Banyak jalan menuju Roma, banyak jalur menuju hidup yang lebih bermakna. Sebagai pelajar, salah satu jalur yang tersedia untuk kita adalah beasiswa. Beasiswa tentu saja tak bisa kamu pandang sebelah mata. Banyak orang yang “dimatangkan” secara emosional, bisa mendapat pekerjaan bergengsi, dan menjalani hidup yang lebih baik dari beasiswa yang diperolehnya.

Merasa dirimu terlalu “biasa-biasa saja” untuk mendapat beasiswa? Mungkin tokoh-tokoh ini akan bisa membuka matamu. Dalam mendapatkan beasiswa, perjuangan dan semangat adalah kuncinya. Jika mereka bisa, bukankah ini giliranmu membuktikan kemampuan yang sama?

1. Berkat kegigihan dan kecerdasannya, Raeni yang anak tukang becak bisa menginjakkan kaki ke tanah Inggris

Raini

Raeni via twitter.com

Advertisement

Pasti banyak dari kalian yang sudah tidak asing lagi akan sosoknya. Perjuangannya sebagai seorang anak tukang becak demi meraih kesuksesan memang sudah banyak tertulis di media cetak bahkan ditayangkan di layar kaca. Ya, cerita dari Raeni ini memang sangat menginsipirasi dan bisa memberi suntikan motivasi bagi banyak orang.

Perjuangan Raeni dalam menyelesaikan studinya di Universitas Negeri Semarang tidak bisa dipandang sebelah mata. Dengan keterbatasan biaya, dia tidak pernah menyerah hingga pada akhirnya bisa meraih gelar cum laude dengan IPK 3.96. Tak sampai di situ, Raini juga mendapat kesempatan emas untuk melanjutkan pendidikan S-2 di negara Ratu Elizabeth.

Semuanya diperolehnya bukan hanya dalam sekejap mata. Berbekal kerja keras dan tekad baja dia bisa mendapatkan kesuksesan seperti sekarang ini. Pendapatan ayahnya yang hanya Rp 10.000 setiap hari tidak membuatnya gemar mengeluh dan sibuk berkecil hati. Justru keterbatasan macam inilah yang menyulut semangatnya untuk terus bergerak. Raini getol memberikan kursus les privat hingga menjadi asisten di laboratorium ekonomi demi menambah uang sakunya. Kerja kerasnya tentu tak sia-sia, karena sebentar lagi dia akan menginjak negara Inggris untuk melanjutkan pendidikannya.

2. Berani menaruh mimpi tinggi-tinggi meski gagal SNMPTN, Irwinanda Satria bisa melanjutkan pendidikan di Eropa.

kini dia

Irwinanda Satria via indonesiamengglobal.com

Advertisement

Irwinanda Satria tak lelah bermimpi untuk bisa menginjakkan kakinya di Eropa. Hasilnya, kini mahasiswa semester akhir ini sedang menyelesaikan pendidikannya di negara menara Eiffel. Sejak kecil, pria berkacamata ini memang gemar menggeluti otomotif dan bermimpi bahwa suatu saat bisa melihat sendiri pameran mobil di Prancis. Hampir tak pernah mendapat juara di kelas tak pernah memadamkan mimpi yang dia punyai. Bahkan, kegagalan dalam PTN dan SNMPTN tidak juga memelankan ritme langkahnya.

Akhirnya pria jurusan Teknik Otomasi ini mendaftarkan diri di Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya. Seperti mahasiswa kebanyakan, beban kuliah sering membuatnya kelimpungan. Namun ini hanya membuatnya bertambah tertantang. Ia pun memutuskan untuk mengikuti seleksi program joint degree untuk melanjutkan pendidikan di Prancis. Program ini dibiayai oleh dana Beasiswa Unggulan Kemdikbud.

Sebagai seorang mahasiswa yang dihajar dengan kepadatan kuliah, dia juga harus mengikuti kursus bahasa Prancis demi bisa lolos seleksi dalam program yang diikutinya. Belum lagi kesibukan lainnya sebagai anggota tim robot dan juga ketua PKM. Namun, lagi-lagi, di sini Satria tidak pernah mengeluh dan menyerah berusaha. Dia tahu benar bahwa ini merupakan caranya bisa meraih apa yang diimpikannya selama ini. Hasilnya, mimpi untuk melangkahkan kaki di negara Eropa pun terbayar lunas berkat kegigihannya.

3. Berkat ketekunannya, Stya Nur Istiqomah bisa meninggalkan profesinya sebagai asisten rumah tangga dan meraih gelar sarjana.

stya nur istiqomah

stya nur istiqomah via scontent.cdninstagram.com

Kegigihan dan ketekunan merupakan resep mutlak yang harus kamu ramu untuk bisa mencecap kesuksesan. Hal ini sepertinya sudah dipraktekkan oleh gadis asal Jambi, Stya Nur Istiqomah. Perjuangannya bisa mengundang decak kagum banyak orang. Karena kondisi perekonomian keluarga yang bisa dikatakan serba kekurangan, dia tetap tak hilang semangat. Dia tak malu dan rela melakoni pekerjaan sebagai pembantu rumah tangga demi bisa melanjutkan kuliah.

Dalam satu bulan bekerja dia biasa diberi upah sekitar 600ribu rupiah. Gaji yang diperolehnya digunakan untuk membeli formulir SNMPTN. Walau kemudian dirinya tidak diterima melalui jalur tersebut, Stya pun tak patah arang. Dia gigih mencoba jalur PMDK supaya bisa melanjutkan pendidikannya. Setelah diterima, dirinya tetap memutar otak untuk kelak bisa membiayai kuliah sendiri sehingga tidak membebani orangtua. Pada akhirnya, Stya bisa memperoleh beasiswa yang membuatnya berkuliah gratis tanpa biaya.

4. Oka Danil: kesulitan finansial justru memicunya untuk tak putus mencari program beasiswa yang bebas biaya. Kini, dia sedang menyelesaikan pendidikannya di Korea.

oka danil beasiswa di korea

oka danil beasiswa di korea via indonesiamengglobal.com

Pernah gagal meraih program beasiswa di Belanda karena kendala biaya, Oka Danil tak pernah kehabisan asa. Setelah menyelesaikan S1 di Teknik Elektro Universitas Diponegoro Semarang, dia sukses melanjutkan pendidikan di Korea yang benar-benar bebas biaya.

Terkadang rasa lelah dan bosan memang pernah mendatanginya, membuatnya sempat hilang arah dan tak tahu apa lagi yang harus dilakukannya supaya berhasil meraih beasiswa. Namun, kemudian, dukungan tak henti dari orangtua, kerabat serta kawan berhasil mengembalikan semangat juangnya. Dia getol bertanya pada teman dan mencari ragam sumber mengenai program beasiswa yang bebas biaya ke luar negeri. Menulis CV, jatuh bangun mempelajari dan tak henti menulis proposal riset pernah dijalaninya. Hingga pada akhirnya dia kini berhasil melanjutkan s2 di Korea melalui program beasiswa laboratorium.

5. Aplikasi yang ditolak berkali-kali tak membuat semangatnya menyurut begitu saja. Fendy Susanto pun berhasil meraih beasiswa S2 di Belanda.

beasiswa di Belanda

beasiswa di Belanda via indonesiamengglobal.com

Fendy Susanto selalu bermimpi untuk bisa melanjutkan pendidikan di luar negeri. Keinginannya, ilmu yang ia miliki bisa dibagikan dan berguna bagi setiap orang. Karena alasan itulah, dia benar-benar berjuang untuk bisa melanjutkan pendidikannya setelah berhasil menyandang gelar Sarjana Teknologi Pertanian dari UPH. Banyaknya kolega yang berhasil meraih beasiswa S-2 di luar negeri membuat keinginannya semakin memuncak dan tekadnya kian bulat.

Namun sayang, apa yang diharapkannya tak mudah tergapai tangan. Kemudahan yang dialami banyak kawannya tak kunjung dirasakannya. Dia berkali-kali ditolak oleh berbagai program beasiswa. Dari VLIR-UOS, Erasmus Mundus, sampai Australian Development Scholarship, semua menolaknya. Kompetisi yang ketat serta latar belakang pekerjaan di sektor swasta jadi alasan mengapa ia gagal.

Sempat putus asa, semangatnya kembali menyala ketika dia mengetahui ada program beasiswa yang belum dicobanya. Berbekal semangat dan keinginan kuat, dia menjajal peruntungannya. Cerita akhirnya? Ia berhasil pergi dengan beasiswa S-2 ke Universitas Maastricht, Belanda.

6. Teus Tabuni berasal dari keluarga yang buta huruf. Namun ia tetap yakin akan haknya meraih gelar sarjana, dan berkat kegigihannya ia meraih beasiswa

Teus Tabuni

Teus Tabuni via wvindonesia.org

Teus Tabuni merupakan pemuda asal Papua. Perjuangannya untuk menyelesaikan pendidikan memang patut diacungi jempol. Orang tua yang sangat miskin dan buta huruf tak membuat Teus Tabuni berkecil hati. Jarak sekolah dari rumah yang terbentang sekitar 20 km pun rela dilakoni atas nama pendidikan.

Karena keterbatasan biaya, dia pun bekerja demi menambal pengeluaran. Mencabut rumput, membersihkan halaman gereja, serta ragam pekerjaan serabutan lainnya sudah pernah dilakoni. Kisah perjuangannya pun pernah dibukukan dan ia juga mendapat kesempatan terhormat untuk tampil di acara Kick Andy Show untuk membagikan pengalamannya. Sempat cuti kuliah karena kendala biaya, kini dia mendapat beasiswa penuh untuk menyelesaikan program S1-nya.

7. Pantang menyerah dan bekerja serabutan demi menambal uang kuliah selalu Yacob tekuni. Hasilnya, kini dia bisa meraih beasiswa untuk menyelesaikan studinya.

Teus dan Yacob

Teus dan Yacob via wvindonesia.org

Pemuda asal perbatasan NTT dan Timor Leste ini memang terbukti gigih dalam berusaha. Walau Yacob Obe Tusala seorang anak kepala suku, kemudahan dalam mencecap pendidikan tak jua ia dapatkan. Jarak 7 km yang terbentang dan mesti naik turun gunung untuk pergi ke sekolah pun harus ditekuninya saban hari.

Kendala biaya juga tak memudarkan asa yang dimilikinya. Ragam pekerjaan disanggupi demi bisa memenuhi dana pendidikan. Dari mulai tukang semir sepatu, tukang ojek, tukang sol sepatu, penjual hasil tenun pernah menjadi mata pencahariannya. Sama seperti Teus, kisahnya dibukukan dan dia mendapat kesempatan diundang tampil di acara Kick Andy Show. Pada akhirnya, perjuangan Yacob pun terbayar karena mendapat beasiswa untuk menyelesaikan pendidikannya di Universitas Timor.

Setelah membaca sembari berkaca terhadap pengalaman mereka, maukah sekarang kamu untuk tak pantang menyerah dan lebih giat dalam berusaha?

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya