“Naik gunung itu buat apa? Apa enaknya? Resikonya besar. Banyak yang hilang dan meninggal. Udah nggak usah.”

Begitulah yang seringkali dikatakan orang tua kala anaknya meminta izin untuk mendaki. Ya wajar sih, namanya orangtua kan nggak akan mau kalau anaknya kenapa-napa. Apalagi bagi sebagian orang tua yang memang saat mudanya nggak pernah melakukan pendakian ke gunung manapun. Mereka akan cenderung melarang anaknya untuk melakukan pendakian gunung juga. Yah, kalau kamu dilarang begini gimana? Bakal tetep mendaki juga? Nggak takut kenapa-napa lantaran nggak mendapat restu? Ini nih 6 alasan kenapa biar bagaimanapun, kamu tetep wajib minta izin ke mereka buat pergi mendaki. Semoga kamu makin semangat minta izinnya yaaa..

Izin orangtua itu merupakan sesuatu yang amat krusial. Kamu harus berjuang mendapatkannya demi keselamatanmu di pendakian

kamu kudu ati-atiiii via cdn.idntimes.com

Gunung, sampai kapanpun akan dianggap sebagai tempat yang angker dan menyeramkan. Kebayang kan kalau kamu pergi kesana tanpa ada izin dari orang tua? Jangan buat orang tuamu sedih dan menyesal nantinya. Bagaimanapun kamu bisa hadir di dunia ini karena ada mereka pula.

Karena sulitnya mendapatkan izin pergi mendaki gunung, banyak para pendaki yang pada akhirnya mencuri-curi kesempatan dari orang tua mereka agar bisa pergi mendaki. Siapa yang bisa menjamin kamu bakal pulang selamat ha? Dan kamu nyesel gitu di alam baka gara gara nggak sempet pamit sama orang tua? Hih! Restu orang tua itu serupa harga mati. Kalau mereka tahu kamu pergi kemana, doanya akan selalu mengiringi langkahmu, dan kamu kudu percaya.

Kalau restu Bapak Ibu tak kamu dapati, ya mending kamu nggak usah pergi. Bukan berarti kamu pengecut, tapi ini soal mewujudkan mimpi tanpa harus berhenti menjadi anak berbakti

Advertisement

inget, nggak ada orangtua nggak ada kamu via bandung.panduanwisata.id

Sebenernya kamu bisa aja sih kalau mau pergi mendaki tanpa meminta ijin mereka, kedua orangtua. Coba lihat, banyak juga kan teman-temanmu yang nekat pergi tanpa memberitahu orang tua mereka terlebih dulu? Tapi tanya lagi hatimu, apa kamu benar-benar bisa melenggang santai mendaki alias mendaki dengan tenang? Apa iya orang tuamu di rumah nggak mikir dan berujung khawatir kemana gerangan perginya si buah hati? Bukankah pergi tanpa izin orangtua malah akan mempersulit dirimu sendiri nantinya? Biarlah temanmu menganggapmu berlebihan, setidaknya kamu punya prinsip yang dengan teguh kamu pegang.

Tentu mereka cemas akan keselamatanmu. Untuk itu, tolong yakinkan mereka bahwa kamu akan selalu hati-hati dan selalu menjaga diri sendiri

yakinkan mereka kalau kamu akan senantiasa baik-baik saja via instagram.com

“Ma, Pa, naik gunung semeru itu nggak semengerikan yang kalian pikirkan kok. Aku bawa seperangkat alat keamanan naik gunung nih.”

Kalau alasan mereka melarangmu karena cemas, tolong kamu jawab kecemasan mereka, dengan seberapa siap kamu melakukan pendakian itu. Mungkin saat muda keduanya memang tak sempat memikirkan untuk mendaki sama sekali. Berikan gambaran singkat tentang teknis pendakian, bagaimana cara bertahan hidup di tengah hutan, bagaimana cara memasak, dan lain sebagainya. tunjukkan pula peralatan naik gunung milikmu. Kalau kamu cuma bawa jaket dan sandal jepit saja, ya gimana mereka mau memberi izin. Modal dong, sewa peralatan selengkap-lengkapnya. Kamu juga kudu usaha untuk mendapat izin dan kepercayaan mereka.

Kamu sadar kan kalau selama ini gunung banyak memakan korban? Kamu percaya nggak kalau disitu ada andil doa dari orang tua?

sebab tanpa mereka kamu bukan apa-apa via idntimes.com

Sudah ada banyak pemuda seumuranmu yang harus meninggal karena melipir dari jalur dan kemudian hilang, hipotermia, atau juga cuaca buruk yang tak pernah disangka sebelumnya. Satu hal lagi yang harus kamu tahu, sukses-tidaknya pendakian tak hanya ditentukan dari apakah si pendaki bisa berhasil mencapai puncak atau tidak. Lebih dari itu, gelar sukses baru “sah” disematkan jika si pendaki sampai rumahnya dengan selamat jiwa-raga. Salah satu faktor yang mampu membuatmu selamat sentosa sampai ke rumah adalah doa dari orang tua. Selanjutnya ya masalah persiapanmu, baik fisik maupun segala perlengkapan mendaki.

Coba tanya hatimu dulu, sejatinya kamu pergi mendaki untuk apa, semoga bukan untuk sekadar tren atau gaya-gayaan saja. Kalau tujuanmu mulia, perlahan orangtuamu pun akan rela

nggak cuman begini doang kan cita-citamu mendaki? via trevelsia.com

Semoga kamu benar benar ingin menjadi manusia yang lebih baik lagi dengan pergi mendaki. Sebab, dalam perjalanan mendaki nantinya, kamu akan belajar makna sebenarnya dari kerja sama, pun soal menurunkan gengsi agar tak lagi terlalu tinggi. Pada akhirnya, kamu akan tahu batasan-batasan kemampuan dirimu sendiri. Kalau kamu sudah paham apa tujuanmu sejak awal, coba jelaskan pada orangtuamu. Pelan-pelan, tak usah gunakan emosi, biarkan mereka mendengar dan pada akhirnya pun akan merelakan dengan doa yang tak putus-putus mereka rapalkan.

Biar “proposal perijinan” mu di ACC, ada beberapa hal pula yang harus kamu perhatikan. Minta diizinkan tapi kok kamunya kaya seenaknya gitu, ya mana bisa

udah izinnya mendadak, maksa lagi. seenaknya~ via 3.bp.blogspot.com

Jangan minta izin terlalu mendadak misalnya, mintalah izin jauh-jauh hari sebelum hari keberangkatan yang kamu tentukan bersama kawan-kawan. Kenalkan orangtuamu pada teman-teman yang ikut mendaki bersamamu, bila perlu ajak mereka ke rumah dan memintakan izin untukmu. Setidaknya mereka akan membantu meyakinkan orangtuamu kalau disana nantinya kalian akan bersama-sama saling menjaga. Bagaimanapun ijin orangtua itu hal utama. Jangan menyerah sebelum kamu mendapatkannya, dan jangan berangkat jika izin itu tak kujung kamu dapatkan juga.

Begitu banyak hal yang harus kamu pertimbangkan dan persiapkan sebelum berangkat mendaki. Karena ini bukan hanya tentang ke-egoisan dirimu sendiri. Jangan pernah membuat orangtuamu kecewa nanti. Salam lestari!