Bagi sebagian masyarakat Indonesia, puasa bukanlah ibadah yang nggak berat-berat amat. Puasa ‘cuma’ menahan lapar dari Subuh sampai Magrib. Ya bisa dibilang sekadar mengubah waktu makan saja sih. Makan pagi dicepetin ke makan sahur. Makan siang ditunda sampai matahari terbenam. Lalu makan malam? Ya habis tarawih, haha. Itulah alasan mengapa puasa di Indonesia yang cuma 13 jam itu nggak terlalu berat. Kecuali bagi beberapa golongan manusia (ibu hamil, menyusui, manula dan anak-anak) yang memang tidak wajib berpuasa.

Mari kita jalan-jalan ke luar negeri. Ada beberapa negara yang harus berpuasa lebih lama dari Indonesia. Negara-negara Eropa rata-rata harus berpuasa selama 17-18 jam lebih. Di Islandia dan Greenland bahkan mencapai 21 jam! Tahun ini di Belanda, durasi puasa selama 18 jam 39 menit atau hampir 19 jam sehari. Jadi mereka yang berpuasa di sana cuma punya waktu kurang lebih 5 jam saja untuk tidak berpuasa.

Advertisement

Hipwee Travel kali ini mewawancarai Pramudya Arif Dwijanarko (28) yang akrab disapa Pram, salah seorang mahasiswa S2 di Belanda yang harus berpuasa hampir 19 jam di sana. Yuk simak obrolan kami dengannya.

Berpuasa di Belanda sangat berbeda dengan di Indonesia. Mulai dari waktu puasa sampai budaya Ramadan di sana

pram dan keluarga di belanda via www.instagram.com

Berpuasa di Eropa bukanlah perkara mudah. Mulai dari durasi puasa yang begitu panjang dengan suasana bulan Ramadan yang nggak jauh beda dengan hari biasa. Apalagi waktu sahur dan buka pun begitu berbeda dengan di Indonesia. Bayangkan saja, sahur lebih pagi dan buka lebih malam. Malam banget malah, sekitar jam 10. Sementara aktivitas kuliah ataupun bekerja tetap harus dilakukan seharian. Jadi harus pintar atur agenda dan juga asupan nutrisi.

“Adzan Subuh sekitar pukul 3.30 sementara Magrib sekitar pukul 21.50 waktu setempat. Ya hampir 19 jam ya. Semakin mendekati puncak summer, waktu Subuh pun semakin pagi sedangkan waktu Magrib pun semakin malam. Alhasil waktu puasa jadi semakin panjang,” tutur Pram melalui pesan singkat kepada Hipwee.

Sebenarnya apa sih kendala berpuasa 19 jam di Belanda?

berpuasa di eropa via www.instagram.com

Advertisement
“Kendala utama sih waktu tidur malam yang pendek. Selesai Tarawih jam 12 dan jam 3 harus sudah siap untuk sahur. Waktu tidur praktis cuma kurang dari 3 jam. Kalau ketiduran, bablas nggak sahur, bisa teler seharian. Beberapa kali disiasati dengan tetap melek dan baru tidur setelah salat Subuh. Tapi resikonya ya akan ngantuk berat di pagi harinya atau harus menunda aktivitas sampai jam 10-11 siang,” tutur mahasiswa program Magister di Universitas Delft ini.
Durasi tidur yang pendek tentu jadi masalah tersendiri. Aktivitas bisa terganggu jika kurang tidur. Di musim panas, kendalanya makin berat karena cuaca cukup panas dan banyaknya ‘pemandangan’ yang bikin panas juga.
“Saat summer, suaca sangat panas. Tubuh yang mudah berkeringat membuat cairan lebih cepat berkurang. Pun godaan iman juga. Tahu sendiri’ kan seperti apa pakaian bule ketika musim panas? Itu jadi godaan yang terberat terutama untuk para jomblo,” tutur Pram dengan nada mengece jomblo.

Lalu, bagaimana dengan berbuka puasa? Apakah ilmu ‘Para Pencari Takjil’ bisa diterapkan di sana?

buka bersama KBRI via kagama.co

“Mental mahasiswa masih banyak berlaku disini. Ada 2 masjid di sekitar kampus menyediakan menu berbuka setiap harinya. Menu-menunya khas Maroko atau Turki. Kalau kangen dengan cita rasa khas makanan Indonesia, KBRI mengadakan buka bersama tiap hari Jumat. Ya namanya mahasiswa, tetep rela menempuh perjalanan 40-an menit demi menuntaskan rasa rindu dengan makanan nusantara. Kadang-kadang ada juga beberapa WNI yang ngadain buber atau sekedar mengundang untuk makan ke rumahnya,” tambah Pram yang dulunya ketika masih kuliah di Jogja keliling dari masjid ke masjid mencari takjil. 
Bagi Pram sendiri, puasa hampir 19 jam memang godaannya begitu berat. Apalagi ia sudah berkeluarga di sana. Meskipun begitu banyak kok yang bisa berpuasa meskipun belajar dan bekerja. Toh, asal ada niat dan kemauan kuat, puasa 19 jam bisa aja kok dijalani dengan baik tanpa mengganggu aktivitas.
Semoga pengalaman Pramudya bisa membuat kamu semua senantiasa bersyukur berpuasa di Indonesia.
Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya