Di Balik Kerelaan Orang Bayar Lebih untuk Produk Ramah Lingkungan, Apakah Worth It?

Produk green ramah lingkungan

Apa yang jadi pertimbangan utama SoHip ketika membeli barang?

Ada yang langsung menimbang harga, ada juga yang mengedepankan merek, pun mereka yang lebih percaya dengan review atau ulasan pengguna lain. Tiap orang pasti punya pertimbangan masing-masing dalam melakukan pembelian. Hal-hal yang dipertimbangkan itu juga akan berubah seiring perubahan kondisi keuangan atau prioritas tiap-tiap orang. Nah, beberapa tahun belakangan, ada sebuah fenomena menarik nih yang tampaknya semakin mempengaruhi keputusan banyak orang dalam membeli barang atau produk yaitu label ‘hijau’.

Di era di mana perubahan iklim dan kerusakan lingkungan semakin menjadi-jadi, pasar untuk produk-produk yang punya klaim ramah lingkungan terus berkembang. Ada produk yang bungkusnya bisa didaur ulang, ada juga produk dengan bahan-bahan organik dan diproduksi tanpa merusak lingkungan. Produk ramah lingkungan berlabel ‘green‘, ‘eco-friendly‘, maupun ‘sustainable‘ ini, nggak hanya menjual fungsi tapi juga value atau makna bahwa pembelian SoHip berkontribusi untuk menyelamatkan lingkungan.

Sekecil apa pun, segala upaya melindungi lingkungan memang patut diapresiasi dan diikuti. Namun dengan harga produk-produk berlabel ramah lingkungan yang hampir selalu di atas rata-rata, pasarnya jadi sangat terbatas hanya untuk mereka yang mampu dan mereka yang rela. Bukan bermaksud mengkritik gimana sih, tapi penting untuk bisa melihat gerakan ini dengan kritis. Seperti kira-kira kenapa harganya mahal dan bagaimana pula membedakan mana produk atau perusahaan ‘hijau’ yang benar-benar bisa membawa perubahaan dibanding yang sekadar gimmick semata.

ADVERTISEMENTS

Saat ini, tampaknya tidak ada orang yang menolak ajakan untuk berbuat baik terhadap lingkungan. Namun, ada yang rela lebih repot atau bayar lebih mahal, ada yang tidak

Di Balik Kerelaan Orang Bayar Lebih untuk Produk Ramah Lingkungan, Apakah Worth It?

Nyatanya, kini memang masih butuh uang lebih untuk jadi lebih ramah lingkungan | Photo by Anna Oliinyk on Unsplash

Dampak kerusakan lingkungan kini semakin sering dirasakan dalam keseharian kita. Tidak perlu lagi melihat fenomena melelehnya es di kutub utara, fenomena cuaca ekstrem terjadi hampir sepanjang tahun di berbagai belahan dunia. Dari banjir bandang, angin kencang, rekor suhu panas terus dipecahkan dari tahun ke tahun,  sampai wilayah yang tidak pernah bersalju tiba-tiba bersalju. Orang-orang di negara dengan dua musim seperti Indonesia saja, sering dibikin kebingungan batas antara musim kemarau dan penghujan yang kini seakan-akan bercampur tak pasti.

Dengan sederet bukti tak terbantahkan dari kerusakan alam itu, semua orang tampaknya akan setuju bahwa kita harus segera bertindak untuk mengatasi kerusakan alam. Dilansir dari laman Tempo , sebuah studi global menunjukkan masalah lingkungan jadi prioritas yang semakin penting, terutama bagi anak muda yang memiliki kekhawatiran besar akan dampaknya di masa depan. Dalam survei yang berbeda di Indonesia, masih dilansir dari laman Tempo, 89% warga Indonesia mengaku sangat khawatir akan dampak perubahan iklim. Namun, hanya 23% yang meyakini kita sepenuhnya bertanggung jawab atas kerusakan alam itu.

Hal tersebut juga diungkap pada penelitian global yang dilakukan Unilever, dari 20,000 kosumen 33% diantaranya mengaku lebih memilih produk dari merek yang mendukung kelestarian lingkungan. Hal tersebut membuktikan bahwa sebenarnya orang-orang memiliki kepedulian terhadap lingkungan, tapi belum sepenuhnya bisa menggunakan produk-produk yang ramah lingkungan. Alasannya, karena tidak semua orang memiliki kemampuan untuk mendapatkan produk tersebut, misalnya soal harga.

ADVERTISEMENTS

Baik konsumen maupun pebisnis menganggap produk yang memiliki green value sebagai nilai lebih, terutama di masa depan

Di Balik Kerelaan Orang Bayar Lebih untuk Produk Ramah Lingkungan, Apakah Worth It?

Tas belanja dari kain sekarang lebih diminati | Credit by Sam Lion on Pexels

Green value atau makna hijau yang berarti ramah lingkungan saat ini menjadi perhatian banyak orang. Produk-produk yang memiliki green value misalnya yang memiliki label “green”, “eco-friendly”, “organic” dan “sustainable” dinilai membawa kebaikan untuk lingkungan. Dilihat muai dari bahan dasarnya, proses produksi, manfaat, kemasan, hingga soal limbah. Sebagai konsumen, tentu jika bisa kita lebih memilik produk-produk yang memiliki green value, kan?

Sayangnya, produk-produk yang memiliki green value dinilai lebih mahal dari produk biasa. Apalagi jika dari merek-merek yang sudah mencantumkan label “green”, “eco-friendly”, “organic” dan “sustainable” secara resmi. Sebab, merek yang mencantumkan label tersebut harus terverifikasi secara resmi oleh lembaga pengawas demi menjaga keasliannya. Produk juga diawasi secara ketat dari pemilihan bahan baku, proses produksi, pengolahan limbah, pengemasan hingga sampai di tangan konsumen untuk menjamin benar-benar “green”, jadi nggak hanya untuk gimmick konten marketing saja.

Melansir dari The Conversation , produksi yang ramah lingkungan membutuhkan biaya yang lebih mahal dari produksi konvensional biasa. Hal tersebut karena produk-produk ramah lingkungan butuh pengolahan limbah, bahan baku yang cukup langka dari pada bahan kimia dan proses yang biasanya lebih lama. Belum lagi jika produk memiliki kampanye lingkungan misalnya penanaman pohon, daur ulang limbah plastik dan sebagainya.

Di Balik Kerelaan Orang Bayar Lebih untuk Produk Ramah Lingkungan, Apakah Worth It?

Produksinya masih terbatas dan tidak massal, makanya mahal | Credit by Karolina on Pexels

Apalagi seiring semakin parahnya kondisi iklim dan alam, tidak bisa dimungkiri jika peminat produk yang memiliki green value semakin meningkat. Orang yang nggak tahu harus berbuat apa untuk membantu menyelamatkan lingkungan, akan mengambil bagian dengan cara membeli produk yang ramah lingkungan. Permintaan produk yang memiliki green value merupakan peluang bagi pebisnis. Namun, dari kaca mata pebisnis hal ini bukan sekadar tren saja, sebab kesadaran akan pentingnya upaya penyelamatan lingkungan juga menjadi bagian dari rencana bisnis jangka panjang.

Pebisnis yang memiliki orientasi pada lingkungan akan menjadi produsen yang bijak dengan menerapkan green value pada produknya. Hal ini menjadi  misi  jangka panjang yang membuat produk harus berbenah dengan cara memberikan dampak yang baik bagi lingkungan. Misalnya memperbarui sumber daya alam setelah menggunakannya untuk bahan produksi, mengolah limbah dan memberikan kemasan produk yang ramah lingkungan. Sebab, jika alam rusak karena proses produksi maka bisnis tidak bisa bertahan lama. Hal inilah yang membuat pebisnis semakin ramai menerapkan green value pada produk-produk mereka.

Siapa nih, yang nggak mau punya bisnis yang berkelanjutan alias tahan lama?

ADVERTISEMENTS

Bukan ditempeli label ramah lingkungan atau ‘hijau’ di permukaannya aja ya, pilihlah produk yang benar-benar sustainable dan berdampak

Saat bicara produk ramah lingkungan kamu akan menemukan label “green”, “eco-friendly” dan “sustainable”. Sekilas ketiganya memiliki kesamaan, yakni sama-sama memiki green value. Namun, kamu perlu mencermatinya lebih dalam untuk menemukan perbedaannya sehingga bisa menemukan produk terbaik. Melansir dari Ecocult , produk green sesuai namanya yang berarti hijau dan dimaknai sebagai produk yang membawa manfaat untuk lingkungan. Sementara eco-friendly adalah produk yang tidak merusak lingkungan, contohnya alat makan yang bisa dipakai berkali-kali tanpa menghasilkan limbah, kemasan non-plastik, dan sebagainya.

Kedua produk tersebut berbeda dengan sustainable. Sesuai namanya, produk ini memiliki makna berkelanjutan dalam bisnis dan produk yang diciptakan. Makna berkelanjutan pada produk sustainable memiliki prinsip yang cukup kuat. Melansir dari You Matter , John Elkington seorang pakar dan konsultan sustainable business and product memaparkan produk yang sustainable harus mengacu pada Triple Bottom Line. Prinsip tersebut dikenal dengan istilah 3p yakni profit, people and planet atau bisa kita sebut juga dengan prinsip ekonomi, sosial dan lingkungan. Ketiga prinsip ini harus dipenuhi oleh suatu produk supaya bisa dikatakan sustainable.

Kalau kamu bingung, produk yang kamu pakai udah sustainable atau belum, coba cek di sini ya!

Di Balik Kerelaan Orang Bayar Lebih untuk Produk Ramah Lingkungan, Apakah Worth It?

Cek bisnis atau produk yang kamu pakai udah sustainable belum | illustration by Hipwee

  • Prinsip ekonomi

Setiap bisnis atau produk yang dijual pasti memiliki tujuan untuk mendapatkan keuntungan. Dalam prinsip ini, produk harus bisa mendapat keuntungan yang sesuai dengan nilai yang mereka berikan. Supaya prinsip ekonomi bisa terus berkelanjutan, maka produksinya harus mengacu pada efisiensi bahan dan tenaga, alias nggak boleh pemborosan tapi produk harus bagus dan tetap cuan~

  • Prinsip sosial

Bisnis atau produk harus memberikan dampak sosial, misalnya dengan mempekerjakan disabilitas, pemberdayaan masyarakat, kesejahteraan petani atau nelayan lokal dan sebagainya. Biasanya saat diterapkan dalam produk akan dipraktikan dalam bentuk kampanye kesejahteraan sosial. Saat ini muncul juga istilah Fair Trade atau produk yang mengutamakan keadilan bagi seluruh stakeholders dari hulu hingga hilir rantai produksi sampai produk diterima konsumen.

  • Prinsip lingkungan

Produk yang terbuat dari sumber daya alam harus bisa memberikan kontribusi pada alam pula. Minimal, produk harus bisa memperbarui sumber daya alam yang dipakai dan bisa meminimalkan pencemaran lingkungan. Misalnya, mengadakan penanaman pohon dan mengajak konsumen untuk mengumpulkan kemasan produk untuk didaur ulang.

Dalam penerapannya, ketiga prinsip tersebut harus terpenuhi semua. Jika ada yang tertinggal maka produk nggak bisa dikatakan sustainable. Sebab, makna atau dampak yang diberikan nggak bisa seimbang.

Hal itulah yang membuat produk berlabel sustainable dinilai lebih baik dibanding green dan eco-friendly, tapi bukan berarti produk itu nggak baik, ya. Deberapa bisnis berlabel green dan eco-friendly justru melakukan greenwashing. Melansir dari Sustaination , greenwashing atau memanfaatkan label ramah lingkungan untuk meningkatkan keuntungan tapi tidak benar-benar menjaga kelestarian lingkungan, cukup banyak terjadi. Misalnya, di resto cepat saji yang menggunakan kemasan eco-friendly untuk produk mereka dengan klaim gerakan ramah lingkungan, tapi justru melakukan banyak pemborosan energi di dapur dan tidak mengelola limbah produksi dengan baik.

Nah, setelah tahu dibalik produk-produk ramah lingkungan yang sedang ramai diminati banyak orang, menurutmu worth it tidak ya, kalau ikutan tren itu? Atau kamu jadi minat untuk membuat bisnis dengan label green atau eco-freindly, bahakan sustainable? 

Baca sepuasnya konten-konten pembelajaran Masterclass Hipwee, bebas dari iklan, dengan berlangganan Hipwee Premium.

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

Penikmat buku dan perjalanan

Editor

Learn to love everything there is about life, love to learn a bit more every passing day