Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung. Di manapun kita berada, pastikan kita bisa menyesuaikan diri dengan aturan-aturan di lingkungan kita. Nah, sebagai orang yang hidupnya tak hanya berkutat di tempat yang itu-itu saja, pastilah kamu mengerti pentingnya makna peribahasa ini.

Apalagi jika kamu termasuk anak muda yang gemar traveling. Sebelum menikmati keindahan alam atau mengisi perutmu dengan ragam kuliner suatu tempat, kamu harus bisa menunjukkan penghargaan pada masyarakat yang daerahnya sedang kamu sambangi. Nah, apakah selama ini kamu sudah memiliki kemampuan itu?

Advertisement

Dalam artikel ini Hipwee akan menjabarkan beberapa hal yang haram kamu lakukan di beberapa daerah tujuan wisata di Indonesia. Yuk, buktikan kalau kamu punya rasa hormat yang tinggi!

1. Karena kamu manusia dan bukan Dewa, kamu tak boleh mengusik sesajen di Bali.

Sesajen di Bali

Sesajen di Bali via liandamarta.com

Kamu yang sering datang ke Bali, pasti gak asing lagi dengan yang namanya sesajen. Sesajen merupakan persembahan bagi para Dewata. Kamu bisa menemukannya hampir di semua tempat — di pantai, teras rumah, juga depan toko dan penginapan. Isinya macam-macam, bahkan ada juga yang diselipi permen dan biskuit. Sesajen ini punya peran penting dalam ritual keagamaan umat Hindu.

Masyarakat Bali percaya, sangat tabu jika kita mengusik sesajen yang sudah dipersembahkan dalam ritual. Bisa-bisa kamu tertimpa musibah. Jadi, saat berkunjung ke Bali, jangan sekali-sekali mengambil atau menginjak sesajen dengan sengaja, ya!

2. Sabun mandi dan kameramu tidak akan terpakai jika kamu berkunjung ke Desa Kanekes, Jawa Barat.

Kampung suku Baduy

Kampung suku Baduy via dayensobarna.wordpress.com

Advertisement

Suku Kanekes atau yang lebih dikenal dengan Baduy adalah suku yang mengisolasi diri dari modernitas. Mereka sangat menghargai alam dan menjunjung tinggi tradisi leluhur. Desa ini tidak dialiri listrik, jadi sebaiknya kamu mematikan perangkat elektronikmu. Suku Baduy Dalam juga sangat tabu untuk difoto.

Hal lain yang tidak diperbolehkan saat mengunjungi Desa Kanekes adalah kamu dilarang menggunakan sabun untuk mandi, karena mereka beranggapan bahwa sabun akan mencemari air. Untuk mandi, cukup basuh dirimu dengan air ya.

3. Apapun agamamu, dan meski kamu tidak berada di tempat ramai, hindari mengenakan pakaian ketat di Aceh.

Razia pakaian ketat

Razia pakaian ketat di Aceh via id.berita.yahoo.com

Daerah yang dijuluki Serambi Mekkah ini adalah provinsi satu-satunya yang mengukuhkan aturan Syariat Islam sebagai Perda. Makanya, cara berpakaian dan bertingkah laku pun sangat ditentukan di sini. Kamu gak bisa seenaknya mengenakan pakaian ketat maupun yang agak terbuka — seperti celana pendek dan tank-top — ketika mengunjungi Tanah Rencong. Kalau melanggar, Polisi Syariah bisa menindak kamu — bahkan bagi kamu yang tidak beragama Islam. Sebaiknya, gunakan saja busana yang sopan dan longgar yang tidak memperlihatkan bentuk tubuh agar kamu aman menikmati liburanmu di sini.

4. Menurut masyarakat Batak tradisional, posisi seseorang dalam silsilah keluarga harus jelas. Karena itu, hindarilah memanggil mereka dengan nama!

Dalam budaya masyarakat Batak, silsilah keluarga sangat dijunjung tinggi. Makanya, sesama orang Batak tidak bisa sembarangan memanggil satu sama lain hanya dengan nama depannya saja, terutama kepada orang yang stratifikasi sosialnya lebih tinggi, seperti kakak, kakak sepupu, atau paman.

Panggilan kepada saudara ditentukan berdasarkan pohon silsilah keluarga yang cukup rumit, yang bisa dilihat dari marga dan urutan generasinya. Terutama dalam masyarakat Batak yang tradisional, memanggil seseorang yang sudah berkeluarga dengan nama depan atau nama kecil itu dianggap tidak sopan, karena berarti kamu menyamakan mereka dengan anak kecil.

Nah, jika kamu bukan orang Batak yang gak paham penamaan silsilah keluarga dan ingin memanggil orang Batak dengan sopan, sapa saja mereka dengan nama marga.

5. Jika kamu ditawari pinang di Papua, terimalah dengan tangan terbuka. Sekalian untuk merawat gigimu!

Menginang di Papua

Menginang di Papua via dinisavitri.net

Menginang atau mengunyah pinang sudah menjadi tradisi yang mendarah daging di Papua. Sama halnya dengan merokok, minum teh, atau ngopi, tradisi menginang ini hampir tidak mengenal usia, ras, pangkat, maupun golongan. Tua maupun muda melakukannya kapan saja dan di mana saja. Namun, berbeda dengan dengan rokok, menginang punya manfaat bagi tubuh, yaitu menguatkan gigi.

Sirih pinang merupakan jamuan wajib dalam adat Papua yang menunjukkan bahwa tuan rumah menghormati tamunya. Makanya, pertemuan adat belumlah lengkap jika tamu-tamunya belum menginang. Menginang adalah sarana pembangun silaturahmi dan rasa persaudaraan. Jadi, jika kamu ditawari pinang oleh tuan rumah dalam sebuah jamuan saat berkunjung ke Papua, terimalah dengan tangan terbuka sebagai bentuk penghormatan dan rasa terima kasih kepada mereka.

6. Masih di Papua: jangan lupa menghabiskan nasi dari tuan rumah. Tak seperti di Jawa, nasi baru bisa didapatkan dengan kerja ekstra di Papua.

Papeda, olahan sagu yang jadi makanan pokok di Papua.

Papeda, olahan sagu yang jadi makanan pokok di Papua. via travellermeds.blogspot.com

Mungkin kamu terbiasa menyisakan sedikit nasi saat makan di rumah, di warung, atau di restoran? Di Jawa, nasi merupakan makanan pokok yang mudah ditemukan. Tapi, di sebagian tempat di Papua yang makanan pokoknya berupa sagu, beras adalah makanan yang terbilang mewah dan mahal.

Namun, untuk menjamu tamu yang datang dari luar, tuan rumah rela menyediakan nasi sebagai jamuan makan bagi tamunya. Nah, kalo sudah begitu, jangan sampai kamu gak menghabiskan nasi yang sudah disuguhkan. Dengan menghabiskan nasi yang mereka sediakan, berarti kamu menghargai tuan rumah yang sudah bersusah payah menyediakannya untukmu.

7. Meniru dialek Batak dengan dibuat-buat itu belum tentu lucu. Bisa saja kamu dianggap jayus, atau malah tidak sopan.

Orang Batak memang identik dengan gaya bahasa yang lugas dan cenderung keras, tapi bukan berarti mereka itu galak, lho. Meskipun gaya bicara orang Batak itu menarik, tapi bukan berarti mereka suka jika kamu meniru gaya bicara mereka, apalagi dengan tekanan yang dibuat-buat. Jika kamu ingin menyapa mereka dengan bahasa Batak yang kebetulan kamu pahami, gunakanlah nada yang sewajarnya saja, seperti halnya jika kamu bertutur sehari-hari. Horas!

8. Demi keselamatanmu sendiri, jangan kunjungi Pulau Komodo ketika sedang menstruasi.

Janngan sampai dikejar-kejar komodo

Janngan sampai dikejar-kejar komodo via www.zy-co.com

Himbauan yang diberikan oleh petugas jagawana ini alasannya bukan karena Pulau Komodo itu sakral seperti halnya Pura di Bali, tapi lebih kepada alasan logis yang bisa berpengaruh pada keselamatanmu selama berada di sana. Seperti yang kamu tahu, komodo adalah makhluk pemangsa bangkai yang penciumannya sensitif dengan bau darah. Kalo kamu nekat, bisa-bisa kamu diburu oleh naga-naga purba ini. Hiiii!

Selain menstruasi, kamu juga diingatkan untuk tidak mengenakan pakaian yang berwarna mencolok, terutama warna merah. Selama kamu menaati peringatan dari petugas, kamu bisa menikmati eksotisme Pulau Komodo ini dengan tenang dan aman.

9. Di Kalimantan Timur, hati-hati saat berkendara. Kamu bisa dikenai sanksi adat jika menabrak anjing.

Masyarakat Dayak

Masyarakat Dayak via leoblu35.blogspot.com

Siapa sih yang gak tertarik melihat dari dekat budaya suku Dayak di Kalimantan Timur? Selain tradisinya yang menarik, suku Dayak juga dikenal menjunjung tinggi hukum adat. Nah, saat menyambangi kampung Dayak, jangan sampai menabrak anjing peliharaan mereka yang dibiarkan berkeliaran bebas. Jika pemilik anjingnya keberatan, kamu bisa dikenai sanksi adat.

Bagi penabrak anjing, diberlakukan sanksi adat berupa denda. Kalo korbannya anjing betina, maka kamu wajib membayar denda 1 juta rupiah untuk setiap puting susunya, sehingga kamu bisa dikenai denda sampai 6 juta rupiah! Untuk anjing jantan, dendanya bisa lebih mahal lagi, karena anjing jantan dianggap bisa menghamili banyak anjing betina untuk menghasilkan keturunan. Waduh, makanya hati-hati, deh!

10. Hati-hati masuk rumah panggung masyarakat Sumba. Kalau kamu terpeleset… tuan rumahlah yang akan menanggung akibatnya!

Rumah adat Sumba

Rumah adat Sumba via arilliapkurniarsih.blogspot.com

Di Sumba, Nusa Tenggara Timur, kamu masih bisa dengan mudah menjumpai rumah adat berbentuk panggung yang disebut dengan Uma. Rumah adat ini dibangun dari kayu dan bambu dengan atap menara yang terbuat dari ilalang. Bagian dalamnya terdiri dari bilik-bilik yang memiliki fungsinya masing-masing.

Nah, jika kamu memasuki rumah adat ini, berhati-hatilah, jangan sampai kamu terjatuh. Menurut adat, jika ada tamu yang terjatuh di rumah tersebut, maka tuan rumah wajib memotong babi untuk menebus malu. Kasihan, ‘kan, jika gara-gara kamu terjatuh aja, tuan rumah yang menjamumu mesti dibuat repot?

Nah, itu dia sebagian adat masyarakat di Indonesia yang gak boleh kamu langgar. Apakah di daerahmu ada hal-hal tabu lainnya untuk diketahui pembaca? Langsung bagikan di komentar, yuk!

Advertisement
loading...

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya