Berdebatlah. Dengan berdebat, kamu bisa bertukar pikiran dan memperluas wawasanmu. Dan ini tepat banget kamu lakukan di masa-masa sekarang, saat kampanye pilpres sedang seru-serunya.

Tapi jangan lupa: berdebatlah secara sehat! Ya, ada banyak cara menyampaikan argumen dalam sebuah perdebatan, dan dari sekian banyak cara itu, beberapa diantaranya harus kamu hindari.

Mari kita tengok hal-hal yang harus kamu hindari itu, dimulai dari perkenalan tentang kesesatan dalam berpikir atau logical fallacy.

Advertisement

Kesesatan dalam berpikir atau fallacy adalah …

Secara sangat sederhana, kesesatan dalam berpikir bisa dipahami sebagai penyalahgunaan bahasa atau pembelokan urutan berlogika. Ini bisa dilakukan baik secara sadar atau tidak oleh pelakunya.

Contoh-contoh kesesatan logika yang umum ditemui misalnya…

1. Sebab-penyebab yang nggak nyambung

fallacy yang dikrenakan terlalu men-generalisasikan suatu hal via www.lifehacker.com.au

Hal ini biasanya dilakukan semata-mata karena suatu pihak memiliki satu dua kasus yang mendukung argumennya. Contohnya:

“Eh kemarin calon gubernur itu berencana membuat kebijakan tentang peluang usaha bagi investor asing, lalu tadi aku lihat diberita calon gubernur itu bersalaman dengan pejabat Amerika Serikat. Ahh…pasti calon gubernur itu kapitalis.”

Hmm.. jangan salah, apakah calon gubernur tersebut benar-benar kapitalis? Cermati dulu kebijakannya secara detail setelah itu telisik juga mengenai urusan apakah si calon gubernur harus berjabat tangan? Jangan-jangan itu adalah acara internasional dimana calon gubernur tersebut memang harus bersalaman dengan semua orang yang hadir.

Jangan terlalu cepat menilai, siapa tahu calon gubernur di atas sebenarnya adalah sosok yang sebaliknya.

2. Ketika argumen tidak ditujukan pada permasalahan, tetapi pada latar belakang individu

jangan menyerang latar belakang seseorang via movieboom.biz

Ini nih contohnya :

“Ahh…saya malas berdebat dengan Anda. Anda ‘kan hanya lulusan SMA.”

“Pantas saja urusan ini lama sekali selesainya. Dia kan orang Jawa!”

Ini adalah argumen yang tidak bermutu. Siapa bilang orang yang hanya lulusan SMA pasti akan memiliki kekuatan argumen yang rendah juga? Siapa bilang orang Jawa pasti lelet dalam mengerjakan sesuatu?

Jadi, jangan pernah gunakan argumen yang menyerang latar belakang lawan bicara.

3. Ketika argumen dibangun untuk menarik simpati

ketika kelemahan diri dijadikan argumen, siapa yang peduli? via listsalad.com

Hal ini sering terjadi kalau dihadapkan pada kondisi yang terhimpit, contohnya:

“Kalau buat saya mencuri sedikit wajar-wajar saja. Saya ‘kan miskin.”

“Ya wajar kalau saya tidak bisa menjawab pertanyaan beliau. Itu kan bukan bidang keahlian saya.”

Argumen-argumen yang seperti ini bertujuan supaya mendapatkan pengakuan atau pemakluman ketika sedang diserang. Orang-orang yang kurang kritis, tentu saja akan menganggap maklum dan pada akhirnya memandang secara tidak adil sebuah pertarungan argumen.

Seharusnya yang bersangkutan memiliki argumen yang lebih kuat dari sekedar mengandalkan kekurangan diri sebagai senjata dalam sebuah perdebatan.

Nah, paling tidak sekarang kamu sudah mengenali tiga macam ‘sesat pikir’ yang sebaiknya kamu hindari jika kamu ingin menyampaikan sebuah argumen yang berkualitas.

Terlepas dari apapun yang sedang kamu debatkan dengan orang lain, yuk budayakan cara berdebat secara sehat.

Ada tips dan saran lain untuk berdebat? Tolong tambahkan di kolom komentar ya.