yang menerapkan PPKM. Ia hanya menekankan untuk aparat selalu mengedepankan rasa kemanusiaan. Menurutnya harus sama-sama saling menghormati dan melihat dampak jangka panjangnya.

“Semoga para aparat yang juga bekerja di lapangan untuk mendisiplinkan punya cara yang lebih elegan karena kita sama-sama berjuang. Semangat para pencari rezeki,” tutupnya.

Pandangan Tantri ini banjir persetujuan dari pengikutnya di Instagram. Pasalnya beberapa hari belakangan, penertiban justru berujung miris. Mulai dari bentrok antara penjual dengan aparat, seorang ibu hamil yang tertampar hingga penyemprotan warung dengan air yang justru merusak.

“Naaaah. Menurutku, PPKM yang sedikit masalah itu pelaksanaan di lapangan. Bukan programnya. Usir kerumunannya, bukan pedagangnya,” kata akun @justb***

“Itulah nasib pedagang kaki lima seperti kami, tapi gapapa…demi lancarnya program pemerintah, dan mungkin Allah akan kasih yang lebih saat pandemi ini berakhir…aamiin,’ ucap @mikophoto***

Artinya perlu ada kerja sama antara satu pihak dan lainnya supaya penertiban tetap terkendali. Dari segi pemerintah harus mengetahui dampak bagi rakyat kecil jika PPKM diberlakukan, di samping itu masyarakat juga harus taat untuk sementara waktu meredam penyebaran virus corona. Dengan begitu, diharapkan pandemi Covid-19 di Indonesia bisa cepat teratasi.

Advertisement
Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Editor

Pemerhati Tanda-Tanda Sesederhana Titik Dua Tutup Kurung

CLOSE