Warga Bikin Petisi Protes Kebisingan Bar & Klub Malam di Canggu, Nana Mirdad Ikut Bersuara

Daerah Canggu, Bali tengah jadi sorotan publik setelah salah seorang warga lokal membuat petisi berjudul “End Extreme Noise in Canggu” (Basmi Polusi Suara di Canggu) karena keberatan dengan keberadaan bar maupun night club di sana. Protes P Dian, si pembuat petisi didasari oleh suara bising yang ditimbulkan dari aktivitas bar tersebut.

Advertisement

Menurutnya, gangguan suara itu sering berlangsung sampai jam 4 pagi dan mengganggu aktivitas serta jam istirahat warga sekitar. Ia juga menyinggung soal lokasi bar di Canggu yang dekat dengan pura, tempat sakral untuk sembahyang umat Hindu. Beberapa bar juga berlokasi di dekat laut sehingga sisa sampah pestanya mengotori pantai dan laut.

Hingga Rabu, (14/9), petisi itu sudah didukung oleh 7.937 masyarakat hingga warga asing. P Dian menilai warga Canggu sudah nggak bisa berdiam diri lagi melihat kultur Bali yang makin terganggu oleh pihak-pihak tak bertanggung jawab.

Menanggapi petisi tersebut, aktris Nana Mirdad tak menampik bahwa keberadaan bar di Bali telah memberikan beragam manfaat, salah satunya pembukaan lapangan pekerjaan. Namun di sisi lain, ia berharap agar ciri khas Bali yang kental akan unsur budaya, alam, dan ketenangan nggak hilang begitu saja karena pembangunan modern.

Advertisement

“Semoga pembangunan di Bali tetap sejalan dengan kelestarian di Bali ya,” tulisnya di Instagram Story, (14/9).

Nana Mirdad mengenang alasannya dulu memutuskan pindah ke Bali

Respons Nana Mirdad soal petisi warga Canggu

Respons Nana Mirdad soal petisi warga Canggu | Credit: Instagram @nanamirdad_

Nana Mirdad sudah menetap di Bali sejak 2010. Baginya, tinggal di Bali mengajarkannya untuk hidup lebih sederhana, bersyukur untuk setiap hal kecil, serta lebih cinta lagi terhadap alam. Perasaannya itu pernah ia ungkapkan pada Mei 2022 lalu, saat tepat 12 tahun ia tinggal di pulau ini.

Advertisement

Menanggapi petisi warga Canggu baru-baru ini, Nana Mirdad kembali mengenang alasannya saat memutuskan pindah ke Bali. Istri Andrew White ini ingin punya gaya hidup yang dekat dengan alam dan ketenangan, tapi tetap punya kehidupan sosial.

“Dulu pindah ke Bali karena cari tenang, pengen lebih deket dengan alam, tapi tetap punya balance yang baik dengan social life dan shopping,” tulisnya.

Sebagai salah satu daerah yang ramai didatangi wisatawan, Canggu memang punya potensi pariwisata yang besar. Nggak heran kalau di banyak titik ditemui bar, restoran, maupun night club. Menurut Nana, pembangunan tersebut tetap punya manfaat, yakni memutar roda perekonomian dengan menciptakan lapangan pekerjaan baru. Namun, ia berharap ada peraturan yang ketat untuk mengatur pembangunannya agar jangan sampai merugikan warga sekitar.

Nothing against pembangunan resto dll karena ada sisi positifnya juga dimana loker bertambah luas. Tapi yang diharapkan aturan pembangunan juga seimbang, malah kalau bisa diperketat banget,” lanjut Nana.

Nana nggak ingin pesona utama Bali yang dulu jadi alasan utamanya memilih tinggal di sana jadi luntur karena pembangunan yang nggak tertata.

“Jangan sampai kultur dan budaya Bali yang sebenarnya sangat unik dan indah ini jadi hilang dan digantikan dengan party life dimana-mana. I love you, my Bali! Stay green and full of love,” tutupnya.

Pemerintah daerah Bali tetapkan sejumlah peraturan baru untuk menertibkan lokasi hiburan di Canggu

Canggu, Bali

Canggu, Bali | Photo by Cassie Gallegos on Unsplash

Dinas Pariwisata Bali dan Satpol PP membuat kesepakatan dengan para pengusaha bar, resto, serta kelab di kawasan Canggu. Dilansir dari Detik Travel, kesepakatan pertama terkait dengan jam operasional tempat hiburan yang harus tutup pada pukul 01.00 WITA.

Selanjutnya, berdasarkan penelusuran Dinas Pariwisata Bali dan Satpol PP, memang betul ada sejumlah restoran dan bar di Canggu yang sering memutar musik dengan volume sangat keras hingga larut malam. Maka dari itu, kesepakatan kedua adalah mengatur batas frekuensi suara maksimal yang diperbolehkan, yakni 70 desibel. Batas itu ditujukan untuk tempat hiburan yang outdoor.

Petisi dari warga Canggu ini juga ditanggapi oleh Kemenparekraf, Sandiaga Uno. Ia menyayangkan viralnya kawasan Canggu itu bukan karena potensi pariwisatanya, melainkan karena banyak musik yang mengganggu warga setempat. Dalam sesi Weekly Briefing with Sandi Uno (12/9), ia mengimbau untuk menghormati masyarakat sekitar serta menjunjung tinggi adat istiadat.

Juga, Sandi menambahkan bahwa ia akan mengunjungi Bali khusus untuk membicarakan masalah ini dengan pemerintah setempat dan pelaku usaha.

“Kami bekerja sama dengan aparat setempat memberikan satu pesan yang tegas dan lugas agar seluruh peraturan itu ditegakkan dan dipatuhi,” ujarnya, dikutip dari Kompas.com.

Advertisement

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

Editor

Learn to love everything there is about life, love to learn a bit more every passing day

CLOSE