Rasanya tidak berlebihan jika Hipwee menyebut bahwa keberhasilan seseorang mengembangkan bisnisnya dipengaruhi oleh tiga hal: keberanian, ketekunan, dan juga keberuntungan. Namun, yang terakhir ini hanya akan datang jika seseorang memang pantas mendapatkannya.

Tiga hal ini juga yang menjadi senjata Tony Fernandes, bos maskapai penerbangan Air Asia, dalam membangun bisnisnya. Keputusan gilanya mengakuisisi perusahaan penerbangan yang hampir bangkrut berbuah manis. Di tangannya, perusahaan sekarat tersebut berubah menjadi salah satu penerbangan dengan keuntungan paling besar di Asia.

Advertisement

Perjalanan sukses Tony Fernandes dalam menggapai kesuksesan begitu menarik untuk ditelusuri. Kali ini, Hipwee sengaja merangkum kisahnya melalui tulisan satu ini:

Lahir sebagai minoritas di Malaysia, keluarga Tony tak bisa bekerja untuk pemerintah atau bidang seenak mereka. Ibu Tony pun memutuskan berdagang, dan dari sinilah insting pebisnis Ton terasah tajam

lahir dari ibu pebisnis

lahir dari ibu pebisnis via skift.com

Anthony Francis Fernandes adalah seorang pria keturunan Bangsa Goa yang lahir dan besar di Kuala Lumpur. Ayahnya sendiri berprofesi sebagai seorang dokter bernama Stephen Edward Fernandes dan ibunya bernama Ena Dorothy Fernandes. Darah bisnis yang mengalir di tubuh Tony bisa dibilang berasal dari sang ibu yang sejak dulu sudah memiliki bisnis kecil-kecilan.

Sedari masih kecil Tony sudah sering mengikuti ibunya menjalankan bisnisnya. Ia terbiasa membantu sang ibu berkeliling menjual barang dagangan yang mereka miliki. Kebiasaan inilah yang bisa jadi membuat Tony memiliki ketertarikan khusus pada dunia bisnis. Bahkan ketika memasuki dunia kuliah Tony secara mantap mengambil jurusan Ekonomi di London School of Economics.

Advertisement

Ketika menempuh pendidikan di universitas di London inilah sebetulnya Tony sudah berpikiran bahwa suatu hari nanti ia ingin membangun sebuah bisnis maskapai penerbangan berbiaya rendah. Alasannya cukup sederhana, mahalnya tiket London-Kuala Lumpur membuat Tony tidak bisa pulang seenaknya. Rasa rindu pada rumah dan keluarga harus ditahan karena ia tidak memiliki uang yang cukup untuk membeli tiket penerbangan yang harganya begitu mahal. Dari sinilah ia berpikiran, betapa enaknya jika suatu saat nanti ada pesawat yang bisa mengakomodasi kebutuhan masyarakat akan tiket berbiaya rendah.

Tony meraih gelar sarjana dan menjadi manajer di Malaysia. Namun, mimpi untuk membangun maskapai berbiaya rendah terus ia pelihara

tony fernandes nekat

tidak mau berada pada zona nyaman via skift.com

Setelah menempuh pendidikan di London dan mengantungi gelar sarjana, Tony Fernandes pun kembali ke Malaysia untuk bekerja. Di awal debut kariernya, pria cerdas ini sudah berhasil menorehkan karir cemerlang dengan berhasil menjadi manajer termuda di Warner Music Malaysia. Selama beberapa tahun selanjutnya Tony Fernandes sempat melupakan mimpi untuk membangun sebuah bisnis maskapai, karena posisinya sebagai Vice President Warner Music region Asia. Hingga pada akhirnya perusahaan tempat ia bekerja terbentur dengan masalah pembajakan sebagai akibat dari masuknya industri musik ke era internet.

Saat itu perusahaan Warner Music yang memproduksi CD dan kaset harus berhadapan dengan tingginya tingkat pembajakan sebagai akibat dari download ilegal melalui situs internet. Situasi ini menumbuhkan kembali minat Tony Fernandes untuk membangun bisnis maskapai yang telah lama ia impikan. Tony pun memilih untuk keluar dan kembali menyusun strategi bisnis maskapai impiannya. Padahal perusahaan tersebut telah memberikan banyak kenyamanan untuknya. Namun Tony Fernandes tidak lantas membiarkan dirinya tenggelam dalam kenyamanan tersebut. Ia memilih untuk keluar dan memulai merintis impian bisnisnya yang sudah cukup lama tertunda.

Dengan tabungan yang ia kumpulkan selama menjadi manajer, Tony Fernandes nekat membeli perusahaan maskapai penerbangan yang berada di ambang kebangkrutan.

pribadi yang nekat

pribadi yang nekat via www.abc.net.au

Kegilaan Tony Fernandes tidak berhenti pada keputusannya untuk keluar dari perusahaan besar yang memberikan gaji dan fasilitas nyaman. Ia juga nekat saat memutuskan membeli sebuah perusahaan maskapai penerbangan yang saat itu terlilit hutang mencapai RM 40 juta, atau setara dengan seratus milyar rupiah. Perusahaan penerbangan ini memiliki dua armada yang umurnya sudah tua, 200 orang staf, serta hanya mampu menjaring penumpang sebanyak 250.000 orang. Situasi bertambah sulit karena pada saat yang sama industri penerbangan sedang lesu sebagai akibat dari tragedi 11 September 2001.

Dengan berbagai permasalahan yang terjadi, Tony Fernandes tak ragu dengan keputusannya untuk membeli perusahaan tersebut. Ia selalu merasa yakin bahwa akan ada solusi untuk membuat bisnisnya berkembang. Padahal ketika ia mengakusisisi bisnis itu, Tony Fernandes sendiri tidak memiliki kemampuan yang kuat tentang bisnis penerbangan. Namun Tony tetaplah Tony, ia tidak sedikit pun merasa harus mengubah keputusannya. Dengan keberanian dan kemauan belajar Tony tetap mengambil alih perusahaan bermasalah tersebut untuk diubah menjadi perusahaan yang menguntungkan di masa depan.

Tony pun menemukan beberapa trik untuk menekan biaya operasional penerbangan sehingga bisa menjual tiket dengan harga yang bisa dijangkau semua orang

kecerdikan tony fernandes

kecerdikan tony fernandes via www.scmp.com

Ketika akhirnya perusahaan maskapai tersebut jatuh ke tangannya, Tony Fernandes bersama timnya mulai berpikir cara untuk menyelamatkan maskapai tersebut dari keterpurukan. Dengan spirit menciptakan pesawat berbiaya rendah, Tony Fernandes mencoba memikirkan bagaimana caranya bisa membuat penerbangan yang harganya murah.

Pertama, ia bermain pada penerbangan dengan rute pendek. Dengan begini, pilot dan pramugari yang bertugas tidak perlu menginap di kota tujuan. Selanjutnya, penjualan tiket dilakukan secara online sehingga penumpang tidak perlu membayar jasa tour dan travel. Maskapai pun tak perlu menyewa counter penjualan tiket.

Strategi terakhir adalah menyewa bandara non-utama di kota tujuan. Bandara non-utama ini menge-charge harga yang lebih rendah untuk maskapai yang ingin menerbangkan pesawatnya dari dan ke sana.

Terobosan Tony Fernandes ini sebelumnya tidak pernah dilakukan oleh penerbangan lainnya. Ketika banyak low-cost carrier tumbuh di bagian dunia yang lainnya, pola yang sudah dibangun Tony inilah yang ditiru. Inilah asal muasal mengapa terbang naik pesawat sekarang tak menjadi milik kaum berdasi saja, melainkan juga anak muda dan rakyat dengan ekonomi sederhana.

Tony Fernandes berhasil membuktikan bahwa pengusaha sukses tak hanya harus punya modal finansial saja. Ia juga harus modal nekat jika ingin perusahaannya jadi salah satu yang tersukses di dunia

paling sukses di dunia

paling sukses di dunia via www.japantimes.co.jp

Pada awal sepak terjangnya, banyak pihak meyakini bahwa bisnis Tony hanya akan bertahan selama tiga bulan. Tapi pada kenyataannya prediksi itu meleset. Bisnis penerbangan berbiaya rendah besutan Tony terus meroket ke puncak keberhasilan. Dari tahun ke tahun maskapai ini terus berkembang dan mendatangkan banyak keuntungan. Pada tahun 2013 lalu, perusahaan yang tadinya hanya memiliki dua pesawat saja kini sudah bertambah hingga 103 buah pesawat.

Selain itu jika pada awalnya Air Asia juga hanya memiliki 200 orang staf kini maskapai tersebut sudah memiliki lebih dari 10.000 orang karyawan. Berkembangnya bisnis penerbangan ini juga ditandai dengan semakin banyaknya jumlah penumpang yang pada awalnya berjumlah 250.000 orang menjadi 200 juta penumpang (tahun 2013) . Dengan kemampuan dan kemauannya bekerja keras menjadikan Tony Fernandes sebagai salah satu pebisnis yang keberhasilannya cukup diperhitungkan di kancah dunia.

Kisah sukses Tony Fernandes dalam membangun bisnisnya membuat kita semakin yakin bahwa ilmu yang tinggi saja tidak cukup untuk mengantar kesuksesan. Tapi keberanian dan kerja keras adalah kunci utama untuk mewujudkan semuanya.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya