Asal kamu tahu, mendaki itu adalah hak setiap manusia. Selama ia mampu dan bisa mematuhi aturan pendakian, semua orang punya hak untuk menikmati indahnya pemandangan alam di gunung. Tak terkecuali dengan kami yang memiliki postur tubuh yang berisi. Tak ada yang salah dengan postur tubuh yang bulat ini. Selama kita bisa menjaga kesehatan dan memiliki ketahanan serta kekuatan yang cukup untuk melakukan pendakian, kami punya hak untuk mendaki dengan tenang.

Namun tak semua orang Indonesia memiliki pemikiran sama seperti itu. Ada juga beberapa orang yang menganggap bahwa kami yang bertubuh gemuk ini tak layak untuk mendaki. Seakan kami adalah sosok lemah, banyak orang yang mem-bully dan mengejek karena bentuk tubuh yang kami miliki.

Sejak awal memiliki niatan untuk mendaki, ada beberapa teman yang seakan tak percaya. Mereka tak yakin kami tahu apa itu mendaki

Diremehkan via www.cosmopolitan.com

‘Yakin kamu ikut naik gunung?’ adalah sebuah pertanyaan yang kami dengar saat pertama kami mengutarakan niat untuk ikut mendaki bersama teman-teman. Seakan tak percaya dengan apa yang mereka dengar, mereka kembali menanyakan hal yang sama untuk kedua kalinya. Sedikit tersinggung sebenarnya.

Namun kami berusaha memaklumi pertanyaan mereka. Di mata kebanyakan orang, manusia berpostur seperti kami memang identik dengan sifat pemalas. Jangankan untuk mendaki, untuk berjalan membeli sesuatu di warung depan kosan saja enggan. Hanya saja, ketika kami serius berniat untuk mendaki, kami tak akan setengah-setengah dalam berusaha.

Beberapa teman menyangsikan kemampuan kami. Berkata fisik kami tak mumpuni untuk mendaki

Advertisement

Diragukan via pandabearshape.com

Mereka meragukan kami bukan tanpa alasan. Bagi mereka yang sudah sering mendaki, sosok bertubuh berisi seperti kami ini memiliki fisik yang tak cocok sebagai pendaki. Mereka bilang bahwa kami tak akan kuat mendaki gunung hingga puncak dengan fisik kami yang seperti ini. Berat badan yang lebih dari teman pada umumnya membuat orang lain menyangsikan kemampuan mendaki kami. Berkata kami tak mungkin bisa mencapai puncak dengan fisik seperti ini.

Bahkan ada juga yang menganggap kami beban jika diikutkan dalam rombongan. Mereka bilang kami tak punya kekuatan untuk melakukan pendakian

waduduh via www.instagram.com

Meski samar dan seakan berbisik begitu saja, kami tahu bahwa di belakang sana mereka berkata kami hanya akan menjadi beban dalam perjalanan pendakian. Yang membuat hati ini semakin sakit adalah perkataan mereka tersebut dikatakan di belakang tanpa berani mengucapnya secara langsung. Marah, kecewa hingga sedih bercampur jadi satu. Perasaan tersebut berkecamuk dalam diri hingga membuat kami berpikir ulang untuk ikut mendaki bersama mereka.

Berusaha untuk berpikir positif, kami menganggap mereka mungkin hanya bercanda. Dengan begitu kami tak menyerah sebelum berusaha

gendut nggak masalah via www.instagram.com

Jujur saja ada rasa sakit hati mendengar kalimat dari semua orang yang meragukan kemampuan kami. Mana ada sih orang yang tak sakit hati jika direndahkan seperti itu? Namun kami yang sedari dulu sudah terbiasa dihina karena fisik sudah mulai biasa dengan ejekan mereka. ‘Mungkin niatnya hanya bercanda’. Satu kalimat yang selalu kami tanamkan dalam hati. Penguat diri agar tak menyerah sebelum berani mencoba dan berusaha.

Nyinyiran dan keraguan mereka menjadi motivasi untuk kami. Kami melakukan banyak persiapan demi pembuktian diri

Agar kami tak menyerah via www.peekholidays.com

Ada rasa terima kasih yang sebenarnya ingin kami ucapkan kepada semua yang sedari dulu telah meragukan. Mereka yang bilang karena fisik kami yang berisi sehingga kami tak cocok menjadi pendaki berperan dalam proses penguatan diri kami. Dari ejekan tersebut kami bangkit. Kalimat mereka yang menyakitkan tersebut jadi motivasi agar kami lebih serius dalam melakukan persiapan. Melatih otot kaki hingga latihan stamina kami lakukan demi membuktikan bahwa sosok chubby dan berisi juga bisa menaklukan gunung yang tinggi.

Ada rasa bangga yang luar biasa saat akhirnya kami mencapai puncak. Membuktikan bahwa anggapan mereka selama ini salah

Segala persiapan yang sudah kami lakukan akhirnya membuahkan hasil. Detik-detik menjelang sampai di puncak semakin memacu semangat kami. Seakan ada dorongan dalam dada agar kami tak menyerah hingga puncak. Keberhasilan sampai pada puncak gunung mematahkan anggapan mereka yang sedari dulu meragukan. Perasaan bahagia dan bangga yang tak tertahankan akhirnya kami luapkan dengan berteriak sekencang-kencangnya. Teriakan keras kami seakan menjadi bukti, bahwa postur tubuh chubby dan berisi juga bisa mendaki. Tak perlu lah mendengar anggapan mereka-mereka yang selalu meragukan.
Nah, buat kalian yang mengalami hal yang sama, jangan menyerah. Mendaki gunung adalah kegiatan menyenangkan yang menjadi hak setiap orang. Selama persiapan kalian matang dan tak setengah-setengah menjalankan, kalian pasti bisa kok mencapai puncak yang kalian idamkan. Jangan dengarkan bully-an orang, ya. Cukup buktikan saja bahwa kalian bisa. 😀

Suka artikel ini? Yuk follow Hipwee di mig.me!