4 Tips Expert Hidroponik untuk Pemula, Biar Bisa Bercocok Tanam di Rumah Saja

Tips Hidroponoik

Bisa bercocok tanam di rumah merupakan suatu keberuntungan. Setidaknya kita bisa mengolah makanan dari halaman sendiri. Namun, tidak semua orang bisa menanam atau berkebun di rumah karena keterbatasan lahan. Teknik menanam hidroponik alias menanam tanpa tanah adalah salah satu alternatif yang bisa dilakukan. Pertanian hidroponik bertumpu pada air sebagai penyalur nutrisi dan unsur hara yang dibutuhkan oleh tanaman. Alih-alih tanah, dengan hidroponik kamu bisa menanam dengan medium rockwool, sabut kelapa, arang, serutan kayu, atau bahkan hanya menggunakan air saja.

Hidroponik ini sering disebut-sebut sebagai pertanian masa depan, lho. Selain tidak butuh lahan luas atau tanah, ada banyak keuntungan bercocok tanam secara hidroponik. Mulai dari masa panen lebih cepat, fleksibilitas untuk menanam apa saja tanpa perlu mengkhawatirkan cuaca, lebih hemat air, dan masih banyak lagi. Nah, untukmu yang sedang mencoba bercocok tanam secara hidroponik, tips-tips berikut ini bisa kamu terapkan.

1. Menggunakan alat-alat yang sudah ada di rumah

gunakan alat sederhana | fongleon356 / iStockphoto via www.hipwee.com

Untuk percobaan pertama, gunakan alat-alat yang sudah ada di rumah. Hal ini untuk menghindari kerugian jika percobaan pertamamu gagal. Sehingga potensi kerugiannya juga kecil. Sayang bukan kalau sudah beli ini dan itu, tetapi nanti gagal panen karena kamu masih di tahap belajar? Nah, manfaatkan saja dulu benda-benda yang ada di rumah. Kamu bisa menggunakan paralon bekas atau bambu yang sudah tidak digunakan sebagai tempat menanam. Lalu untuk medianya, gunakan bahan-bahan sederhana seperti sabut kelapa atau arang. Seiring berjalannya waktu, ketika kamu sudah lebih paham teniknya, baru deh menggunakan bahan-bahan yang memang dibeli secara khusus untuk bercocok tanam di dalam ruangan.

2. Untuk pertama kali, coba dengan tanaman-tanaman yang mudah

Pilih sayuran hijau yang mudah perawatan | Jatuphon Buraphon / https://www.pexels.com/ via www.hipwee.com

Sebagai metode pertanian, hidroponik juga memiliki kriteria tanaman tertentu yang paling pas digunakan. Tanaman yang cocok untuk hidroponik antara lain jangka usianya pendek, merupakan tanaman semusim, dan pohonnya juga tidak terlalu besar. Nah, untuk percobaan pertama, pilih tanaman yang mudah dibudidayakan serta tahan banting, alias tidak mudah terserang penyakit. Tanaman sayur hijau cocok untuk kamu coba, misalnya kangkung dan selada. Lalu tanaman buah seperti tomat dan terung juga cukup mudah perawatannya.

3. Perhatikan kualitas air yang digunakan

Alat digital pengukur pH air | YakubovAlim / iStockphoto via www.hipwee.com

Air menjadi elemen terpenting dalam hidroponik, karena airlah yang akan menghantarkan nutrisi pada tanaman. Yang pertama-tama harus diperhatikan adalah pH air. Jika kita menanam di tanah, kita mungkin tidak terlalu memikirkan pH, meskipun terkadang butuh upaya untuk menetralkan pH tanah agar tanaman tumbuh lebih subur. Saat kita bercocok tanam secara hidroponik, kita perlu mengecek pH tanah secara rutin untuk memastikan pH-nya netral, yaitu 5,5 – 7,5. Karena hal itu menentukan kualitas air yang kita gunakan juga. Jika perlu, penambahan zat kimia untuk menetralisir pH air bisa dilakukan. Selain pH, kandungan air juga harus dipikirkan. Jangan menggunakan air yang kaya mineral. Karena meskipun baik untuk tubuh kita, air kaya mineral nggak akan mampu mengolah nutrisi untuk tanaman secara efektif.

4. Pastikan tanamanmu cukup mendapat cahaya

Pencahayaan yang cukup | baza178 / iStockphoto via www.hipwee.com

Kamu pasti ingat kan bahwa tanaman butuh cahaya untuk berfotosintesis dan bertumbuh? Jika kamu menanam di luar ruangan, pastikan tanamanmu mendapatkan cukup sinar matahari. Namun, jika kamu menanam di dalam ruangan, kamu bisa mengakalinya dengan menggunakan cahaya lampu. Untuk pertanian hidroponik skala kecil alias di rumah, kamu bisa menggunakan lampu LED untuk hasil yang paling optimal dan efisien. Lampu LED bisa bertahan lama, tidak terlalu panas, dan memiliki spektrum pencahayaan yang luas. Berbeda dengan lampu pijar–atau yang sering kita sebut bohlam–yang terlalu panas sehingga kurang baik untuk pencahayaan hidroponik.

Selain lampu LED, kamu juga bisa memanfaatkan lampu UV, lho. Hal yang sama juga dilakukan oleh Pusat Pelatihan Pertanian & Pedesaan Swadaya (P4S) Buana Lestari di Wisata Edukasi Tani Terpadu (WETT) Betet, Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur. Bekerja sama dengan PLN yang mengembangkan electrifying agriculture, para petani memanfaatkan sinar UV untuk pertanian hidroponiknya. Hasilnya, produktivitas pertanian di desa Betet pun meningkat

Omong-omong soal electrifying agriculture, kamu sudah tahu belum tentang yang satu ini? Bukan hanya untuk sumber energi pencahayaan dalam pertanian hidroponik, kita juga bisa memanfaatkan listrik untuk pertanian secara konvensional, lho. Itulah yang disebut dengan electrifying agriculture, di mana alat-alat pertanian yang digunakan bersumber pada energi listrik. Mulai dari pompa listrik, manipulasi cahaya untuk fotosintesis, lampu pengusir hama, dan lain sebagainya.

Beberapa tahun ini, PLN memang tengah mendorong penerapan electrifying agriculture untuk membantu para petani di sektor agraris. Hal ini sudah terbukti berhasil, lho. Misalnya, petani buah naga di Mojokerto mendapatkan omzet 3x lipat lebih besar dengan penerapan electrifying agriculture yang dijalankan oleh PLN. Hal yang sama juga terjadi pada petani buah naga di Pulau Seram yang mengalami peningkatan omzet 150% dengan adanya electrifying agriculture dari PLN. Lalu yang terbaru, electrifying agriculture yang digiatkan oleh PLN juga meningkatkan produktivitas petani di Buleleng. Electrifying agriculture ini merupakan penyaluran dana dari PLN untuk sektor pertanian. Tak hanya meningkatkan omzet, electrifying agriculture juga lebih hemat, ramah lingkungan, serta lebih efisien. 

Dengan adanya electrifying agriculture ini, tentunya masa depan pertanian kita bisa lebih indah. Karena selain lebih hemat dan efisien, listrik juga merupakan bentuk energi yang lebih “awet” dibandingkan minyak bumi dan gas seperti yang digunakan pada pertanian pada umumnya. Hal ini tentu karena listrik dapat dihasilkan dari sumber-sumber energi yang dapat diperbarui seperti PLTU, PLTA, dan lain sebagainya. 

Nah, kamu bisa mulai duluan nih untuk memanfaatkan listrik sebagai sarana pertanian hidroponikmu. Langkah pertama yang harus dilakukan adalah memastikan daya listrik di rumahmu cukup, ya. Unduh aplikasi PLN Mobile untuk kemudahan urusan elektrisitas kamu sehari-hari. Di PLN Mobile kamu bisa melakukan berbagai keperluan seperti menambah daya listrik, melakukan pembayaran untuk layanan pascabayar, pembelian token listrik, hingga melaporkan gangguan. Yuk, unduh PLN Mobile di Google Play Store atau Apple App Store

Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

Kopito Ergo Sum -- Aku minum kopi maka aku ada.

Editor

Penikmat kopi dan aktivis imajinasi