Jogja bakal punya bandara baru di tahun ini. Bandara bernama New Yogyakarta International Airport atau NYIA akan menggantikan Bandara Internasional Adi Sucipto yang sudah overload. Pembangunan bandara ini penuh pro kontra, terlebih dalam hal pembebasan lahannya. Meskipun demikian, bandara NYIA akan dibuka pada akhir April 2019.

Seminggu jelang dibuka pada 29 April, pembangunan pun dikebut. Di linimasa Twitter pun bermunculan foto-foto progres pembangunan bandara yang berlokasi di Kulonprogo ini. Yuk kepoin seperti apa megahnya bandara yang bisa menampung 14 juta penumpang per tahun ini!

Lokasi pembangunan bandara New Yogyakarta berada di Glagah, Kecamatan Temon, Kabupaten Kulonprogo. Jaraknya sekitar 41 km dari Kota Jogja atau 52 menit perjalanan dengan mobil. Ke depannya akan disediakan bus DAMRI dan juga kereta bandara ke Jogja

landasan pacu via twitter.com

Kalau di bandara Adisucipto kamu nggak menemukan jembatan Aviobridge, nah di NYIA bakal menemukannya. Jadi ada 10 unit yang tersedia di sana alias bisa untuk 10 pesawat

senja di NYIA via twitter.com

Sebagai jalur yang cukup padat di Jawa, memang Bandara Adisucipto sudah tidak mampu menampung penumpang yang makin membludak. Penumpang per tahun di Adisucipto mencapai 1,7 juta penumpang. Di bandara baru, akan mengakomodasi 14 juta penumpang per tahun

udah punya aviobridge via twitter.com

Tak cuma terminal bandara, fasilitas lain pun terus dikebut. Salah satu fasilitas yang sudah jadi adalah masjid dengan kapasitas 600 orang

masjid di NYIA via twitter.com

Luas bandara NYIA 210.000 m2 atau sekitar 11 kali lipat luas terminal bandara Adisucipto. Sementara runway diperpanjang jadi 3.250 meter

perbandingan Adi Sucipto dan NYIA via www.instagram.com

Proses pembangunan bandara ini tidaklah mulus seperti rencana. Ada banyak penolakan dari warga karena tanah dan lahannya yang subur untuk mencukupi pangan kita digusur untuk digunakan sebagai bandara. Proses AMDAL yang bermasalah juga jadi catatan hitam dalam pembangunan bandara ini

Warga menolak pembanganan NYIA via tirto.id

Pemilihan lokasi di Kulonprogo juga cukup riskan mengingat pesisir selatan Kulonprogo rawan bencana gempa dan tsunami. Padahal runway bandara ini sangat dekat dengan garis pantai

rawan tsunami via twitter.com

Advertisement

Isu pembangunan bandara di Kulon Progo memang sudah terdengar sejak penghujung tahun 2011. Sejak tahun 2012, isu tersebut semakin sering terdengar dan mulai menimbulkan pro dan kontra di masyarakat. Dalam rencana pembangunan bandara di Kecamatan Temon tersebut, setidaknya ada lima desa yang akan terkena dampaknya, yaitu Desa Palihan, Glagah, Sindutan, Kebonrejo, dan Jangkrangan.

Tentu saja banyak warga Kecamatan Temon yang menolak menyerahkan tanahnya. Mereka hanya ingin mempertahankan tanah kelahiran dan sumber penghidupannya

Bukan cuma karena harus menggusur tanah warga, proyek bandara ini juga bermasalah di segi keamanan karena dibangun di daerah rawan bencana tsunami Ancaman keamanannya tidak main-main. Tim peneliti Pusat Geoteknologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia menemukan potensi gempa dan tsunami di dekat lokasi proyek bandar udara baru tersebut. Ukuran potensi kekuatannya pun ada di angka magnitude 9.

Advertisement

“Jika suatu saat terjadi lagi tsunami seperti di Pantai Pangandaran dengan (kekuatan kegempaan) magnitude lebih tinggi sedikit saja, bandara baru itu akan kena mulai bagian apron, terminal sampai runway-nya,” ujar Hamzal Wahyudin selaku Direktur LBH Yogyakarta yang mengutip pernyataan Kepala Geoteknologi LIPI Eko Yulianto, dilansir dari Tirto. “Khalayak umum terutama masyarakat calon pengguna jasa transportasi udara seakan-akan sedang dijerumuskan ke kawasan beresiko bahaya ekstra, yaitu kawasan rawan bencana tsunami.”

Advertisement
loading...

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya