Aku sebenarnya ragu untuk menulis ini.

Ragu, karena setiap kata bisa berarti semu dan bahkan bikin lidah kelu. Ragu, jika akhirnya hanya meninggalkan rasa sendu. Sekaligus luka di hatiku ataupun hatimu.

Tapi, nasi belum menjadi bubur. Jadi bolehkan aku menulis surat sederhana untukmu ini?

aku tulis surat ini via www.instagram.com

Januari 2015

Sejak kata perpisahan darimu muncul aku tak kuasa menahan pilu. Semua pengisi kota ini, ya jalan, jembatan, museum, cafe ataupun kampus seakan kompak menyiksaku dengan kenanganmu. Hatiku tak kuasa menahan air mata kesedihan yang seharusnya pantang laki-laki teteskan untuk hal picisan macam itu. Kehilangan kamu bukan berarti kehilangan segalanya. Itu kalimat bijaknya. Namun kehilanganmu sama saja kehilangan hal paling penting dalam diriku, semangat hidup!

Advertisement

Berlebihan sih. Sebenarnya nggak selebay itu…

Dear Mantan. Kalau boleh aku akan menggunakan kata “Tersayang”.

dear mantan via i.ytimg.com

Dear Mantan Tersayang,

Perlu kamu tahu, semenjak kita berpisah, aku cukup alergi dengan kota ini. Ya, hampir semua lekuk sudut kota ini telah khatam kita sambangi. Setiap landmark penting telah kita datangi. Mana mungkin aku tak bisa teringat wajahmu saat melewati museum ini? Bahkan setiap detil kenanganmu terngiang jelas ketika kulintasi kampus di sore hari.

Cinta bisa hilang, tapi tidak dengan kenangan.

hai mantan via www.shutterstock.com

April 2015

Tinggal di kota yang sama denganmu membuatku resah. Aku harus mengubah arah. Kuputuskan untuk keluar dari kota ini untuk sementara. Hijrah. Di situlah petualanganku dimulai. Sebuah proses mengikhlaskan yang tentu tidak mudah.

Aku mendaki di banyak gunung. Kutapaki puncak-puncak tertinggi. Kuselami palung-palung terdalam. Kutelusuri budaya masyarakat terpelosok. Kusambangi desa-desa tercantik. Hingga kudatangi masjid-masjid terindah. Dan, memang mengikhlaskan itu tidak mudah. Tak akan pernah mudah!

kudaki gunung agar melupakanmu via www.instagram.com

Juli 2016

Kabar baiknya, petualanganku berkelana sedikit banyak telah membantuku untuk melepaskanmu. Jadi begini ceritanya. Di luar sana, dalam pengembaraanku, kutemui banyak manusia yang tidak seberuntung hidupmu. Setiap hari mereka lapar, hanya makan nasi aking yang begitu keras. Lupakan buah-buahan yang segar, buah pisang saja bisa mereka nikmati hanya ketika bulan Ramadhan.

Di tempat lain aku menyaksikan sendiri anak-anak yang putus sekolah di usia belia. Kadang sudah berkeluarga di kala masih belasan. Miskin dan jadi beban orangtua. Sebagian yang lain jadi kriminal di pasar, yang lebih beruntung bekerja kasar di pelabuhan. Itupun cuma sedikit. Sejenak menengok Indonesia, aku benar-benar telah mampu melupakanmu. Ternyata banyak yang harus kita pikirkan daripada bergalau atas nama cinta.

Benar kan, Sayang? Eh maaf masih kebawa sapaan jaman dulu.

senja, aku datang via www.instagram.com

Aku juga bertemu dengan kisah pilu dari ibu-ibu TKW yang sudah pulang di berbagai desa. Cerita mereka begitu memilukan. Mereka kerja jauh dari kampung halaman hanya sekedar memberi subsidi kepada suaminya untuk menikmati perempuan lain. Ya dunia memang begitu kejam. Banyak orang di luar sana yang mengalami kemalangan tiada henti. Namun, hey, ketika mereka saja kuat kenapa aku tidak. Remeh sekali masalahku dibanding mereka. Sejak saat itu aku malu. Diperbudak oleh cinta dan nafsu. Yaelah, toh tidak ada perubahan sama sekali di dunia ini setelah kita berpisah. Dunia masih berputar seperti kemarin. Benar kan?

Dear Mantan,

aku datang via www.instagram.com

Aku tidak tahu kabarmu sekarang. Surat ini kutulis jelang kepulanganku dari petualangan panjang kabur dari kenanganmu. Kini aku sudah baik-baik saja. Cintaku kini tak sefana dulu. Tidak seremeh dahulu. Kini aku datang, ingin menemuimu sebagai teman tersayang, atau sahabat terbaik. Siapa sih yang tahu diriku luar dalam kalau bukan kamu?

Sabang, Baduy, Belitung, Dieng, Bawean, Bali, Lombok, Flores, Balikpapan, Toraja hingga Pantai Ora sudah aku jelajahi. Ingat kan, Pantai Ora? Dulu kita pernah mimpi mengunjunginya berdua kelak ketika sudah halal. Kini aku sudah ke sana. Hehehe. Sengaja aku sisakan Papua untuk penjelajahan berikutnya bersama istriku nanti. Entah itu siapa. Mungkin kamu. Hahaha.

Entah sudah ada yang mengisi hatimu atau belum, aku tidak ingin membahas hal itu. Aku cuma sekedar ingin bertemu. Ya, jujur deh. Aku rindu sudah sekian lama tak berjumpa denganmu. Menatap wajahmu yang cantik dan lucu. Dalam situasi hati yang kondusif. Semoga engkau berkenan menemuiku.

Dan, jika memang ada kesempatan baik, ijinkan aku bertemu dengan orangtuamu. Sekali lagi. Kita tak pernah tahu takdir apa yang akan kita alami. Bisa jadi takdir kita dipersatukan nanti. Wallahu alam.

aku pulang via www.instagram.com

Dari aku,

Mantan tersayangmu (juga)