Tak berlebihan bila menyebut dunia kerja sebagai perwujudan ‘homo homini lupus’ yang sesungguhnya. Di dunia kerja, kamu dituntut untuk memberikan performa terbaik agar tidak tersingkir oleh kandidat lainnya. Panasnya kursi yang ditempati ini, membuat orang melakukan apa saja untuk mempertahankan pekerjaan. Karenanya, kamu tak perlu terlalu baik, sebab kita memang dituntut untuk garang di dunia kerja.

Menjadi orang terlalu baik di dunia kerja hanya akan membuatmu rentan dimanfaatkan. Karena dunia kerja itu terkadang memang kejam, kamu harus membangun batas yang tegas di sana. Kenali setiap tanda-tanda, agar kamu tidak terjebak menjadi orang yang dimanfaatkan entah itu oleh rekan kerja ataupun oleh perusahaan. Sebab meskipun kamu butuh pekerjaan, bukan berarti kamu rela diperlakukan semena-mena.

Ini tujuh tanda kamu sedang dimanfaatkan. Waspadai dari sekarang!

1. Selalu menjadi andalan di kantor memang membuat bangga. Tapi pastikan kamu tahu bedanya jadi andalan dan jadi pesuruh biasa

Selalu dijadikan andalan untuk hal apapun via stocksnap.io

Ketika kemampuanmu diakui, kamu akan dipercaya untuk mengerjakan banyak hal. Ini itu yang kamu kerjakan tidak pernah mengecewakan. Masalah-masalah yang diluar jobdesk juga sukses kamu bereskan. Dalam hal ini, kamu segera menjadi sosok hebat, bagai superhero yang selalu bisa diandalkan. Memang terlihat hebat, sekilas. Namun terlalu diandalkan juga tidak selamanya menjadi hal positif. Bila ini itu harus kamu yang mengerjakan dan segala persoalan kamu harus turun tangan untuk memberi bantuan, meski dengan alasan yang membuat hidungmu kembang kempis, apakah itu artinya kamu dianggap bisa disuruh-suruh semaunya.

2. Rekan kerja yang selalu memuji justru patut diwaspadai. Selalu berusaha menyenangkan hatimu, adalah tanda orang yang senang mengambil keuntungan

Advertisement

Pujian bermanis-manis yang ujungnya hanya minta bantuan via www.playbuzz.com

Saling menjilat adalah hal biasa dalam dunia kantor. Terkadang cara itu memang ditempuh untuk sekadar mengamankan posisi. Bila kamu punya teman yang begitu murah memberi pujian, selalu bersikap manis, dan beramah-tamah yang terasa berlebihan, rekan kerja yang seperti itu justru harus kamu waspadai. Menguasai seseorang tak harus dengan dominasi atau kekerasan. Dengan membuat hatimu selalu senang, dia justru sedang menguasaimu secara perlahan. Ketika dia meminta bantuan kelak, kamu pun akan kesulitan untuk menolak.

3. Dalam kantor profesional, jobdesk yang jelas itu mutlak hukumnya. Karena terlalu sering diminta mengerjakan yang bukan tugasmu, adalah tanda kantor mengeksploitasi kemampuanmu

Pekerjaan di mejamu seakan tak pernah habis via www.huffingtonpost.com

Sebuah jobdesk disusun untuk membuat SOP atau sistem kantor berjalan. Dengan begitu, kantor bisa beroperasi dengan baik. Sejak awal menanda tangani kontrak kerja, kamu sudah sepakat dengan seperangkat jobdesk yang menjadi tanggung jawabmu. Pada praktiknya, barangkali dalam situasi darurat atau sekadar membantu rekan kerja yang kesulitan, terkadang kamu harus mengerjakan sesuatu yang bukan tugasmu. Namun terlalu sering diminta mengerjakan apa yang bukan jobdeskmu harus mulai dipikirkan. Selain menghambat pekerjaanmu sendiri, itu juga tanda bahwa perusahaan sedang mengeksploitasi kemampuanmu. Bukankah jelas menguntungkan bila kamu bisa menyelesaikan dua pekerjaan yang harusnya dikerjakan oleh dua orang? Ibaratnya belanja, beli satu gratis satu.

4. Teman-temanmu pinjam ini itu darimu dan lupa mengembalikannya. Meski tiap hari bertemu di kantor, jika kamu segan meminta balik, barangmu pasti sering tak kembali

Ekspresi temanmu saat sedang meminjam sesuatu via duapah.com

“Pinjam yaaa…”

Yang namanya meminjam seharusnya ada proses mengembalikan. Namun ada juga orang yang selalu lupa (atau pura-pura lupa) mengembalikan apa yang sudah dipinjamnya. Mulai dari pulpen, chager HP, hingga hal-hal besar seperti uang. Gabungan antara dia yang suka mengambil keuntungan dan kamu yang selalu segan minta barangmu dikembalikan, jadilah kombinasi yang sempurna. Tak heran bila banyak juga yang meminjam uang darimu dan entah kapan akan mengembalikan. Meski saling membantu itu adalah seni hidup bersama di dunia, namun jangan biarkan orang menganggapmu remeh hanya karena mudah mengikhlaskan.

5. Ketika bekerja dalam kelompo, kamu yang harus bekerja paling banyak. Mulai dari cari data hingga bikin slide presentasi. Tapi saat perayaan kita, dia datang menuntut pengakuan yang sama

Tidak mau kerja tapi menuntut diakui via www.eldigitalcastillalamancha.es

Pernahkah kamu mengalami momen-momen ketika kamu bekerja keras menyiapkan segala sesuatu sendiri, tapi tiba-tiba orang datang dan mengakui hasil kerjamu sebagai hasil kerja tim? Sementara kamu yang terlalu baik hati, memilih bersikap ‘ya sudahlah, toh ini memang kerja tim’. Kamu yang enggan terlibat konflik memilih iya-iya saja, dan membiarkan dia mendapat pengakuan padahal dia tidak menyumbang apa-apa. Sekali kamu melakukan ini, maka kamu akan mendapatkan perlakuan yang sama berkali-kali. Menghargai diri sendiri itu penting, caranya dengan tidak memberi kesempatan kepada orang untuk mengakui hasil kerjamu sendiri.

6. Seringkali lembur tak berbayar atas dasar loyalitas. Kamu perlu cek lagi apa memang beban kerjamu yang terus membludak itu bagian dari kontrak yang sudah kamu tandatangani

Pekerjaan terlalu banyak sampai kamu tak punya waktu untuk diri sendiri via www.huffingtonpost.ca

Jam kerja seharusnya selesai pukul 5 sore, tapi kamu masih sibuk sampai jam 9 malam. Akhir pekan yang seharusnya untuk beristirahat atau bersenang-senang kamu gadaikan dengan alasan banyak pekerjaan yang harus dibereskan. Beban pekerjaan yang terlalu membludak membuat hidupmu tersita sepenuhnya. Waktu istirahatmu dikorbankan. Pekerjaan membayangimu mulai dari bangun tidur hingga bersiap tidur lagi. Orang menyebut ini sebagai loyalitas. Namun pikirkan sekali lagi apakah setara apa yang kamu berikan dan korbankan dengan apa yang kamu dapatkan? Layaklah kamu menjawab pertanyaan Bob Sadino yang terkenal:

kamu kerja atau dikerjain?

7. Pengajuan cuti yang sulitnya minta ampun juga menjadi tanda kantormu tidak peduli kesejahteraan. Bagaimanapun cuti adalah hak setiap karyawan

Kamu berhak ambil cuti via www.cosmopolitan.co.uk

Berdasarkan Undang-Undang Ketenagakerjaan, setiap karyawan berhak mendapatkan cuti setidaknya 12 hari dalam satu tahun. Pelaksanaannya disesuaikan dengan kebijakan masing-masing perusahaan, biasanya karyawan baru boleh mengambil cuti setelah satu tahun masa kerja. Saat kamu sudah memenuhi syarat namun pengajuan cutimu selalu dipersulit dengan berbagai alasan, itu artinya kantormu tidak memberikan hak yang seharusnya kamu terima, padahal beban kerja sudah kamu penuhi semua.

Dunia kantor adalah dunia persaingan. Tidak mengajarimu untuk menjadi sosok egois, namun mencegah diri agar tidak dimanfaatkan orang lain merupakan wujud penghargaan terhadap diri sendiri. Bersikap baik harus ada batasnya. Sebab bermanfaat untuk orang lain jelas jauh berbeda dengan selalu jadi orang yang dimanfaatkan.