Di Balik lezatnya 5 Kuliner Khas Jawa ini, Ternyata Menyimpan Makna Filosofi yang Unik dan Dalam!

Filosofi kuliner khas Jawa

Bagi masyarakat Indonesia yang menjunjung nilai budaya, memaknai simbol pada suatu hal merupakan unsur penting dalam kehidupan. Salah satunya memaknai simbol pada makanan. Apalagi pada makanan-makanan tradisional khas Jawa. Biasanya mulai dari bahan dan tampilannya memiliki filosofi khusus. Filosofi kuliner khas Jawa terbilang cukup unik lo, karena punya makna yang berhubungan dengan kehidupan manusia, alam dan ketuhanan.

Advertisement

Filosofi kuliner khas Jawa yang unik ini biasanya terdapat pada sejumlah makanan yang dibuat memperingati peristiwa atau acara tertetentu. Saking dalamnya makna filosofi tersebut membuat tiap sajian hampir bisa dipastikan memiliki komponen yang sama, demi menjaga maknanya. Yuk, simak kuliner ada kuliner apa saja dan bagaimana makna filosofinya!

1. Tumpeng bagi masyarakat Jawa merupakan representasi hubungan manusia dengan Tuhan dan hubungan manusia dengan alam dan sesama

Tumpeng | Photo by Rahayunita via commons.wikimedia.org

Dalam berbagai perayaan dan peringatan tertentu, tumpeng seakan wajib ada sebagai simbol rasa syukur dan harapan yang tinggi. Bentuk tumpeng sengaja dibuat dari nasi sebagai makanan pokok yang dibentuk seperti gunung. Hal ini memiliki makna penghormatan terhadap Tuhan yang Maha Agung. Selentara itu, dikelilinginya ada aneka lauk dari sayur dan daging. Biasanya, lauk pauk berjumlah 7 macam, dalam bahasa Jawa 7 disebut dengan ‘pitu‘ yang berarti pitulungan (pertolongan). Hal ini memiliki makna bahwa manusia senantiasa membutuhkan pertolongan dari Tuhan.

Secara keseluruhan, tumpeng dimaknai sebagai wujud rasa syukur manusia kepada Tuhan atas ketentraman dan keadaan alam yang baik. Kata ‘tumpeng’ sendiri merupakan akronim Jawa dari kalimat ‘yen metu kudu mempeng‘ (ketika keluar harus bersungguh-sungguh). Kalimat tersebut mengandung makna bahwa manusia yang dilahirkan ke dunia harus menjalani kehidupan dengan bersungguh-sungguh.

Advertisement

2. Ketupat identik dengan perayaan hari besar Islam terutama Idulfitri dan  menyimpan makna pengakuan salah atau saling memaafkan

Ketupat atau kupat | Photo by Okkisafire via commons.wikimedia.org

Ketupat dalam bahasa Jawa disebut dengan kupat. Kupat sendiri merupakan akronim dari ‘ngaku lepat’ (mengaku salah). Nah, dari sini sudah jelas ya, mengapa ketupat menjadi ciri khas saat Idulfitri. Ketupat biasanya disajikan sebagai makanan utama pendamping berbagai lauk khas Idulfitri yang disantap usai prosesi sungkem atau saling memaafkan.

3. Lontong juga identik dengan perayaan Idulfitri di beberapa daerah di Jawa, lo!

Lontong | Photo by Diadoco via commons.wikimedia.org

Lontong merupakan akronim Jawa dari kalimat ‘olone dadi konthong’ (kejelekan yang sudah hilang). Lontong yang disantap saat Idulfitri menjadi simbol bahwa manusia telah kembali suci setelah menempuh Ramadan dan saling memaafkan pada sesama. Lontong sendiri seperti ketupat yang cocok dijadikan sebagai makanan pokok pendamping lauk khas Idulfitri. Hanya saja, jika ketupat biasanya dibungkus janur atau daun kelapa muda, lontong dibungkus memanjang dengan daun pisang.

4. Sayur lodeh dalam suatu acara atau perayaan tertentu, dijadikan simbol tolak bala atau pencegah keburukan

Advertisement

Sayur lodeh | Photo by Choo Yut Shing via www.flickr.com

Sebenarnya, sayur lodeh merupakan hidangan yang biasa disajikan sehari-hari di rumah. Cara memasaknya yang sederhana dan bahannya pun mudah didapat, membuat sayur lodeh cukup digemari banyak kalangan. Namun, jika kamu menjumpai sayur lodeh dalam suatu perayaan atau selamatan khas Jawa, sayur lodeh ini punya makna penting.

Dalam acara selamatan di Jawa, sayur lodeh terdiri dari 12 kompenen yakni labu kuning, kacang panjang, terong, kluwih, daun so, kulit mlinjo, labu siap, pepaya muda, nangka muda, kobis, sayur bayung, kecambah, kedelai. 12 komponen sayur lodeh ini menjadi simbol menolak keburukan yang bisa terjadi saat acara selamatan dan sesudahnya.

5. Kolak yang memiki banyak makna mulai dari pengakuan dosa, sikap jera hingga mengingatkan kematian

Kolak pisang kepok dan ubi | Photo by Sakurai Midori via commons.wikimedia.org

Kolak biasanya identik dengan bulan Ramadan karena cita rasa manisnya sangat cocok dijadikan menu buka puasa. Kuliner yang sudah ada sejak zaman wali ini ternyata berasal daro kata ‘khala’ yang artinya kosong. Kolak yang disantap saat Ramadan mengingatkan kita untuk senantiasa mengosongkan dosa dengan bertaubat dan menggiatkan ibadah. Selain itu, kolak yang terbuat dari pisang Kepok mengandung arti lain juga lo. Kepok diartikan dengan ‘kapok’ (jera).

Sementara itu, kolak ubi juga mengandung makna tersendiri. Ubi yang berasal dari dalam tanah dimaknai sebagai pengingat bahwa setiap manusia akan mati dan dikubur dalam tanah. Sejara keseluruhan, kolak pisang dan ubi memiliki filosofi yang sangat dalam, yakni setiap manusia harus senantiasa bertaubat atau jera sehingga nggak mengulangi dosa dan bisa meninggal dalam keadaan yang baik.

Wah ternyata orang Jawa sangat filosofis ya SoHip! Kuliner lezat yang biasanya kita anggap sederhana, ternyata menyimpan makna filosofi yang dalam.

Advertisement
Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

Penikmat buku dan perjalanan

Editor

Penikmat jatuh cinta, penyuka anime dan fans Liverpool asal Jombang yang terkadang menulis karena hobi.

CLOSE