Kalau kita berbicara tentang tanah Minangkabau, Sumatera Barat, apa yang kamu pikirkan?  Mungkin hal pertama yang bakal ada dalam pikiran kamu ada Rendang. Selanjutnya bisa Nasi Padang, Rumah Gadang, Jam Gadang, atau perantauan. Menurut kamu hal pertama yang kamu pikirkan tentang Minangkabau itu apa saja? Hayati- Zainudin? Malin Kundang? Tari piring?  Apapun itu, sah-sah saja kok.

 “Adaik Basandi Syara’ Syara’ Basandi Kitabullah” (Adat berlandaskan Agama Islam, Islam berlandaskan Al-Qur’an) ” Di mana Bumi Dipijak, Di situ Langit Dijunjuang” (Dimanapun berada, adat dan budaya lokal tetap harus dihormati)

Budaya, adat, dan logat yang kental membuat dimanapun orang Minang berada, pasti bakal keliatan jelas bahwa dia itu orang Minang. Dan uniknya mereka ada di banyak kota di Indonesia. Luar biasa.

Sayangnya, seiring perjalanan waktu semua itu mulai ditinggali dan dilupakan oleh anak muda Minang sekarang. Indak tau di nan ampek, alah hilang Minang tingga kabau. Norma, adat dan budaya yang sejak dulu menjadi kebanggaan orang Minang telah mulai pudar, hilang dan dilupakan oleh anak mudanya sekarang. Sedih banget…

Kalau sekarang kamu lebih suka ngomong kuping daripada talingo. Maaf, darah Minangmu perlu dipertanyakan lagi

Bahaso Minang sajolah kabau via darevan-wordpress.com

Advertisement

Kambing: Kambiang, Kucing: Kuciang, Kepiting: Kapitiang, Kuping: Talingo

Bahasa Minang itu unik. Tidak jauh berbeda dengan bahasa Indonesia, bahasa Minang memiliki irama yang khas dan beda dengan bahasa lainnya.  Menurut data yang dilaporkan oleh Summer Institute of Linguistics (SIL 2001) terdapat beberapa bahasa daerah yang diperkirakan jumlah penuturnya cukup banyak bahkan lebih dari satu juta, salah satunya bahasa Minangkabau (6.500.000 penutur).

Namun, bahasa Minang termasuk bahasa daerah yang terancam punah melihat peran anak muda Minang yang mulai jarang menggukannya. Bahkan, salah satu kota terbesar di Sumatera Barat bisa kamu temui banyak anak mudanya berbicara bukan dan tidak bisa bahasa Minang. Orang tua asli Minang, lahir, tinggal dan besar di tanah Minang tapi gak mau berbahasa Minang? Orang lain aja mau belajar bahasa Minang, apa kamu gak malu?

Sejak dahulu kala, suku Minang terkenal sebagai suku yang terbiasa hidup merantau. Lalu, kamu masih takut merantau?

Barangkeklah via seduhkopi.com

Orang Minang itu terkenal sebagai para perantau yang baik. Di manapun kita berada pasti ada saja orang Minang, hal itu terjadi karena budaya merantau sudah melekat pada diri orang-orang Minang sejak dulu. Banyak alasan yang mengharuskan mereka merantau, menimba ilmu, mencari nafkah dan menambah pengalaman hidup jauh dari kampung halaman. Jadi seakan muncul aturan tak tertulis, ‘mau gak mau ya harus merantau.’

Karatau madang di hulu, Babuah babungo balun. Marantau Bujang dahulu, Di kampuang baguno balun

Sewajarnya seorang anak Minang merantau ke negeri orang untuk belajar hidup mandiri, untuk menempa diri agar lebih dewasa lagi serta mencari pengalaman yang akan dibawa kembali ke kampung halaman. Kalau kamu anak Minang meninggalkan rumah saja masih takut dan ragu-ragu,  gimana kamu mau berkembang dan maju.

Masih nggak peduli dengan resep Rendang orang tua. Ingat cewek Minang banyak menjadi idaman banyak orang, hanya karena sebuah masakan, lho

Kalau bicara soal cewek, salah satu daerah memiliki cewek cantik nan aduhai dan idaman orang tua diluar sana ya cewek Minang atau gadis Minang. Mereka merupakan sosok sempurna yang diciptakan Tuhan untuk Minang. Penuh pesona, sikap yang santun dan salah satu daya tariknya yaitu pintar masak. Entah itu semua mitos atau fakta yang jelas pada dasarnya mayoritas cewek Minang itu bisa masak. Namun untuk membuat masakan menjadi enak dan istimewa tentu perlu keahlian khusus. Dan tentunya latihan terus.

Kalau kata orang-orang tua dulu Anak gadih di minang kabau, Limpapeh rumah nan gadang. Auih tampek mintak aia, lapa tampek mintak nasi. Cewek Minang  harus memiliki keahlian ini agar nanti jika punya suami betah makan di rumah. Kalau kamu cewek Minang masak nasi aja gosong ya siap-siap saja melihat pasangan kamu makan diluar. Jangan sampai seperti itu, malu sama orang tua kamu dulu.

Bukankah dari kecil anak Minang sudah diajarkan untuk tidur di Mushala untuk memperdalam ilmu agama. Masa ketika dewasa semua yang diajarkan bisa lupa?

ulang kaji lamo via fotokita.net

Tahukah kamu mayoritas 99% orang Minang itu beragama Islam. Aturan agama ini telah ditetapkan oleh nenek moyang orang Minang semenjak Islam memasuki kehidupan mereka. Dengan semboyan  “Adat Bersandikan Syara’, Syara’ bersandikan Kitabullah“, dengan begitu setiap keturunan Minang wajib hukumnya secara adat memeluk agama Islam. Maaf, bukan bermaksud apa-apa tapi memang begitulah keadaannya yang terjadi di Minang.

Jika ada keturunan Minang “murtad” atau keluar dari agama Islam maka yang bersangkutan “dibuang” sepanjang adat

Menjadi seorang Muslim Minang bukan hanya sekedar nama saja. Anak Minang harus pandai mengaji serta ibadah wajib tidak boleh ditinggalkan. Dari kecil mereka sudah diajarkan tidur di surau ( Mushala) untuk memperdalam ilmu agama.  Jika ada anak muda Minang yang mengajinya saja masih di eja-eja, shalatnya masih bolong-bolong berarti dia anak Minang yang dulu waktu kecilnya sering berbohong. Ingat ini  lanca kaji dek diulang, pasa jalan dek ditampuah.

Jangan sampai kisah cintamu terhalang karena alasan satu suku, cari tahu asal-usulnya dulu. Daripada nanti menyesal di akhir, lebih baik kecewa di awal

kawin sasuku via thebridedept.com

Minangkabau adalah satu dari ratusan suku di Indonesia yang sangat unik dan satu-satunya suku yang menganut sistem matrilineal di Indonesia. Garis keturunan di Minangkabau ditarik berdasarkan keluarga ibu, satu yang sangat kentara dari sistem ini adalah pewarisan suku kepada anak menurut suku ibunya.

Suku di sini dapat diartikan nama sebuah golongan atau sebuah marga keluarga. Jika dia orang Minang pasti mempunyai suku. Jika punya suku, pasti punya Datuk. Jika Punya Datuk, pasti punya penghulu. Jika punya penghulu pasti punya penghulu pucuk.

Nah, anak muda Minang sekarang masih tahu nggak sukumu apa? Datukmu siapa? Penghulumu gelarnya apa? Jika belum tahu, tanyakan sekarang sama orang tua, itu penting untuk menentukan jodohmu. Mana tau calonmu sekarang satu suku.

Kalau bukan kalian siapa lagi yang akan melestarikan budaya ini. Apa harus diklaim negara tetangga dulu baru, baru mau bergerak maju?

siapa lagi? via nomsyifaldeviantart.com

Perkembangan zaman dewasa ini memberi efek memprihatinkan terhadap kebudayaan nasional, termasuk budaya Minangkabau itu sendiri. Semakin lama eksistensi Minang semakin memudar saat banyak dari generasi muda yang mulai melupakan budaya mereka sendiri. Generasi muda kian tak acuh terhadap sejarah Minangkabau, tentang segala seluk beluknya hingga hal-hal unik yang ada di dalamnya.

Mereka seperti malu akan budaya yang telah diwariskan oleh pendahulunya. Sebaliknya, mereka lebih peduli dengan budaya asing yang masuk dan bangga dengan budaya itu. Jika fenomena ini berkelanjutan bukan tidak mungkin suatu saat nanti budaya Minangkabau bisa punah. Memang perkembangan zaman tidak dapat dielakkan. Budaya Minangkabau yang diwariskan secara turun temurun adalah aset yang amat sangat berharga sehingga perlu kita jaga.

Berbanggalah dengan budaya kita sendiri dengan cara melestarikannya dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Nah, apakah kamu masih bisa dipanggil orang Minang? Apakah  dengan dalih perkembangan zaman, kamu sudah melupakan norma dan budaya Minang yang mengalir dalam darahmu. semoga kita tak menjadi sosok seperti itu di zaman yang ‘katanya’ makin maju ini.

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya