Indonesia memang terkenal dengan sebutan surga dunia. Tak cuma urusan pemandangan alamnya, namun Indonesia juga kaya dengan keindahan dan keragaman budaya yang kamu pasti suka. Salah satunya ada Kampung Tarung Suku Loli di Sumba Barat yang bisa kamu sasar sebagai tujuan wisata.

Tak cuma menyuguhkan adat khas Sumba yang masih mereka jaga, di sana kamu juga bisa menikmati bentuk arsitektur rumah adat mereka yang oke punya. Sebagai traveler sejati, kamu musti mengunjungi desa ini!

Kamu yang belum kenal, yuk kenalan dulu dengan Kampung Tarung ini!

Desanya cakep~ via dians999.wordpress.com

Jika desa adat identik dengan tempat terpencil yang jauh dari peradaban, namun Kampung Tarung seakan menepis anggapan tersebut. Layaknya karang yang berdiri kokoh di tengah gempuran ombak, Kampung Tarung menjadi desa tradisional di tengah kemajuan kota sekitar.

Letak Kampung Tarung yang tak jauh dari kota membuat akses menuju kesana cukup mudah. Terletak di Waikabubak, ibu kota Sumba Barat, Kampung Tarung dapat ditempuh dengan menggunakan kendaraan roda dua maupun roda empat dengan jarak tempuh kurang lebih 15 menit.

Tak hanya sebagai tempat tinggal, Kampung Tarung juga difungsikan sebagai institusi sosial dan keagamaan

Advertisement

Jadi pusat keagamaan juga via travellie.com

Yang unik dari Kampung Tarung ini adalah fungsi sosial dan keagamaan yang melekat padanya. Jika di desa-desa lain kamu bisa keluar-masuk dengan bebas, namun di Kampung Tarung kamu harus mematuhi adat setempat. Sebelum memasuki daerah Kampung Tarung, kamu wajib meminta izin dari Rato (pemuka adat suku Loli).

Alasannya tentu agar kamu tak mengusik ketenangan warga dan kesakralan adat mereka. Meski berdiri di tengah kepungan kemajuan kota Waikabubak, namun Kampung Tarung tetap menjunjung tinggi adat mereka. Bagi suku Loli, Kampung Tarung adalah tempat yang diyakini sebagai tempat tinggal pertama leluhur Sumba, Sudi Wonanyoba, yang selalu menjaga pasangannya yang bernama Tarung. Keyakinan pun menguat, ada leluhur tertinggi, menjaga yang lemah.

Dengan dasar kepercayaan tersebut, wajar jika Kampung Tarung dijadikan pusat fungsi institusional dan keagamaan dari suku Loli. Desa ini dianggap sakral dan tak boleh sembarangan diusik oleh wisatawan yang tak berizin dari sang Rato.

Arsitektur dan tata ruang Kampung Tarung wajib diacungi jempol. Selain tertata rapi, bangungannya juga tahan gempa!

kampung tarung via www.acehkita.com

Salah satu daya tarik utama dari Kampung Tarung ini adalah tatanan desanya. Berbicara soal bangunannya jelas kita pasti terpana oleh keindahan dan keunikannya. Namun lebih dari sekadar bentuk belaka, setiap rumah di Kampung Tarung memiliki filosifinya sendiri-sendiri.

Rumah-rumah adat pada Kampung Tarung ini disebut Uma. Mereka ditata secara memanjang dengan struktur segi empat, di atas panggung yang ditopang tonggak-tonggak kayu. Umumnya Uma dibangun dengan kerangka utama tiang turus (kambaniru ludungu) sebanyak 4 batang, dan 36 batang tiang (kambaniru) berupa struktur portal dengan sambungan yang umumnya memakai kayu mosa, kayu delomera, dan kayu masela.

Di Kampung Tarung terdapat 38 rumah adat. Yang hebat dari rumah adat tersebut adalah meski pembuatannya tak menggunakan logam sama sekali, namun untuk urusan kekuatan bangunan mah nggak perlu diragukan. Rumah adat Kampung Tarung ini sudah terbukti tahan gempa sejak dulu kala!

Meski di tengah gempuran budaya modern, warga Kampung Tarung tetap memegang budaya Merapu. Kepercayaan kuno yang jadi filsafat hidup warga Kampung Tarung

Bagi suku Loli yang tengah digempur budaya modern, mempertahankan budaya asli mereka bukanlah perkara mudah. Budaya Merapu yang sedari dulu jadi filsafat hidup mereka kini mulai terkikis dengan masuknya budaya baru. Bagi warga asli suku Loli, Merapu yang memiliki pusat ajaran meyakini pemujaan pada roh leluhur dan meyakini bahwa kehidupan ini hanya sementara tak ubahnya seperti agama yang jadi jalan hidup mereka.

Sayangnya, beberapa tahun belakangan ini makin sedikit anak-anak muda yang tertarik belajar seputar Merapu. Mereka lebih memilih untuk meyakini agama-agama baru, seperti Katolik atau Islam dan melupakan Merapu sebagai kepercayaan leluhur mereka.

Untungnya, berkat mulai ramainya Kampung Tarung didatangi wisatawan, pemerintah Sumba pun jadi lebih perhatian terhadap kepercayaan Merapu. Sehingga Merapu jadi lebih mendapat tempat di hati anak-anak suku Loli.

Memang sih jika dari penjelasan dan gambar doang kurang greget. Oleh karena itu kamu wajib datang sendiri ke sana. Nikmati pemandangan dan budayanya. Oh iya, jika nanti kamu berkunjung ke sini, jangan lupa membeli oleh-oleh kain tenun khas Sumba. Selain indah, harganya juga relatif murah.

Selamat traveling ke Sumba!