Para pendaki Indonesia tengah berduka. Pekan lalu, dua pendaki meninggal di Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru, saat mereka menuju puncak Mahameru. Pada 3 Oktober 2016, Chandra Hasan, pendaki asal Cakung, Jakarta Timur meninggal dan diduga karena sakit saat menuju Ranukumbolo. Sebelumnya, pada 13 September, pendaki asal Lamongan bernama Ziman Arofik juga meninggal karena sakit. Jadi bagaimana? Kamu masih mau meremehkan alam?

Kematian memang sebuah takdir. Tapi nggak ada salahnya dong kalau kamu mengantisipasinya dengan berhati-hati dalam perjalanan dan menyiapkan segalanya dengan teliti? Apalagi untuk para pendaki pemula, tolong jangan lakukan 8 hal bodoh ini kalau kamu masih menyayangi ibumu, masih menyayangi nyawamu. Kalau nggak kuat, turun, jangan maksa. Ingat satu hal, puncak itu bonus, sebenar-benarnya tujuan adalah pulang. Jangan pernah lakuin 8 hal ini ya…

Masih banyak pendaki yang sok jagoan, sok cari jalan lain di luar jalur resmi. Tolong sebelum melakukannya, pahami resiko untuk dirimu sendiri

mendakilah lewat jalur resmi via www.depoknews.id

Kesombongan di masa muda memang kesombongan terindah. Sampai ada yang bilang, kamu nggak pernah muda kalau nggak pernah sombong. Tapi kalau bisa ya jangan sombonglah, nggak di gunung, nggak di manapun. Kebodohan terbanyak yang bisa kita jumpai di zaman sekarang ya yang model kaya gini, para pendaki amatir yang sok jagoan.

Mereka yang sok sok mencari jalur lain di luar jalur resmi hanya demi mencari tantangan. Kamu sedang menantang maut, kamu nantangin alam? Padahal, nggak sedikit juga dari mereka yang nggak memiliki kemampuan navigasi yang mumpuni. Peralatan vital seperti kompas aja kadang nggak bawa, di gunung mau ngandalin GPS? Ya kali~ Beberapa kali kan kita dengar kabar pendaki tersesat lantaran nggak mendaki di jalur resmi, eh ditemukannya pas dalam kondisi tak bernyawa juga. Salah siapa?

Buruknya manajemen logistik juga seringkali dialami pendaki. Mendaki gunung itu nggak sesederhana masak dan makan indomie di atas nanti, ini soal kebutuhan kalori

Advertisement

naik gunung itu nggak modal mie instan doang via bluetripper.com

Kalau kamu menganggap yang dimakan di atas gunung itu hanya mie instan dan mie instan, mending kamu tidur di rumah aja, atau nggak jalan-jalan ke mall udah cukup rasanya. Mendaki gunung itu bukan hal remeh temeh, mendaki gunung itu kegiatan berat dan butuh kalori hingga 4ribu kkal per harinya. Padahal, untuk sehari-hari saja kamu biasanya butuh 2ribu kkal per hari. Lebih banyak? Jelaaas.

Logistik juga jadi hal penting yang harus kamu pikirkan. Kalori besar bisa kamu dapat dari daging-dagingan berlemak, cokelat dan karbohidrat, bukan hanya soal mie instan yang sulit dicerna tubuh dan bahkan seringnya menyerap banyak air dalam tubuh. Jangan sampai tubuhmu lemas dan kelaparan, lantas pingsan hingga menyebabkan kematian. Paham kan, kenapa naik gunung nggak boleh hanya berbekal mie instan?

Selain logistik, pengepakan barang juga tak dapat kamu remehkan. Ini soal seni, cover bag pun bukan sekadar nilai estetika

bahaya kalau tanganmu masih tenteng-tenteng banyak barang via azzuralhi.files.wordpress.com

Perkara packing atau pengepakan barang dalam ransel adalah seni yang mutlak harus dikuasai para pendaki. Semua yang ada di ransel atau carriermu itu ada gunanya, bukan cuma hiasan belaka. Seluruh barang bawaanmu harus masuk ke dalam ransel, kalau ada yang nggak bisa masuk mending tinggalin. Karena medan sulit, jangan sampai kamu kerepotan masih nenteng beberapa barang bawaan macam matras dan sleeping bag. Tanganmu harus bebas untuk memegang walking stick aau berpegangan meniti akar-akar pohon kalau memang dibutuhkan.

Agar aman, pakaian di dalam ransel beri lapisan plastik, cover bag pun jangan pernah absen untuk digunakan. Lapisan plastik di dalam ransel akan berguna ketika hujan. Bayangin aja kalau semua baju ganti dan jaketmu basah, kamu nggak bisa ganti baju. Kalau pakaian yang kamu kenakan juga basah, kamu bisa rentan terkena hipotermia. Dan nggak usah ditanya, inilah penyebab utama kematian seorang pendaki gunung.

Jangan bangga kalau kamu pergi dalam rombongan besar. Banyak orang nyatanya bukan jaminan terhadap keselamatan yang akan kamu dapatkan

rombongan besar nggak menjamin keamanan dan keselamatanmu via ahmadtakbir.blogspot.com

Hal ini seringkali dilakukan oleh pendaki saat hari libur. Mereka berbondong-bondong pergi ke gunung bersama rombongan besar yang bisa mencapai 20 hingga 30-an orang. Mereka berpikir dengan rombongan sebanyak itu akan lebih aman, biaya lebih kecil dan izin orang tua akan lebih mudah didapat. Padahal kamu salah besar.

Rombongan (terlalu) besar itu justru merepotkan. Akan makin sulit membagi logistik dan mengatur manajemen perjalanan. Lihat aja kasus Shizuko Rizmadhani yang mendaki bersama 27 orang, kemana saja teman-temannya yang super banyak itu? Kalau kamu pergi bersama banyak orang, kamu juga kudu mikir berapa kompor yang dibutuhkan untuk memberi makan 20-an orang itu, bagaimana perlengkapan P3Knya, dan lain-lainnya. Idealnya, mendakilah bersama 4-6 orang saja, dan selalu pilih satu orang untuk memimpin pendakian.

Hipotermia mungkin memang nyaris sama dengan kesurupan. Tapi sebagai pendaki, kamu harus tahu apa bedanya. Nggak lantas hipotermia kamu bacakan doa-doa untuk mengusir setan kan?

hypotermia itu beda sama kesurupan via phinemo.com

Para penderita hipotermia biasanya akan menggigil dan kehilangan kesadaran, lalu mulai bicara melantur. Nah, karena ngomongnya nggak karuan dan susah diajak komunikasi, teman-temannya pun menyangka si korban kesurupan. Akhirnya, mereka malah membacakan doa untuk mengusir setan. Padahal, harusnya segera dilakukan pertolongan. Ilmu P3K mutlak harus dikuasai. Seperti segera mengganti pakaian dengan pakian kering, memasukkan ke dalam sleeping bag yang sudah dihangatkan, meletakkan beberapa botol air panas ke dalam sleeping bag itu, dan menjaga agar kondisi lingkungan tetap senantiasa hangat. Ini sama sekali bukan perihal gampang.

Keegoisan menjadi yang tercepat pun sama sekali bukan hal tepat. Lebih cepat itu nggak selalu lebih baik. Para pemula sering mikir, yang paling belakang itu yang terlemah. Kamu yakin?

berangkat bareng, nyampe puncak juga harus bareng via duniabackpacker.net

Kesalahan pendaki gunung yang lain ialah munculnya keegoisan diantara para pemula yang menjadikan pendakian sebagai ajang pamer kekuatan fisik. Mereka berlomba-lomba mencapai puncak dengan tergesa-gesa agar nggak dianggap sebagai orang lemah yang tertinggal di belakang dan orang terakhir yang sampai puncak. Bahkan, seringkali mereka membiarkan rekan-rekannya kelelahan di belakang. Yang penting, gimana caranya dia bisa sampai ke puncak duluan. Temen begini mah mending nggak usah diajak ke gunung.

Efeknya nanti akan terlihat ketika pendakian turun. Kehabisan tenaga, cidera otot gara-gara cepet-cepetan di awal, kecelakaan dan kehilangan arah bakal jadi ancaman. Jadi, biasakan menaruh seseorangs ebagai sweeper di bagian paling belakang dalam rombongan, pilih orang yang paling kuat dan paling bisa diandalkan. Tugasnya, memastikan tak ada yang keteteran atau tertinggal di belakang. Mendaki gunung itu bukan soal siapa yang duluan, tapi soal kebersamaan.

Semangat menjelajah tempat baru memang perlu, tapi itu bukan berarti kamu mengharap kejutan berupa kematian di sana kan? Jangan pernah lupakan riset sebelum keluar dari zona nyamanmu

riset itu perlu, jangan disepelekan via www.companion4travel.com

Gunung bukanlah tempat yang bisa didatangi seenak hati, untuk itu kamu perlu adanya sebuah manajemen perjalanan. Kamu butuh riset dan mempelajari tempat tujuan. Informasi itu merupakan tahap paling awal sebelum kamu melakukan perjalanan, kemanapun. Nah, ketika kamu mempelajari tempat tujuan itu, kamu bisa mempertimbangkan rute mana yang akan kamu pilih, shelter peristirahatan, sumber air, daerah berbahaya, dan sebagainya. Riset itu perlu, jangan sampai kamu menganggapnya hanya untuk buang-buang waktu.

Inti dari semua ini sebenarnya cuma satu, pendaki yang cuma mau gaya-gayaan aja mending nggak usah kemana-mana. Kalau motivasimu cuma buat hits aja, gunung nggak cocok buat anak manja

jangan cuma selfie tujuanmu, terlalu dangkal itu via sidomi.com

Jangan cuma belajar teknik foto aja kalau mau mendaki, keselamatan itu yang utama. Kamu harus belajar bagaimana cara bertahan hidup di belantara. Soal kebutuhan air dalam pendakian misalnya, dalam sehari kamu butuh sekitar 800 mililiter, air minum setelah makan 200 mililiter, air untuk menanak nasi 200 mililiter, air untuk memasak sayur (kalau ada) 200 mililiter, air untuk kebutuhan camp 600 mililiter, dan air untuk back up sebanyak 800 mililiter. Sebagai pendaki, kamu harus paham.

Sekali lagi, jangan pernah mau mati di gunung. Kamu mesti tau, sebagian besar korban kecelakaan di gunung terjadi karena para pendaki cenderung meremehkan, tidak mengikuti prosedur, tersesat karena tidak melewati jalur resmi, tidak membekali diri dengan pengetahuan dasar pendakian, da tidak membawa logistik yang memadai. Kamu, tolong jangan lakukan 8 kebodohan di atas ya. Mendaki gunung itu bukan hal mudah, karenanya kamu butuh tahu cara mengatasi ketika kamu merasa lelah. Salam Lestari!