Decak kagum dan sorak penonton bergemuruh meriah sepanjang jalan. Mereka menyoraki satu atraksi menegangkan namun mampu membuat semua mata tertuju kepada pemainnya. “Wah! Diiris pakai pisau nggak berdarah?! Kok bisa?!” Kalimat tersebut pasti terucap dari kalian yang beru pertama kali melihat pertunjukannya.

Debus, itu namanya. Satu kesenian khas Banten yang memang memiliki tingkat bahaya yang tinggi. Bagaimana tidak. Kesenian ini bermain-main dengan maut. Mulai dari diiris dengan pedang sampai mengunyah pecahan kaca. Apa nggak gila orang yang bisa melakukan itu semua? Yuk kita bahas budaya Banten yang satu ini.

Menampilkan hal-hal yang nggak masuk akal, di setiap pertunjukan debus selalu saja penonton meneriakkan sorai kekaguman

Selalu ramai ditonton! via satriamudabanten.wordpress.com

Seberapa sering kamu menemukan orang yang berani mengunyah beling? Atau seberapa sering kamu menemui sosok orang-orang yang berani mengiris tangannya sendiri dengan parang?

Hal-hal tersebut merupakan kegiatan yang tidak semua orang bisa. Hal-hal diluar akal sehat yang mereka lakukan jelas memukau para penonton. Siapa sih yang nggak terpana ketika ada sesosok manusia dengan berani mengiris lidahnya dengan menggunakan parang? Nggak putus lagi lidahnya. Menandakan bahwa dia adalah sosok manusia yang sakti mandraguna!

Advertisement

Wajar saja sorak sorai penonton begitu riuh terdengar kala pertunjukan debus berlangsung.

Pertunjukan berbahaya ini nggak sembarang dimainkan oleh orang. Pemainnya harus mempersiapkan banyak hal terlebih dahulu

Sudah latihan sejak lama via shoffulislam.wordpress.com

Kamu yang sudah pernah menyaksikan atraksi debus dengan mata kepalamu sendiri pasti paham betul betapa menantang dan berbahayanya pertunjukan seni khas Banten yang satu ini. Ketika pertama kali melihatnya, adalah hal yang sangat wajar ketika kamu berdecak kagum dan berkata “Gilak!”

Dari tingkat bahayanya, kamu tentu paham benar kalau debus bukan hal yang bisa dimainkan sembarangan.

Faktanya, mereka yang sudah terlatih bermain debus saja harus mempersiapkan banyak hal sebelumnya. Mulai dari mempersiapkan perlengkapan seperti parang hingga linggis. Sampai persiapan mental dan fisik dari pemain debusnya. Biasanya, ada beberapa pantangan yang harus dijauhi seminggu hingga dua minggu sebelum pementasan berlangsung.

Nah, pantangan tersebut biasanya adalah:

(1) tidak boleh minum-minuman keras
(2) tidak boleh berjudi
(3) tidak boleh mencuri
(4) tidak boleh tidur dengan isteri atau perempuan lain
dan lain sebagainya.

Kalau dilihat, pantangan tersebut wajar kan dilakukan manusia? Nah, itu adalah bukti bahwa debus ternyata mengajarkan kebaikan bagi warga Banten.

Dilihat sekilas, debus memiliki kesan mistis dan klenik. Namun ternyata ritualnya bernuansa Islami loh…

Diawali dengan lagu tradisional dan zikir dulu via wisatabanten.com

Orang awam mungkin akan mengira bahwa debus itu identik dengan hal-hal berbau mistis dan klenik. Iya lah. Ada orang nggak mempan diparang itu sudah pasti dikaitkan dengan barang-barang berbau klenik. Apalagi debus yang selurus pertunjukannya ngeri itu.

Namun, nyatanya ritual debus tak mencerminkan klenik sama sekali, loh. Umumnya, setiap atraksi debus memang diawali dengan menembangkan lagu-lagu tradisional atau yang biasa disebut gembung. Nah, setelah gembung berakhir, dilanjutkan dengan pembacaan zikir serta macapat yang berisi puji-pujian kepada Allah SWT dan Nabi Muhammad SAW. Tujuannya adalah agar mendapat keselamatan selama mempertunjukkan debus.

Dan debus juga ternyata digunakan sebagai media penyebaran agama Islam loh….

Bermodal “Semua hal yang terjadi atas izin Allah SWT” via MARNESKLIKER.COM

Kalau mau menilik ke belakang, debus ternyata sangat identik dengan agama Islam. Utamanya pada masa persebaran agama Islam di nusantara dan tanah Jawa. Konon, kesenian yang disebut sebagai debus ada hubungannya dengan tarikat Rifaiah yang dibawa oleh Nurrudin Ar-Raniry ke Aceh pada abad ke-16. Sebuah tarikat yang mengutamakan kekhusyukan beribadah dan memfokuskan semuanya atas kehendak Allah.

Di Banten sendiri, debus membantu menyebarkan Islam dari doa-doa yang diambil dari ayat suci Al-Qur’an sebagai jampi-jampi untuk kekebalan tubuh. Berbekal, “La haula walla Quwata ilabillahil ‘aliyyil adhim” atau tiada daya upaya melainkan karena Allah semata, para pemain debus memasrahkan semuanya atas izin Allah SWT untuk mendapat kekebalan dari senjata tajam.

Dari situ banyak ahli debus yang semakin kuat iman dan kecintaannya pada Islam.

Karenanya debus begitu akrab bagi warga Banten. Hampir setiap acara warga, debus selalu jadi pembukanya

Akrab dengan warga Banten via merahputih.com

Setelah melalui kurun waktu ratusan tahun, debus sudah semakin akrab bagi warga Banten. Bahkan kalau kita yang bukan warga Banten mendengar kata ‘debus’, pasti langsung ingat Banten, kan? Sampai sebegitu akrabnya loh debus dengan warga Banten.

Karenanya adalah hal yang sangat wajar ketika kamu menemui debus di hampir setiap acara yang diselenggarakan warga Banten. Saking sudah mendarahdagingnya mungkin, ya. Debus sudah menjadi salah satu icon Banten yang tak bisa dilepaskan lagi. Sebuah warisan budaya ratusan tahun yang hingga kini tetap saja membuat mata kita terbelalak tak percaya.

Oh, iya. Jangan coba-coba main debus di rumah, ya. Hehehe