Menilik Sejarah Aceh Disebut ‘Serambi Mekah’, jadi Pusat Kerajaan Islam dan Manasik Haji di Abad ke-17

Asal-usul Aceh disebut serambi Mekah

Mendengar Aceh sebagai kota muslim mungkin sudah nggak asing lagi bagi banyak orang. Kota yang terletak di ujung utara Pulau Sumatera ini memang dikenal dengan penduduknya yang menjunjung tinggi nilai-nilai Islam sejak beberapa abad yang lalu. Jika kamu berkunjung ke Aceh, jangan heran jika semua penduduknya mengenakan kerudung atau berbusana muslim.

Advertisement

Bahkan ada aturan-aturan tertentu yang menerapkan hukum syariah di luar hukum pidana dan perdata yang berlaku. Bahkan, sejarah menyebutkan bahwa asal-usul Aceh disebut serambi Mekah ternyata sudah dicetuskan sejak berabad-abad yang lalu. Nggak heran kalau Aceh dianggap sebagai salah satu kota paling Islami. Yuk simak cerita asal-usul Aceh disebut serambi Mekah!

Aceh mulai mengenal Islam sejak zaman kerajaan Samudera Pasai menguasi pantai utara wilayah Aceh pada abad ke-12

Dayah atau tempat mengaji (pesantren) | Photo by Ayie7791 via commons.wikimedia.org

Lokasi Aceh yang strategis karena berada di Selat Malaka, membuat banyak pedagang singgah di Aceh. Termasuk pedang muslim dari negara-negara Islam ikut singgah di sana. Ajaran Islam pertama kali disiarkan di Aceh oleh seorang ulama dari Hadramut, Yaman. Ia menetap di Aceh pada masa kepemimpinan Sultan Alaudin Mahmud Syah. Dari sana dibangunlah dayah atau pesantren sebagai pusat penyebaran agama Islam, segaligus tembat belajar bagi para Wali Songo.

Islam semakin berkembang di Aceh pada awal abad-17, saat kesultanan Aceh mengalami puncak kejayaan pada masa Sultan Iskandar Muda

Masjid Raya Aceh | Photo by Saiful Mulia via pixabay.com

Banyaknya saudagar baik dari penjuru nusantara maupun dari Arab, China, Iran, India dan Gujarad yang singgah, membuat perekonomian di Aceh semakin maju. Saat itu banyak pula orang yang datang dan belajar Islam di sana, sehingga Islam semakin maju. Hingga para pedagang yang singgah di Aceh menyebut daerah tersebut sebagai “serambi Mekah”.

Advertisement

Aceh dijadikan tempat persinggahan calon jamaah haji Indonesia ketika akan berangkat ke Mekah, sekaligus sebagai pusat manasik

Kota Takengon, Aceh, Gayo | Photo by Redaksi Panteu via pixabay.com

Mengingat lokasinya sangat strategis, para calon jamaah haji sengaja singgah di Aceh untuk melakukan manasik dan belajar Islam lebih dalam sebelum berangkat ke Mekah. Kegiatan ini terpusat di Pulau Rubiah, Sabang. Ditengah kejayaan Islam sekaligus banyaknya calon jamaah haji yang datang, julukan serambi Mekah semakin menguat. Serambi menurut bahasa artinya selasar atau teras, sementara Mekah dianggap sebagai rumahnya. Saat itu calon jamaah haji yang singgah di Aceh, tinggal di teras rumah penduduk, sehingga Aceh semakin lekat dengan sebutan serambi Mekah.

Aceh menganut mazhab atau aliran fikih Syafii, seperti di Mekah. Mazhab ini diterapkan dengan baik dalam kehidupan masyarakatnya

Tugu Modal Aceh | Photo by Sigam via commons.wikimedia.org

Sejak zaman kerajaan hingga saat ini, Aceh dikenal dengan kota yang memiliki banyak persamaan dengan Mekah. Dilansir dari Kumparan, Aceh menganut Mazhab Syafii, seperti di Mekah, mayoritas penduduknya beragama Islam, berbudaya Islam dan menerapkan hukup Islam. Hal ini menjadi salah satu alasan, sebutan serambi Mekah masih melekat di Aceh.

Bahkan, saat ini untuk menghormati masyarakat Aceh, maskapai penerbangan menuju dan terbang dari Aceh, seluruh pramugarinya mengenakan kerudung. Meski begitu, jika kamu berencana liburan ke Aceh jangan khawatir harus berkerudung. Bagi wisatawan perempuan nggak harus mengenakan kerudung kok, asalkan tetap berbusana sopan alias nggak terlalu terbuka.

Advertisement
Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

Penikmat buku dan perjalanan

Editor

Penikmat jatuh cinta, penyuka anime dan fans Liverpool asal Jombang yang terkadang menulis karena hobi.

CLOSE