Ada banyak sekali festival di seluruh dunia. Mulai dari festival lempar tomat di Spanyol sampai festival lumpur di Korea Selatan. Di Indonesia pun ada bermacam-macam festival, seperti Jember Fashion Carnival atau Dieng Culture Festival. Tapi percayalah, semua festival yang disebutkan di atas tidak semengerikan El Colecho, yakni Festival Melompati Bayi di Spanyol.

E Colecho, begitu festival ini disebut memang mempunyai adegan ‘melompati’ beberapa bayi yang diletakkan di sebuah kasur di jalanan. Kira-kira apa sih pesan yang ingin disampaikan oleh festival ini? Yuk daripada penasaran simak aja ulasan Hipwee Travel tentang Baby Jumping Festival ini ya!

Baby Jumping Festival, sebuah tradisi yang sudah berjalan ratusan tahun di Spanyol. Tradisi ini merupakan ritual agama Katolik yang masih berpadu dengan unsur pagan

ngilu liatnya ya via www.nationalgeographic.com

Advertisement

Baby Jumping Festival perpaduan ritual Katolik dan ritual pagan yang menjadi simbol mewakili kemenangan kebaikan dari kejahatan. Festival ini diadakan setiap setahun sekali di pertengahan Juni di desa Castrillo de Murcia. Festival yang sudah dilaksanakan sejak tahun 1620-an ini dilaksanakan pada hari Minggu setelah Corpus Christi. Meskipun asal-usul ritual ini belum jelas, namun beberapa sejarawan menganggap festival ini awalnya adalah ritual kesuburan karena melibatkan bayi di dalamnya.

Festival ini menggambarkan sesosok setan yang berlarian secara liar di desa Castrillo de Murcia dan pada akhirnya akan melompati sekumpulan bayi

jangan diinjak ya via www.slate.com

Dalam ritual ini, aktor utamanya adalah setan. Setan ini digambarkan dalam wujud pria berbaju kuning merah dan juga bertopeng. Si setan akan berlarian secara liar di tengah jalan dan mencaci maki orang-orang di sekitarnya sambil membawa cambuk. Dia akan berlarian dan kemudian orang-orang shaleh pun akan muncul. Si setan lalu berlari melompati kumpulan bayi yang berada di kasur di tengah jalan. Ritual ini juga berarti pembaptisan, di mana sang setan akan menyerap dosa-dosa si bayi. Penonton yang berada di pinggir jalan pun ikut mencaci maki si setan agar mereka terhindar dari nasib buruk di kemudian hari. Si anak kemudian akan ditaburi bunga mawar dan diambil oleh orang tua mereka.

Festival ini menjadi perdebatan di kalangan Gereja Katolik. Namun tiap tahun, festival ini makin meriah dan melibatkan bayi dari luar desa tersebut

Meskipun menjadi perdebatan, namun festival ini jalan terus sampai sekarang. Bahkan, jika dulunya hanya melibatkan bayi yang lahir di desa tersebut, kini bayi dari luar daerah pun ikut berpartisipasi. Festival ini sudah bertransformasi jadi agenda wisata yang mampu menyedot turis untuk datang. Sampai saat ini, belum ada laporan mengenai tentang kejadian buruk dalam festival itu.

Advertisement

Ya walaupun tradisi, tetap aja serem ya kalau lihat langsung. Salah-salah bisa keinjek itu bayi-bayi imut.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya