6 Hal tentang Slow Living: Seni Menikmati Hidup yang Lambat saat Semua Serba Cepat

Mengenal slow living

Saat ini segala sesuatu berjalan dengan cepat. Persaingan semakin ketat dan kita pun dituntut untuk bergerak gesit dan tanggap. Kadang kesibukkan sampai mengorbankan kesehatan fisik, mental, bahkan mengorbankan kehidupan berketuhanan dan kehidupan sosial. Gerak cepat terus, capek nggak? Capek dong! Padahal bisa aja, bergerak cepat justru membuat kita melewatkan banyak hal yang mestinya bisa lebih dinikmati dengan sederhana. Omong-omong soal kehidupan yang serba cepat, apakah kamu pernah mengenal slow living?

Advertisement

Slow living yang kalau dibahasakan artinya menjadi ‘hidup yang melambat’. Di zaman serba cepat ini, slow living justru jadi tren baru di kalangan kaum urban yang mulai merasa lelah dengan aktivitas kesehariannya. Bukan berarti slow living ini pelarian biar bisa lelet dan malas ya!

Meski penganut slow living memang terlihat santuy banget menjalani hidupnya, tapi justru slow living ini mengajarkan kita melakukan sesuatu seperlunya, sewajarnya dan sesuai dengan kemampuan diri sendiri. Kalau biasanya kecepatan adalah tuntutan yang kadang membuat kita tergesa-gesa, maka slow living hadir sebagai lawan dari segala yang tergesa-gesa. Seperti dinukil dari Greeners, Ukke Kokasih seorang praktisi slow living di Indonesia, menjelaskan bahwa gaya hidup yang ia jalani justru mengajarkannya untuk bisa memberi arti pada setiap proses.

Di saat zaman bergerak semakin cepat, slow living justru menerapkan hidup yang lebih lambat | Photo by Kaique Rocha via www.pexels.com

Slow living sebetulnya  suatu perlawanan terhadap nation bahwa yang cepat itu yang terbaik. Jadi kita justru melakukan perlawanan terhadap gagasan faster is better dan mempertanyakan itu. Bagaimana kita mencoba memberi arti dan penuh kesadaran terhadap proses.” Tutur Ukke.

Advertisement

Nah, kalau slow living menentang proses yang serba cepat, bagaimana cara mereka bertahan hidup? Sebenarnya, slow living adalah proses menikmati hidup supaya lebih tenang dan lebih bisa memaknai kehidupan, bukan sebagai tujuan hidup, ya. Kalau tujuan hidup sih, setiap orang tentu berbeda-beda, kan? Eh, tapi jangan bingung dulu ya, kalau makin penasan bagaimana prinsip dan cara hidup yang dijalani slow living ini, kamu bisa pahami uraian berikut. Just let it flow!

1. Selalu menikmati kegiatan. Memberi perhatian lebih pada apa yang kita lakukan, nggak perlu tergesa-gesa, jadi lebih bisa memberikan makna pada hal-hal kecil

Nikmati dan rasakan perasaan yang biasanya mudah terlewatkan | Photo by Tim Douglas via www.pexels.com

Gaya hidup slow living memungkinkan kita menikmati kegiatan dan pengalaman yang dihadapi saat ini dengan kesadaran yang penuh. Artinya, bisa menikmati moment dan memberikannya arti. Misalnya saat sedang mencuci piring dan melihat airnya bersih, perabotan pun ikut bersih, kemudian bisa bersyukur. Atau makan kue favorit, pasti nikmat banget, kan? Nikmatnya akan lebih terasa kalau dimakan dengan duduk tenang, merasakan setiap gigitan sampai bisa berpikir dan menebak bahannya apa aja. Untuk itu, penganut slow living akan sangat menikmati kegiatan mereka, santai dan nggak tergesa-gesa.

2. Memahami prioritas. Lelakukan hal-hal yang perlu dilakukan saja, jadi bisa menikmati waktu dengan lebih bermanfaat

Membeli sesuatu kalau memang membutuhkan | Photo by Anna Shvets

Berkat bisa menikmati dan menyadari secara penuh apa pun yang dilakukan, slow living akan membantu kita memahami hal yang benar-benar kita perlukan, mana yang harus didahulukan dan mana yang belum terlalu dibutuhkan. Jadi meski terlihat santai, penganut slow living tetap melakukan kegiatan sebagaiman mestinya makhluk hidup untuk memenuhi kebutuhan mereka. Bahkan lebih fokus dan lebih efektif karena benar-benar disesuaikan dengan kebutuhan. Misalnya, merasa lapar harus makan, lelah harus istirahat, nongkrong kalau butuh refreshing, dan membeli sesuatu kalau benar-benar butuh.

3. Menyadari kebutuhan alam yang berkelanjutan. Slow living mengajarkan bahwa kita menikmati hasil alam, jadi kita harus merawat alam

Mengambil sesuatu dari alam secukupnya | Photo by Zen Chung via www.pexels.com

Salah satu proses penting dalam gaya hidup slow living adalah menjaga keseimbangan alam, sehingga manfaat alam bisa dinikmati secara berkelanjutan. Nggak hanya menyadari bahwa kita membutuhkan alam untuk makan, minum dan tempat tinggal, tapi juga menyadari kalau alam butuh kita untuk merawatnya. Jadi nggak ada kegiatan eksploitasi alam, cukup ambil seperlunya, konsumsi secukupnya, rawat selamanya. Hal yang bisa dilakukan misalnya menyisakan biji buah untuk ditanam setelah mengonsumsi buahnya, menggunakan produk ramah lingkungan dan melakukan daur ulang limbah.

4. Lakukan satu hal pada satu waktu. Fokus pada satu kegiatan membuat kita bisa melakukan yang terbaik

Kalau makan ya makan aja, nggak usah sambil netflix-kan~ | photo by Sam Lion via www.pexels.com

Dilansir dari Popmama, Slow living mengajarkan kita untuk bisa tekun, teliti dan fokus pada apa yang kita kerjakan. Jadi nggak ada multitasking, yang biasanya membuat hidup jadi makin tergesa-gesa dan membuat kita tidak menikmati proses. Misalnya kalau lagi makan ya, makan aja nggak usah sambil nonton serial. Kalau lagi ngumpul bareng teman, ya nikmati aja momennya, nggak usah sambil scrolling medsos. Coba deh, kalau biasanya di tempat kerja suka mikir sesuatu yang ada di rumah, atau sebaliknya, coba fokus pada hal di mana tempat kita berada. Kalau lagi di perjalanan yang nikmati aja apa yang ditemui diperjalanan, jadi hidup terasa lebih sederhana karena fokus kita nggak kemana-mana.

5. Menutamakan ketenangan. Nggak gampang kena triger yang menimbulkan perasaan khawatir dan gelisah

Mengurangi penggunaan medsos, biar nggak gampang khawatir, biar hidup lebih tenang | Photo by Alex Green via www.pexels.com

Pada prinsipnya, semua proses yang dilalui slow living adalah mengutamakan ketenangan. Dengan beralih dari kehidupan yang serba cepat ke kehidupan yang melambat, tujuannya adalah untuk menciptakan hidup yang tenang. Misalnya, mereka yang sudah menjalani slow living biasanya akan mengurangi penggunaan medsos, karena medsos kadang memberikan informasi yang toxic dan bisa mengganggu ketengan hidup. Dengan begitu slow living akan membuat kita lebih terkoneksi pada diri sendiri, jadi nggak gampang judging, nggak gampang terpancing emosi karena bisa lebih sabar, nggak gampang khawatir dan gelisah karena takut tertinggal dari yang lain.

6. Memiliki komitmen yang kuat. Slow living mengajarkan kita fokus pada apa yang ingin kita capai

Nggak ada istilah malas, kerjakan yang harus dikerjakan sampai selesai! | Photo by Ivan Samkov via www.pexels.com

Meski memilih hidup yang lebih lambat, bukan berarti slow living nggak punya target pencapaian untuk diraih, ya. Justru semakin kita melambat, semakin menikmati, dan semakin bisa fokus, maka komitmen kita pada pencapaian jadi semakin kuat. Nggak ada waktu untuk bermalas-malasan, karena hal ini bukan prioritas dalam gaya hidup slow living.

Gimana? Setelah mengenal slow living, tertarik untuk mencobanya?

Advertisement
Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

Penikmat buku dan perjalanan

Editor

Penikmat jatuh cinta, penyuka anime dan fans Liverpool asal Jombang yang terkadang menulis karena hobi.

CLOSE