Sangat Marah dengan Pembajakan Buku, Tere Liye Lontarkan Kritikan Keras. Tuai Beragam Komentar

Tere Liye kritik pembajakan buku

Pembajakan rasanya masih menjadi sebuah masalah yang mengakar dan sulit di berantas di Indonesia. Kita bisa dengan mudah mendapatkan berbagai macam barang bajakan, mulai dari baju, buku, musik, hingga karya seni di berbagai tempat, mulai dari toko online hingga toko fisik yang menjual buku bajakan.

Advertisement

Hal ini tentunya membuat pelaku industri geram. Salah satu yang paling vokal dan baru-baru ini menjadi bahan perbincangan di dunia maya adalah penulis Tere Liye. Tere Liye baru-baru ini membuat sebuah postingan yang mengeluhkan tentang pembajakan yang menimpa bukunya. Melalui postingan yang dibagikan di halaman Facebook-nya, Tere Liye mengunggah serangkaian tulisan bernada keras terhadap pembajakan buku, termasuk para pembeli buku  bajakan.

Tere Liye geram atas perilaku pembajakan yang masih merajalela di Indonesia, termasuk mengkritik para pembeli buku bajakan miliknya dengan keras

Kenapa Buku Original itu tidak bisa dijual murah?Coba kamu perhatikan baik2 gambar ini.Berhentilah egois sekali…

Posted by Tere Liye on Saturday, May 22, 2021

Pada hari Sabtu (22/5/2021) kemarin, Tere Liye membagikan sebuah postingan bernada keras, dalam postingan yang dibagikan melalui media sosial Facebook, Tere mengeluhkan tentang maraknya pembajakan buku yang dianggap sebagai hal lumrah di masyarakat. Hal tersebut tentunya merugikan banyak orang yang terlibat dalam sebuah pembuatan buku, mulai dari penulis, editor, penerbit, dan semua orang yang terlibat dalam industri tersebut.

Advertisement

Dalam postingan tersebut, Tere menjelaskan mengapa buku original tidak dapat dijual dengan harga yang murah. “Buku original aitu harus membayar semua pajak, semua biaya2 selain biaya cetak. pembajak itu tentu saja mereka bisa jual murah, karena  mereka hanya bayar nol semua. Tinggal bajak, beres.” terangnya dalam postingan tersebut.

Tere juga menyayangkan sikap para pembaca yang masih membeli buku bajakan. Selain itu dia juga menyarankan beberapa cara yang legal dan murah untuk menikmati buku karya dirinya. “Nah, kalau kamu benar-benar tidak punya uang. Aduh, kan bisa pinjam. Bisa download aplikasi ipusnas. Gratis malah bacanya. Ada yang gratis, kamu malah beli bajakan. Bikin kaya pembajak dan marketplace, kan g*blok banget,” sambung Tere Liye.

Postingan tersebut menuai pro dan kontra ketika dibagikan kembali oleh salah seorang pengguna Twitter yang menyayangkan Bahasa yang digunakan oleh Tere

Advertisement

Unggahan Tere Liye tersebut kemudian diunggah ulang oleh akun @harisFQ di Twitter. Pemilik akun tersebut menyayangkan ucapan Tere Liye yang dianggap kasar terhadap orang-orang yang membeli buku bajakan. Menurut akun tersebut, hal itu tidak pantas diucapkan, mengingat mayoritas pembaca buku Tere Liye adalah anak SMP dan SMA yang belum mengerti tentang isu pembajakan.

Unggahan @harisFQ tersebut tentunya ramai menuai pro dan kontra dari warganet. Ada yang tetap mendukung tindakan Tere Liye, tetapi ada juga yang mendukung ucapan @harisFQ dan menyayangkan ucapan Tere Liye. “Baik itu buku fisik maupun ebook. Sekarang mereka yg polos itu anda dungu dan g*blokkan, makin nampaklah arogansi anda Bung Tere,” tulis akun tersebut.

“gue kalau jadi Tere Liye juga bakal marah kayak gitu sih, biar ketampar semua orang yang beli buku bajakan, kalau bisa sampai proses hukum yang jual ecommerce” ungkap salah satu akun. “Kata-katanya emang kasar, tapi menurutku Tere Liye udah marah banget dengan pembajakan buku. Kok semuanya pada fokus ke kata kasar dibandingkan orang-orang yang menormalisasi pembajakan buku??” unggah warganet lain yang mendukung Tere Liye.

Raditya Dika juga angkat bicara tentang pembajakan buku yang juga pernah menimpa dirinya

Tanggapan Raditya Dika mengenai pembajakan buku yang diangkat oleh Tere Liye | Credit: Instagram via www.instagram.com

Merespons hal tersebut, komika sekaligus penulis Raditya Dika juga membagikan pengalaman dan opininya terkait dengan pembajakan buku. Sebagai penulis, Raditya Dika mengaku paham seperti apa rasanya jika seorang penulis tahu bahwa bukunya dibajak dan diperjualbelikan lewat unggahan Instagram Story miliknya.

Lewat Instagram Story tersebut Raditya Dika mengatakan bahwa dirinya merasa sedih, ketika sedang melakukan sesi tanda tangan, tetapi fans yang datang malah meminta dirinya untuk menandatangani buku yang ternyata bajakan. Menurutnya harus diakui masih banyak juga pembaca yang secara aktif masih mencari buku bajakan.

“Betapa sedih, kesal, dan kecewa karena seakan kita emang nggak bisa ngapa-ngapain (dalam melawan pembajakan). Pembaca masih mau beli buku bajakan (demand). Pemerintah juga enggak aktif memerangi (supply),” imbuhnya.

Wah semoga apa yang diperjuangkan Tere Liye soal pembajakan ini bisa segera membuahkan hasil ya! Karena apapun alasannya, membeli sebuah karya bajakan atau menjualbelikan sebuah karya bajakan adalah tindakan yang merugikan banyak pihak. Ada banyak cara buat kamu untuk menikmati sebuah buku seperti yang Tere Liye katakan seperti meminjam punya teman, meminjam di perpustakaan, atau membeli buku original second/preloved. Setidaknya hal-hal ini bisa mengurangi deman dan bisa mengurangi tindakan pembajakan.

Advertisement
Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

What is bravery, without a dash of recklessness?

Editor

Pemerhati Tanda-Tanda Sesederhana Titik Dua Tutup Kurung

CLOSE