Doom Spending, Kebiasaan Finansial yang Bisa Buat Keuangan Babak Belur!

Wajib dihindari, ini dia dampak negatif dari kebiasaan doom spending atas kondisi keuangan!

Pernah merasa ingin belanja ketika sedang stres atau kepikiran soal masa depan? Setelah membeli sesuatu, perasaan mungkin menjadi lebih baik untuk sementara. Namun, begitu melihat saldo rekening atau tagihan kartu kredit, rasa tenang itu bisa berubah menjadi penyesalan.

Kebiasaan seperti ini belakangan sering disebut doom spending. Istilah tersebut semakin populer ketika pembahasan mengenai kondisi ekonomi, biaya hidup, dan kebiasaan finansial anak muda ramai dibicarakan di media sosial.

Namun, doom spending sebenarnya bukan istilah medis atau diagnosis psikologis. Istilah ini lebih tepat digunakan untuk menggambarkan pola konsumsi ketika seseorang menggunakan belanja sebagai cara mendapatkan kelegaan emosional di tengah stres, kecemasan, atau pesimisme terhadap masa depan.

Ulasan kali ini akan membahas lebih dalam mengenai kebiasaan finansial anak muda ini. Scroll down untuk lebih lengkapnya!

Apa Itu Doom Spending?

apa itu doom spending

Sumber gambar: Iuliia Pilipeichenko dari Pexels

Secara sederhana, doom spending adalah kebiasaan membelanjakan uang untuk mendapatkan kesenangan atau kelegaan emosional ketika seseorang merasa cemas terhadap kondisi ekonomi atau masa depan.

Misalnya, seseorang merasa khawatir karena harga kebutuhan semakin mahal dan merasa sulit mencapai tujuan finansial seperti membeli rumah. Alih-alih semakin fokus menabung, ia justru berpikir untuk menikmati uang yang dimiliki sekarang.

Akhirnya, uang digunakan untuk membeli pakaian, makanan, gadget, tiket perjalanan, atau barang lain yang sebenarnya tidak terlalu dibutuhkan.

Pembelian tersebut memang bisa memberikan rasa senang. Masalahnya, efek tersebut biasanya hanya sementara, sedangkan saldo rekening yang berkurang atau tagihan yang bertambah bisa menimbulkan masalah baru.

Kenapa Orang Bisa Melakukan Doom Spending?

penyebab doom spending

Sumber gambar: Iuliia Pilipeichenko dari Pexels

Kebiasaan Doom spending tidak selalu muncul karena seseorang sekadar ingin memiliki barang baru. Kondisi emosional dan cara seseorang memandang masa depan juga bisa berpengaruh.

Ketidakpastian ekonomi, kenaikan biaya hidup, kekhawatiran mengenai pekerjaan, hingga sulitnya mencapai tujuan finansial bisa membuat seseorang merasa masa depan semakin tidak pasti.

Dalam kondisi seperti itu, menikmati uang sekarang bisa terasa lebih masuk akal dibandingkan terus menabung untuk sesuatu yang dirasa sulit dicapai.

Namun, perlu dibedakan antara doom spending dan self reward; membeli sesuatu untuk menyenangkan diri atau bentuk apresiasi setelah mendapatkan suatu pencapaian. Membeli makanan favorit setelah hari kerja yang melelahkan tidak otomatis berarti seseorang melakukan doom spending.

Istilah ini lebih tepat digunakan ketika belanja menjadi pola berulang dan digunakan sebagai cara menghadapi stres atau kecemasan mengenai kondisi finansial dan masa depan.

Advertisements

Benarkah Gen Z Sering Melakukan Doom Spending?

Gen Z dan milenial memang sering dikaitkan dengan fenomena doom spending.

Bahkan salah satu dari Amerika; Psychologi Today menemukan bahwa 43 persen milenial dan 35 persen Gen Z mengaku melakukan doom spending untuk membuat diri mereka merasa lebih baik.

Meski begitu, angka tersebut tidak bisa digunakan untuk menyimpulkan bahwa seluruh Gen Z dan milenial memiliki kebiasaan tersebut. Data tersebut berasal dari survei terhadap responden tertentu, bukan gambaran mutlak mengenai seluruh generasi.

Penelitian yang terbit pada akhir 2025 juga mulai melihat doom spending dalam konteks perilaku pembelian impulsif Gen Z di platform e-commerce. Fenomena ini menunjukkan bahwa kebiasaan konsumsi digital masih menjadi area yang menarik untuk diteliti.

Jadi, jangan buru-buru menganggap semua anak muda yang suka belanja sebagai pelaku doom spending.

Media Sosial Bisa Ikut Mempengaruhi!

media sosial penyebab impulsive buying

Sumber gambar: V H dari Pexels

Belanja online membuat seseorang bisa mendapatkan barang hanya dalam beberapa klik. Kondisi tersebut memang praktis, tetapi juga bisa membuat keputusan impulsif menjadi lebih mudah.

Belum lagi adanya iklan yang dipersonalisasi, rekomendasi produk, konten influencer, tren media sosial, flash sale, hingga notifikasi promo yang terus bermunculan.

Ketika seseorang sedang berada dalam kondisi emosional yang kurang baik, berbagai stimulus tersebut bisa semakin mudah memicu keinginan untuk berbelanja.

Masalahnya bukan semata-mata karena media sosial atau e-commerce. Kombinasi antara kemudahan transaksi, paparan promosi, dan kondisi emosional bisa menjadi faktor lain yang membuat seseorang mengambil keputusan sebelum sempat memikirkan dampaknya.

Apa Dampak Doom Spending bagi Keuangan?

dampak doom spending

Sumber gambar: Emil Kalibradov dari Pexels

Sekali membeli sesuatu mungkin tidak langsung membuat kondisi keuangan berantakan. Namun, bagaimana jika kebiasaan tersebut terus repetitif?

Pengeluaran kecil yang dilakukan berulang kali bisa menghabiskan uang yang sebenarnya bisa digunakan untuk kebutuhan lain. Misalnya, dana darurat, tabungan, pendidikan, investasi, atau kebutuhan sehari-hari.

Selain itu, Doom spending adalah kebiasaan yang juga berpotensi menciptakan lingkaran yang tidak sehat.

Bayangkan; Seseorang merasa stres, kemudian berbelanja agar merasa lebih baik. Setelah itu, ia melihat saldo berkurang atau tagihan meningkat dan kembali merasa cemas. Jika pola tersebut terus berulang, belanja akhirnya menjadi salah solusi utama untuk mengatasi emosi negatif.

Doom Spending vs Impulse Buying, Apa Bedanya?

doom spending vs impulsive buying

Sumber gambar: Iuliia Pilipeichenko dari Pexels

Doom spending dan impulse buying memang memiliki hubungan, tetapi keduanya pada dasarnya tidak sama.

Impulse buying di sini adalah pembelian spontan yang tidak direncanakan sebelumnya. Seseorang bisa melakukan impulse buying karena melihat diskon, tertarik dengan sebuah produk, atau tergoda promosi.

Sementara itu, doom spending lebih menyoroti alasan emosional di balik perilaku belanja, terutama ketika seseorang menggunakan konsumsi sebagai respons terhadap stres, kecemasan, atau pesimisme mengenai masa depan.

Jadi, seseorang bisa melakukan impulse buying tanpa mengalami doom spending. Sebaliknya, doom spending juga bisa melibatkan pembelian impulsif.

Bagaimana Cara Mengurangi Doom Spending?

cara mengatasi doom spending

Sumber gambar: Edward Howell dari Pexels

Kalau kamu merasa sering berbelanja ketika sedang stres atau cemas, langkah pertama adalah mencoba mengenali pemicunya.

Sebelum checkout, coba beri jeda dan tanyakan kepada diri sendiri: apakah barang ini benar-benar dibutuhkan, apakah pembeliannya sudah direncanakan, dan apakah pengeluaran tersebut akan mengganggu kebutuhan lainnya?

Cara sederhana seperti menunda pembelian selama beberapa jam atau satu hari juga bisa membantu mengurangi keputusan spontan.

Kamu juga bisa mengurangi pemicu konsumsi dengan mematikan notifikasi promo, berhenti mengikuti akun yang terlalu sering memunculkan rekomendasi belanja, atau menghapus aplikasi belanja untuk sementara.

Namun, mengatur keuangan bukan berarti harus melarang diri sendiri menikmati hasil kerja. Membuat anggaran yang realistis dan tetap menyediakan sejumlah uang untuk hiburan bisa menjadi cara yang lebih sehat dibandingkan menerapkan aturan yang terlalu ketat.

Belanja Bukan Masalah, Tapi Polanya Perlu Kamu Perhatikan!

belanja bukan kebiasaan buruk asal diatur dengan baik

Sumber gambar: Vitaly Gariev dari Pexels

Doom spending menunjukkan bahwa hubungan seseorang dengan uang tidak selalu berkaitan dengan angka di rekening. Kondisi emosional, tekanan ekonomi, dan cara seseorang memandang masa depan juga bisa mempengaruhi keputusan finansial.

Istilah ini memang sering dikaitkan dengan Gen Z dan milenial, tetapi bukan berarti semua anak muda melakukan doom spending.

Yang perlu diperhatikan adalah ketika belanja mulai menjadi pelarian setiap kali muncul stres atau kecemasan. Jika kebiasaan tersebut membuat kondisi keuangan semakin sulit dikendalikan, sudah waktunya mengevaluasi kembali pola pengeluaran.

Menikmati hasil kerja tentu tidak salah. Namun, akan lebih baik jika kesenangan hari ini tetap tidak mengorbankan kebutuhan dan keamanan finansial di masa depan. Semoga bermanfaat.

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

Senior content writer - Wordsmith with 10 years experience. I do write everything; lifestyle, technology, finance, economic, entertainment, business, viral things, etc.

Editor

Seorang SEO Specialist dan Editor dengan pengalaman lebih dari 5 tahun dalam optimasi website, pengelolaan konten, dan peningkatan performa SEO secara organik.