“Waah.. Ada burung hantu, lucu banget. Kesana yuk, fotoin aku sama mereka.”

“Ya ampun, norak amat. Kaya nggak pernah lihat burung hantu aja.”

“Ya pernah sih, tapi kan biasanya malem, jatohnya serem kalau malem, hahaa..”

“Sebentar, kamu lihat deh, mereka ngantuk. Kasihan ~”

Ya, hewan seringkali jadi korban keserakahan manusia. Demi mendapatkan lembaran uang itu, manusia sekarang rela dan menganggap `penyiksaan` terhadap hewan merupakan sebuah hal wajar. Karena mereka tak kuasa melawan, manusia jadi seenaknya mempertunjukkan kebolehan mereka tanpa peduli pada kondisi. Lagi-lagi alasannya cuma satu, uang. Tengoklah kebun binatang, beberapa sering memperlakukan para hewan dengan tidak baik. Di beberapa obyek wisata pun belakangan ini terjadi eksploitasi hewan. Yuk, kembalikan kesadaran kita bersama, semoga hati nurani masih pada tempatnya.

Tentang burung hantu. Rasanya sejak SD kita sudah tahu, burung satu ini merupakan hewan nokturnal alias beraktivitas pada malam hari. Tapi sekarang, apa yang terjadi?

mereka salah apa sebenernya? via chirpstory.com

Coba deh bayangin diri sendiri, apa rasanya kalau jam tidurmu kurang? Gimana rasanya kalau pas ngantuk banget dan hampir tertidur lantas mukamu disiram air? Itu yang terjadi pada mereka, itulah nasib burung-burung hantu yang sengaja dieksploitasi di beberapa tempat wisata. Mereka DIPAKSA tetap terjaga di siang hari yang begitu teriknya agar bisa menarik pengunjung untuk berfoto bersama mereka.

Mirisnya, burung hantu tersebut sengaja disemprot air agar tetap terjaga. Saat ditanya pada tukang foto, mereka malah mengatakan hal itu merupakan sesuatu yang lumrah. Kalau manusia selalu minta dimanusiakan, bukankah hewan juga punya hak untuk diperhatikan kesehatan, keselamatan, dan eksistensinya di muka bumi ini?

Sebutlah Kawah Sikidang di Dataran Tinggi Dieng, Bukit Kasih Kanonang, Bukit Tingtingon Tomohon, Watu Pinawetengan, Jembatan Soekarno di Sulawesi Utara, dan sejumlah destinasi lainnya. Kamu bakal makin kasihan sama burung lucu ini..

Advertisement

jadi prestise gitu ya kalau foto bareng mereka? via mongabay.co.id

Pergilah ke tempat-tempat tersebut di atas, dan kamu akan mendapati burung bermuka lucu dengan wajah berbentuk hati ini menjadi obyek foto para wisatawan. Kasihan. Dulu, belum sebanyak ini, hanya ada dua atau tiga saja. Tapi bulan Agustus ini, ada sampai sepuluh di tiap lokasi wisata. Wisatawan harus mengeluarkan kocek Rp 5 ribu jika berfoto dengan kamera sendiri, dan Rp 20 ribu untuk foto langsung cetak. Iya, burung-burung itu jadi pelengkap destinasi wisata. Sayangnya, mirisnya, hidup mereka tereksploitasi. Sekali lagi, siang itu jatah mereka tidur.

Kalau kamu kesana, coba deh perhatiin, burung hantu itu selalu terlihat mengantuk dan sesekali tertidur. Sementara sang pemilik begitu semangat menawarkan jasa foto. Kalau ada pelanggan, mereka seketika akan dibangunkan. Kadang ketika sesi pemotretan dilangsungkan, mata burung-burung ini terlihat mulai tertutup. Lagi-lagi dipaksa bangun agar memuaskan pelanggan dengan foto yang bagus. Antusiasme wisatawan memang jadi tinggi dengan keberadaan mereka, tapi jangan sampai dong hati nuranimu tertutup.

Nggak cuma ada di destinasi wisata, burung hantu juga diharapkan jadi magnet bagi berlangsungnya Car Free Day di beberapa kota. Apa esensinya?

kamu suruh dia tidur pas malem pun itu nggak bisa, sudah dari sononya 🙁 via www.profauna.net

Pada dasarnya, kegiatan Car Free Day (CFD), ialah mengurangi polusi udara di kota-kota. Tapi sepertinya pemerintah beberapa kota harus mengkaji ulang tentang efek samping atau beberapa hal ironis yang merupakan dampak dari kegiatan ini deh. Sebutlah sampah yang luar biasa setelahnya, dan eksploitasi binatang. Kalau alasannya ekonomi, kita bisa dong untuk jadi nggak sedangkal itu, harusnya.

CFD di Gresik, Solo, Pekanbaru, Malang, Surabaya, dan beberapa kota lainnya, ada burung hantu juga kan disana? Pertanyaannya, buat apa? Lagi-lagi buat menarik animo warga, pengunjung CFD. Untuk berfoto bersama dan bahkan diperjualbelikan, harganya mulai dari Rp 750 ribu bergantung ukuran. Ada juga yang berdalih menyosialisasikan kalau toh burung hantu tak berbahaya dan pantas dipelihara. Nggak pas siang hari juga lah ya dan juga dibawa ke sana. Apa artinya kamu bilang menyayangi bumi dengan mengurangi polusi udara, kalau kamu malah melecehkan yang lainnya.

Dokter hewan bilang, si owl yang cantik itu bisa stres berkepanjangan kalau dipaksa beraktivitas saat siang. Lebih-lebih bisa berujung pada kematian. Apa ini nggak sama dengan pembunuhan?

mereka ngantuk, butuh tidur, lelaaah via mongabay.co.id

Dilansir dari profauna.net, Drh. Wita Wahyudi mengatakan, burung hantu yang dipaksa aktif di siang hari itu akan memicu stres burung hantu yang tidak bisa ditolerir oleh tubuhnya sendiri. Tak hanya itu, aktivitas di siang yang terik juga berdampak buruk terhadap retina burung hantu yang sensitif terhadap sinar, jelas lagi ini sama sekali tak ramah untuk satwa.

“Faktor stres yang berkepanjangan akan memicu peningkatan pengeluaran corticosteroid dari tubuh yang akan berdampak imun binatang tersebut melemah, sehingga mudah terserang penyakit,” jelas Wita.

Asal kamu tahu, burung hantu punya peran dalam menjaga keseimbangan ekosistem, karena mereka adalah predator yang memangsa satwa yang berpotensi menjadi hama seperti tikus. Nah, kalau mereka terus diburu dari alam, diperdagangkan dan dikoleksi di rumah-rumah, maka keseimbangan alam jadi timpang. Kamu bisa bayangin sendiri.

Sejumlah aktivis Protection of Forest & Fauna (PROFAUNA) sudah  mengecam aktivitas tersebut. Tolong, bantu kelestarian hewan ini, kamu jangan sampai ikut berfoto agar praktik ini segera berhenti

nggak foto sama mereka nggak bikin follower instagrammu berkurang kan? via mongabay.co.id

Ada beberapa alasan kenapa ada beberapa orang yang gemar memelihara burung hantu sebagai koleksi. Alasan yang sering dilontarkan ialah, cinta. Karena mereka mengaku merawatnya dengan benar dalam arti memberi makan dan minum dengan cukup. Padahal, apa itu aja cukup? Enggak.

“Alasan cinta satwa itu terlalu mengada-ada dan kontradiksi dengan perlakuan mereka terhadap burung hantu. karena membawa burung hantu untuk jalan jalan di siang hari atau berfoto di CFD itu menunjukkan mereka sebenarnya tak cinta, tapi mengeksploitasi,” papar Rosek Nursahid, pendiri PROFAUNA Indonesia dilansir dari profauna.net

Sekadar info juga, 11 Agustus lalu, sudah ada respon dari Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jawa Tengah. BKSDA mengeluarkan surat bertanggal 10 Agusus kepada pelaku peragaan burung hantu di sekitar Dieng. Surat yang ditandatangani kepala BKSDA Suharman itu intinya meminta pelaku menghentikan peragaan burung hantu untuk berfoto di siang hari. BKSDA meminta mereka memperhatikan kesejahteraan satwa.

Kalau Provinsi Jawa Tengah sudah  bertindak, bagaimana dengan Provinsi Sulawesi Utara yang tempat wisatanya juga ada praktik serupa? Atau provinsi-provinsi lainnya? Kita doakan, semoga diberhentikan segera. Untuk membantu kelestarian dan kesejahteraan satwa, kamu juga tolong nggak lagi foto sama mereka ya. Harapannya satu, praktik ini semakin berkurang peminatnya dan berhenti semua. Dan semoga para tukang foto punya ide yang lebih baik untuk mencari nafkah tanpa harus menyiksa hewan. Amin.