“Dil, weekend depan aku ke Jakarta nih, kamu ada kan?”

“Waduh, minggu depan aku mau ke Ubud nih, udah beli tiket.”

“Yah, kalau minggu depannya lagi?”

“Udah beli tiket juga, mau ke Toraja.”

“Traveling mulu ah, susah ditemuinnya.”

“Ya mumpung masih muda kan?”

Travelinglah selagi muda, supaya tak menyesal saat tua. Kamu pasti sudah akrab dengan kalimat tersebut kan? Nggak salah, sama sekali. Kenapa banyak “orang bijak” menyarankan travelinglah selagi muda? Sebab, saat muda, kesempatan dinilai masih sangat terbuka lebar. Selagi belum banyak tanggung jawab yang harus dipenuhi, selagi masih punya waktu yang tak berbatas, pun uang yang hanya digunakan untuk hidup seorang diri. Belum ada yang dinafkahi kan?  Waktu paling ideal traveling bagi anak muda adalah saat menunggu waktu masuk kuliah atau baru lulus kuliah. Sementara bagi pekerja, ialah saat (long) weekend dan ketika cuti berhasil didapatkan.

Traveling memang bagus untuk kesehatan dan pikiran, tapi nggak baik untuk keuangan (baca: masa depan). Coba deh pikir lagi, sudah berapa duit yang kamu keluarkan untuk jalan-jalan?

pengeluaran terbesar dalam hidupmu untuk apa? traveling???

pengeluaran terbesar dalam hidupmu untuk apa? traveling??? via i3.mirror.co.uk

Advertisement

“Ben, ada diskon motor nih, gede banget diskonnya.”

“Nggak ada duit gue.”

“Yaelah, buat traveling kemana-mana bisa. Motor lu udah butut banget itu, daripada keluar banyak biaya buat servis motor tua gitu. Mending dijual, beli baru. Sering ngadat ini.”

“Nggak ada anggaran, nggak punya tabungan.”

“Traveling aja mulu, tapi hidup sehari-hari terbengkalai gitu. Hih!”

Traveling memang membeli pengalaman, yang tak bisa dinilai dengan harta sebanyak apapun. Hal itu sangat benar adanya. Banyak ilmu yang bisa kita ambil dalam sebuah perjalanan. Seperti mampu meningkatkan percaya diri, meningkatkan rasa toleransi, dan sebagainya. Tapi, kamu pernah mikir nggak, sudah berapa banyak rupiah yang kamu keluarkan untuk aktivitas travelingmu?

Beli tiket PP ke Thailand sudah berapa, biaya akomodasi tiga malam misalnya, buat makan disana, masuk tempat-tempat wisata, beli souvenir atau oleh-olehnya, sudah berapa juta? Traveling boleh, asal keseharian apalagi masa depanmu masih baik-baik saja. Duit memang bisa dicari, tapi kalau bisa sekarang ya jangan nanti-nanti. Kamu kudu tetep punya pakaian dan kendaraan yang layak, tabungan pun untuk keperluan dadakan kudu kamu sediakan, jangan sampai ngutang, jangan semua dihabiskan untuk jalan-jalan.

Kamu masih punya keluarga kan? Mungkin mereka bukan lagi prioritasmu sekarang, dan kamu lebih memilih melihat dunia di luar sana. Tapi beri sebagian waktumu juga untuk mereka

sesekali kamu butuh ketawa bareng mereka, ya sesekali saja

sesekali kamu butuh ketawa bareng mereka, ya sesekali saja via il5.picdn.net

Advertisement

Coba bayangin deh, kelak saat kamu menjadi orang tua, ibu khususnya. Kamu sudah mengandung sembilan bulan, melahirkan, mendidik, dan membesarkan buah hatimu, hingga akhirnya puas melihat anakmu sudah bekerja dan mandiri secara finansial. Bukan, bukan ingin meminta uang hasil jerih payah anaknya, orang tua hanya menginginkan waktu dan kebersamaan sesekali seperti masa kecil dulu. Kalau sudah bekerja dan merasa bisa bertanggung jawab pada kehidupannya sendiri, lantas si anak meninggalkan orang tuanya, apa itu adil untuk mereka?

Walau kata atau kalimat permintaan untuk sesekali menengok mereka tak pernah keluar dari mulut Ayah atau Ibumu, percayalah, sesekali mereka menginginkannya. Setidaknya sebulan sekali mungkin. Waktumu, bukan hartamu. Mereka yang menjadikanmu seperti sekarang, tidakkah kamu ingin membagi kebahagiaan dengan mereka juga? Sekadar mengenang masa-masa baru masuk sekolah dulu mungkin, bercanda tawa selepas makan malam di malam minggu, berolahraga bersama di minggu pagi. Sesederhana itu, tak harus langsung menaikkan haji kedua orang tua. Mudah kan?

Nikah memang bukan kewajiban, itu sebuah pilihan. Tapi coba tanya hatimu lagi, apa kamu benar-benar tak pernah menginginkan? Apa pernikahan tak pernah mampir jadi impian?

yakin kamu nggak mau nikah di tempat traveling kaya gini? butuh duit!!!!

yakin kamu nggak mau nikah di tempat traveling kaya gini? butuh duit!!!! via apis.xogrp.com

“Kamu masih sibuk naik turun gunung, naik ke pelaminan kapan? Tuh lihat tuh si Dani sudah punya anak 5 biji!”

Cara membahagiakan orang tua lainnya ialah dengan memberikannya cucu. Iya kan? Tapi nikah juga butuh modal dan biaya. Kalau duitmu habis buat traveling mulu, kapan kamu punya duit buat nikahnya? Ngumpulin duit itu susah, investasi juga nggak mudah. Butuh waktu nggak sebentar. Apalagi kamu tahu kan, biaya gedung buat resepsi makin tahun juga makin naik, biaya catering, videografer, segala macem. Pasanganmu mau nunggu berapa lama? Apa dia mau nikah sama kamu kalau nggak punya apa-apa? Hmmmm~

Kamu pun perlu rumah, mobil, dan beberapa materi bentuk lainnya. Itu kan duniawi aja? Iya memang. Jangan selalu menunda kalau sebetulnya kamu bisa mewujudkannya

sekali dua kali kamu pasti pernah memikirkannya

sekali dua kali kamu pasti pernah memikirkannya via il9.picdn.net

“Ren, papa itu pengen deh lihat kamu kerja dan kemana-mana make mobil. Kenapa kamu nggak mulai nyicil aja sekarang?”

“Duh duitnya belum cukup Pa.”

“Papa bantu uang mukanya, asal kamu yang nyicil. Gajimu cukuplah kalau cicilan cuma 2/3 juta perbulan. Gajimu kan nyampe 6 juta.”

Lagi-lagi masalah prioritas. Tapi selama kamu masih hidup di dunia ini, kamu memang butuh harta duniawi. Semua butuh duit bro, realistis. Kenapa kamu “rajin” banget traveling selagi muda? Sebab kamu merasa masih punya tenaga. Kamu takut masalah kesehatan akan menyulitkanmu saat itu. Iya kan? Sebuah hal yang nggak bisa dibantah, kala semakin tua, raga setiap orang juga semakin melemah. Ini alamiah. Sudah hukum alam.Tapi bukan berarti saat tua kamu jadi nggak punya apa-apa kan?

Kamu butuh rumah. Harga rumah semakin meningkat. Tahun lalu misalnya, sebuah rumah di Serpong, Tangerang Selatan dengan luas tanah 60m2, tinggi dua lantai, dengan harga Rp500juta. Kini, harga rumah tersebut menjadi Rp595juta. Hanya dalam setahun harga rumah sudah naik Rp95 Juta! “Ah, orang tua masih punya rumah. Ntar juga dapat warisan.” Ya, beruntunglah kamu mempunyai orang tua yang mampu memberimu warisan. Tapi satu hal lagi ya, berapa jumlah anggota keluarga yang berhak mendapat warisan? Jangan hanya gara-gara rebutan warisan, hubungan persaudaraan menjadi rusak kan? Yuk mandiri dari sekarang.

Pengecualian, kamu boleh terus traveling, setiap hari bahkan. Kalau dari traveling itu kamu dapat pemasukan~

kalau kamu bisa begini ya nggak papa~

kalau kamu bisa begini ya nggak papa~ via il5.picdn.net

Banyak propaganda dari beberapa ‘traveler sukses’ agar kita traveling mumpung kita masih muda. Ikuti passion-mu, jangan sampai menyesal jika kamu sudah tua nanti. Kalau perlu, tinggalkan pekerjaan yang mengekang untuk mewujudkan passion-mu. “Nih buktinya gue bisa!” Inget satu hal, nasib orang nggak ada yang sama.

Kan belum dicoba? Ya iya, tanya hatimu dulu, bener passion mu disana? Yakin kamu bisa bersaing dengan banyak traveler lainnya untuk dapet duit dari situ? Propaganda tersebut ada benarnya, namun kalau bisa jangan dianggap terlalu serius. Jika kamu mampu mengejar passion-mu, oke gapapa. Lanjutkan. Namun, kita hidup di dunia di mana passion terkadang tidak sesuai dengan realita.

Lihat dulu, apa iya foto-foto travelingmu yang selama ini asal jepret dan banyak narsisnya itu bakal laku dijual? Kamu bisa nulis juga kah untuk nerbitin buku travel? Kalau bisa ya coba tawarkan ke penerbit dulu, siapa tahu royaltinya lumayan. Dicoba dulu, jangan langsung asal melepaskan pekerjaan.

Tulisan ini sama sekali tidak menyuruhmu untuk berhenti traveling, tidak. Tapi lebih menyarankan untuk menyeimbangkan aktivitasmu agar aman isi dompetmu. Untuk traveling dan tentunya untuk masa depanmu nanti. (terlalu sering) Traveling di waktu muda bisa pula mengganggu kesehatan (dompetmu). Selagi ada waktu, ada baiknya kamu pikirin dulu.

“Mengapa dulu tidak menyisihkan uang untuk ditabung ya?”

Jangan sampe pertanyaan ini muncul dipikiranmu kelak. Tengok juga orang-orang di sekitar, khususnya orangtuamu. Bukankah kelak kamu bisa traveling bersama keluarga kecilmu? Tidakkah itu lebih menyenangkan? Selamat berpikir sehat. Selamat hidup seimbang!

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya