Selalu saja terjadi di Indonesia. Bencana datang dengan tiba-tiba, korban berjatuhan, dan orang-orang selalu sibuk menyalahkan. Memang harus diakui bahwa mitigasi bencana di Indonesia yang dilewati cincin api ring of fire masih belum cukup memadai. Tidak ada kesiapan dari masyarakat jika sewaktu-waktu terjadi bencana. Padahal dokumen dan strategi mitigasi bencana tak pernah lupa membahas kawasan rawan bencana dan zonasi tata ruang rawan bencana. Tapi selalu terjadi bencana yang memakan banyak korban jiwa.

Salah satu bencana alam yang datangnya tak bisa diduga adalah gempa bumi. Hancurnya kota Palu dihantam gempa 7,4 SR dan tsunami setinggi 1,5-2 meter (bahkan lebih) membuat kita semua bergidik ngeri. Dunia terhenyak menyaksikan bangunan ambruk bahkan tanah berubah menjadi lumpur. Korban jiwa berjatuhan hingga ratusan orang (data terakhir 844 jiwa meskipun perkiraan sudah lebih dari 1203). Kita seolah kaget, selama ini ada persiapan nggak sih jika nantinya bakal ada gempa di jalur rawan gempa ini?

Advertisement

Kota Palu sebenarnya sudah masuk dalam kawasan rawan bencana gempa. Jika kamu melihat peta bencana gempa, Palu dan Donggala masuk zona merah mengingat adanya sesar Palu-Koro yang legendaris. Kota Palu yang secara geografis berada di Teluk juga sangat rawan terjadi tsunami. Tahun lalu, sesar Palu-Koro sudah diprediksi akan bergerak meskipun belum diketahui kapan akan terjadi.

Kali ini Hipwee mau kasih tahu 7 kota yang rawan gempa besar di masa depan. Simak dan pelajari agar kita bisa menghadapi dengan persiapan yang baik.

Seluruh pesisir barat Sumatra memang jadi kawasan rawan gempa. Salah satu kota yang cukup rawan terkena gempa besar adalah Kota Padang

gempa padang via www.gitews.org

Pesisir barat Sumatra merupakan kawasan paling rawan gempa dan tsunami. Dalam 200 tahun saja sudah terjadi belasan gempa besar mulai dari 5 SR-7,6 SR. Terakhir, gempa Padang sebesar 7,6 SR pada tahun 2009 juga memakan 1.117 korban jiwa. Gempa di Sumatra Barat terjadi karena merupakan bertemunya 2 lempeng Eurasia dan Indo Australia. Di masa depan, warga Padang harus selalu siap jika terjadi gempa kapan saja.

Selain Padang, Bengkulu juga sangat rawan gempa. Sejarah mencatat gempa paling besar di Sumatra terjadi di Bengkulu

gempa bengkulu via www.okezone.com

Advertisement

Potensi gempa di Bengkulu berasal dari sesar Mentawai yang terletak lebih kurang 100-200 km sebelah barat pantai Sumatra yang terbentuk karena adanya perbenturan lempeng Samudera Hindia-Australia dengan lempeng Eurasia. Sesar Mentawai akan menghasilkan gempa dengan pusat-pusat gempa di laut. Gempa terbesar di Sumatra terjadi di Bengkulu pada tahun 1833. Pada 2007 Bengkulu juga mengalami gempa sebesar 7,3 SR dan 5,9 SR pada tahun 2016. Warga Bengkulu harus berhati-hati dengan gempa bumi.

Sesar Lembang di Bandung diprediksi banyak ahli punya potensi untuk menciptakan getaran gempa besar di masa depan

salah satu kawasan sesar Lembang via jabar.pojoksatu.id

Sesar Lembang adalah sesar yang memanjang sepanjang 29 km dan berada 8 km di utara kota Bandung. Salah satu sesar yang paling ditakuti akan menimbulkan bencana adalah sesar Lembang. Letaknya yang membelah Bandung berpotensi menjadi bencana besar bagi kota Bandung jika gempa bumi terjadi di sana. Diprediksi potensi gempa di wilayah ini sebesar 6,8 SR dan dampaknya bisa merusak bangunan-bangunan di seluruh Bandung. Beberapa tahun terakhir, gempa kecil mulai sering terjadi di sesar Lembang. Terakhir kali gempa bumi besar terjadi pada sekitar tahun 1450-1460 seperti dikutip dari Tirto. Sekitar 500 tahunan sesar Lembang mengumpulkan tenaga sebelum dilepaskan. Kapan itu terjadi? Tidak ada yang tahu kapan gempa akan terjadi, setidaknya sampai saat ini.

Sepanjang sejarah Jogja, gempa tidak bisa dilepaskan dari kota ini. Mulai dari gempa bumi yang meluluhlantakkan Kraton sampai gempa tahun 2006 yang merenggut lebih dari 6000 nyawa

gempa 1867 via www.inovasee.com

Gempa bumi dan Jogja bagaikan dua sisi mata uang, alias tidak terpisahkan. Betapa tidak, dalam 150 tahun terakhir ada 5 gempa besar yang pernah melanda Jogja dan sekitarnya. Pada tahun 1867, Kraton Jogja, Tamansari hingga Tugu Jogja rusak ketika itu. Bahkan kolam air raksasa yang mengelilingi Pulo Cemeti pun hancur. Gempa besar juga melanda Jogja pada tahun 1937, 1943, 1981 hingga gempa Jogja 2006 yang memakan korban jiwa 6652 orang. Di masa depan, ancaman gempa bumi di Jogja masih cukup besar.

Catatan paling tua tentang tsunami tercatat di Ambon oleh Georg Everhard Rumphius pada tahun 1674. Waktu itu ribuan orang meninggal dunia

kota ambon via www.cruisemapper.com

17 Februari 1674, gempa bumi mengguncang Ambon dan sekitarnya, disusul tsunami dari Laut Banda. Peristiwa itu tercatat dalam manuskrip karya Georg Everhard Rumphius, orang Belanda yang lama tinggal di Ambon. Ia mencatat terjadi gempa yang dahsyat di Sabtu malam di mana banyak bangunan orang Tionghoa roboh. Tak lama kemudian datang gelombang tsunami setinggi 80 meter dan menyebabkan 2.243 korban meninggal dunia.

Tataan tektonik menunjukkan bahwa Ambon dan Pulau Seram diapit dua sumber gempa utama. Tahun lalu saja terjadi 88 gempa dalam tempo 14 jam saja. Setelah tahun 1674, Ambon diguncang gempa pada tahun 1899, 1950, 1980, dan 2001. Menurut catatan sejarah tersebut, gempa besar tahun 1674 bisa jadi terulang di masa depan.

Sulawesi Utara juga pernah punya riwayat gempa besar. Manado bahkan pernah mengalami tsunami pada tahun 1837

peta gempa bumi via inatews.bmkg.go.id

Kawasan Sulawesi Utara dan Halmahera yang berada di timurnya merupakan kawasan yang rawan terjadi gempa bumi dan tsunami. Jika melihat peta kawasan rawan bencana gempa, tampak bahwa bagian utara Sulawesi dan Halmahera seringkali terkena gempa dangkal. Di masa lalu, Minahasa pernah terdampak gempa bumi dan tsunami dahsyat pada tahun 1837 lalu. Setelah lama tertidur, ada kemungkinan untuk terjadi gempa besar. Apalagi Manado berada di lajur patahan tektonik.

Jakarta, ibukota Republik Indonesia terancam luluh lantak jika terjadi gempa besar datang di masa depan.

jakarta terancam gempa besar via www.nationsonline.org

Suka tidak suka, hidup di zona cincin api harus siap dengan konsekuensi bencana gempa bumi. Tak terkecuali ibu kota Jakarta. Ancaman gempa bumi megathrust berskala besar cukup jadi kekhawatiran buat masyarakat Jakarta. Perlu kesiapan ekstra agar ibukota bisa ‘survive’ jika gempa besar benar terjadi. Negara bisa lumpuh jika bencana besar datang ke ibukota tanpa bisa ditanggulangi dengan baik.

“Kekuatannya masih perdebatan di antara para pakar. Diperkirakan antara 8,1 SR hingga 9 SR,” kata Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika, Dwikorita Karnawati pada bulan Maret 2018 lalu.

Tinggal di negeri subur seperti Indonesia punya resiko bencana alam yang harus dihadapi. Gunung meletus maupun gempa bumi akan datang tanpa permisi. Untuk itu, kamu harus siap jika gempa sewaktu-waktu terjadi. Persiapan harus sedini mungkin dilakukan, sebelum semuanya terlambat. Seperti gempa dan tsunami di Palu yang membuat kita semua terperanjat.

Semoga semua korban gempa Palu bisa dievakuasi dengan baik. Indonesia juga mesti lebih meningkatkan kewaspadaannya di kawasan rawan gempa lainnya. Mari waspada akan bencana yang akan datang di masa depan!

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya