7 Alasan Mengapa Masyarakat Jepang Dianggap Paling Siap Ketika Pandemi Corona Datang

Alasan Jepang Siap Hadapi Pandemi

Pandemi Covid-19 telah menyebar ke seluruh penjuru dunia. Total positif Covid-19 per hari ini (7/4) adalah sebesar 1.378.421 orang dengan kematian di angka 78.110 korban jiwa. Kasus terus bertambah cepat tiap hari, terutama di negara-negara G-20 dan juga negara maju. Kota-kota besar lockdown dan aktivitas ekonomi pun terjun bebas.

Advertisement

Namun ada satu negara yang dekat dengan episentrum namun justru aktivitas di kotanya masih bisa dibilang normal-normal saja. Negara tersebut adalah Jepang. Dekat dengan China dan jadi negara kedua yang terpapar virus Corona, namun sampai sekarang jumlah korban sangat sedikit dan tingkat kematian kecil. Menariknya, aktivitas manusia di kota-kota besar di Jepang masih relatif sama dengan biasanya. Jumlah korban positif Covid-19 hanya 3.906 orang dengan kematian 92 orang. Jauh sangat rendah ketimbang negara maju seperti AS, China, ataupun negara-negara Eropa yang telah menembus puluhan hingga ratusan ribu kasus.

Apa kuncinya Jepang bisa ‘kuat’ melawan pandemi ini?

Jika digembor-gemborkan hindari kontak fisik untuk mencegah penularan Corona, orang Jepang sudah mempraktekkan hal tersebut ratusan tahun. Mereka tak bersalaman untuk saling menyapa melainkan berhadapan sambil menundukkan kepala. Orang Jepang dikenal pemalu dan jarang menyentuh orang lain, bahkan salaman sekalipun

cara menyapa orang jepang via travel.tribunnews.com

Warga Tokyo setiap hari sudah pakai masker kok saat berangkat dan pulang kerja, terlebih mereka yang naik transportasi umum seperti kereta dan bus. Maka tak heran mereka punya stok masker dan sudah terbiasa dengan hal tersebut

biasa pakai masker via news.detik.com

Advertisement

Masyarakat di Jepang sudah terbiasa antri dan jaga jarak dengan orang lain. Nggak desak-desakan dan menyalip antrian. Jaraknya pun relatif tidak berdekatan. Dalam konsep physical distancing, Jepang sudah beberapa langkah maju dari negara lain

antrian rapi dan jaga jarak via japanesestation.com

Warga di kota besar seperti Tokyo banyak yang tinggal sendirian di apartemen sehingga kecil kemungkinan menularkan virus ke orang lain. Ruangnya sempit dan mereka terbiasa hidup sendiri tidak bersama keluarga

apartemen di tokyo sempit dan mahal via phinemo.com

Orang Jepang cenderung individualis dan nggak suka kumpul-kumpul nongkrong rame-rame nggak jelas. Mereka lebih suka menyendiri dan bekerja sampai malam. Kalau ada waktu luang paling cuma makan dan minum-minum sama teman dekatnya. Nggak kaya anak muda Indonesia suka nongkrong nggak jelas

tidak suka bersosialisasi via nationalgeographic.grid.id

Advertisement

Kebanyakan warga kota besar seperti Tokyo tidak punya hubungan spesial dengan lawan jenis alias jomblo. Banyaknya jomblo ini tentu relatif lebih aman dalam penyebaran virus ketimbang banyaknya pasangan atau keluarga. Mereka tidak berpotensi menularkan pasangannya

jomblo di jepang via solo.tribunnews.com

Terakhir dan yang paling penting, kualitas fasilitas kesehatan di Jepang salah satu yang terbaik di dunia. Jumlah rasio tempat tidur di Rumah Sakit di kisaran angka 13 kasur per 1000 penduduk. Bandingkan dengan Indonesia yang cuma punya 1,2 kasur per 1000 penduduk. Itulah salah satu alasan tingkat kematian di Jepang kecil, hanya sekitar 2 persen. Indonesia saja menyentuh angka 8-9 persen

perawat di jepang via rilis.id

Memang Jepang masih ada kekurangan, seperti ramainya orang datang ke hanami di musim sakura, dan tidak menjaga jarak di kereta. Namun apa yang sudah mereka lakukan bertahun-tahun inilah yang bikin mereka relatif aman dari virus Corona.

Advertisement
loading...
Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

Traveler Baper, Penghulu Kaum Jomblo

Editor

Traveler Baper, Penghulu Kaum Jomblo

CLOSE