6 Risiko ini Perlu Kamu Perhitungkan Kalau Mau Nekad Kumpul-kumpul Tahun Baru Nanti

Kumpul-kumpul tahun baru

Selama hampir dua tahun pandemi Covid-19 melanda Indonesia, ada banyak hal yang nggak bisa kita laksanakan dengan optimal. Mulai dari bekerja, sekolah, traveling, hingga bahkan sekadar kumpul-kumpul. Selain karena kondisi pandemi yang belum sepenuhnya terkendali, aktivitas seperti kumpul-kumpul belum bisa terlaksana secara optimal karena tidak adanya momentum yang seringkali ampuh dijadikan alasan. 

Kini, kondisi pandemi di Indonesia bisa dibilang kian membaik. Libur akhir tahun yang sudah di depan mata pun seakan jadi momentum yang sayang dilewatkan untuk sekedar kumpul-kumpul. Namun, sebelum kamu tergoda untuk merencanakan kumpul-kumpul pada libur akhir tahun nanti, sebaiknya perhitungkan dulu 6 risiko berikut ini biar nggak menyesal.  

1. Tidak bisa menjalankan protokol kesehatan dengan ketat

Ilustrasi tidak menjalankan protokol kesehatan ketat | Photo by cottonbro from Pexels

Kita semua tahu kalau melakukan vaksinasi dan disiplin menjalankan protokol kesehatan (prokes), mulai dari mengenakan masker, mencuci tangan dan menjaga jarak adalah kunci memutus mata rantai penyebaran virus. Hanya saja yang jadi persoalan, disiplin prokes ini nggak bisa dipastikan dapat kamu jalankan dengan ketat saat kumpul-kumpul. Mengapa?

Alasan yang pertama, pada saat kumpul-kumpul kemungkinan besar kamu akan sulit menerapkan jaga jarak. Belum lagi saat harus makan atau minum kamu perlu melepas masker, yang mana akan meningkatkan risiko tertular virus entah dari siapa. Berisiko banget, kan? 

2. Muncul varian virus Covid-19 yang makin ganas 

Ilustrasi virus Covid-19 | Photo by Fusion Medical Animation on Unsplash

Belum reda kekhawatiran kita dengan virus Covid-19 varian Delta yang disebut-sebut paling cepat penyebarannya, beberapa waktu lalu dikabarkan telah muncul varian virus B.1.1.529 di Afrika Selatan yang memiliki transmisi lebih tinggi dari varian Delta. 

Nah, dengan nekad melakukan kumpul-kumpul saat kondisi masih penuh ketidakpastian, bukan tidak mungkin akan memicu munculnya varian virus Covid-19 lainnya di Indonesia. Karena mutasi virus Covid-19 bisa jadi melamah atau justru menguat, langkah yang harus masing-masing kita ambil adalah mencegah mutasi tersebut dengan cara konsisten menerapkan prokes. 

3. Nggak ada yang bisa menjamin seseorang terhindar 100 persen, kamu berisiko terpapar virus Covid-19 jika nekad kumpul-kumpul

Ilustrasi pasien Covid-19 | Photo by Mufid Majnun on Unsplash

Risiko yang paling membayangi jika kamu nekad kumpul-kumpul akhir tahun nanti adalah terpapar virus Covid-19. Sejak awal pandemi, nggak ada satu hal yang bisa menjamin seseorang terhindar 100 persen dari paparan virus Covid-19 ini. Meski begitu, semua orang dapat memperkecil risiko terpapar virus dengan banyak cara, seperti menjaga kesehatan dan kebugaran serta memprioritaskan prokes saat melakukan aktivitas apapun, terlebih jika melibatkan orang banyak. 

4. Membawa pulang virus dan menularkannya kepada orang terdekat

Ilustrasi tertular Covid-19 | Photo by Andrea Piacquadio from Pexels

Seperti mungkin kamu tahu, virus Covid-19 bisa menginfeksi seseorang tanpa menimbulkan gejala apapun, dan ini adalah kasus yang cukup berbahaya. Bukan berbahaya bagi yang terinfeksi, melainkan berbahaya bagi orang terdekat yang mungkin rentan terhadap Covid-19. 

Dalam hal ini, melakukan kumpul-kumpul selain memperbesar risiko kamu terpapar virus Covid-19, juga memperbesar risiko penularan virus kepada orang terdekat di rumah, terlebih jika kamu adalah orang tanpa gejala. So, tidak ke mana-mana pada saat libur akhir tahun nanti artinya melindungi dirimu sendiri dan juga orang terdekat.

5. Terjadi lonjakan kasus seperti libur akhir tahun 2020 lalu

Ilustrasi lonjakan kasus Covid-19 | Photo by Markus Spiske from Pexels

Kemungkinan lonjakan kasus adalah risiko yang harus benar-benar kamu perhitungkan, dan libur akhir tahun merupakan peluang bagi kemungkinan tersebut. Berkaca pada libur Natal dan Tahun Baru (nataru) 2020 lalu saja, data covid19.go.id mencatat pada tanggal 1 Desember kasus konfirmasi harian berada di angka 5.000. Sementara pada tanggal 30 Januari atau pasca libur nataru, kasus konfirmasi harian melonjak hingga lebih dari 14.500. 

Lonjakan kasus tersebut terjadi tidak lain karena adanya pergerakan masyarakat dalam jumlah besar, meski pemerintah telah mengeluarkan aturan pembatasan mobilitas. Nah, jika kamu nekad nggak mengindahkan aturan yang saat ini berlaku dan tetap kumpul-kumpul, lonjakan kasus adalah hal yang akan sama-sama kita hadapi lagi. Nggak mau, kan?

6. Pandemi berlangsung lebih lama lagi sehingga akan makin banyak aktivitas dan rencana yang tertunda atau bahkan gagal

Ilustrasi kondisi pandemi yang belum terkendali | Photo by Martin Sanchez on Unsplash

Tidak melakukan aktivitas yang bukan prioritas seperti kumpul-kumpul pada saat libur nataru bukan hanya demi melindungi diri dan keluarga dari virus Covid-19. Lebih daripada itu, kamu berkontribusi untuk mempercepat pemulihan kondisi dari pandemi. Jika tetap nekad melakukan kumpul-kumpul dengan segala risiko yang sudah disebutkan di atas, kondisi pandemi bisa jadi akan berlangsung lebih lama dari perkiraan. 

Jika pandemi nggak kunjung usai, dapat disimpulkan akan makin banyak aktivitas dan rencana yang tertunda atau bahkan gagal. Sebab, aturan dan kebijakan yang ditetapkan pemerintah ke depannya bisa jadi semakin ketat. Jika ini terjadi, mau nggak mau kamu harus rela menunda hasrat untuk liburan ke destinasi impian, atau bahkan mudik untuk bertemu keluarga lebih lama lagi. 

Nah, itu dia 6 risiko yang harus kamu perhitungkan jika nekad kumpul-kumpul saat libur nataru nanti. Untuk itu, Yuk saling jaga #MulaiDariKamu! dan tekan mobilitas sebisa mungkin demi mengurangi risiko transmisi Covid-19 sampai kondisi benar-benar pulih. Dengan ini pencegahan dini juga bisa dilakukan secara efektif dan maksimal, sehingga penyebaran virus bisa dihentikan, dan kondisi dapat segera pulih. 

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

Editor