Oknum Parkir Liar Meminta Uang Parkir 200 Ribu Sambil Marah-marah. Duh, Jogja Kok Jadi Begini!

Kota Yogyakarta sebagai tujuan wisata tercoreng oleh aksi premanisme berkedok parkir. Hari Minggu lalu (19/2) akun Facebook Dunia Wisata Malang mengunggah status tentang oknum parkir liar yang meminta uang parkir sebesar Rp 200.000,- untuk parkir bus selama 2 jam pertama. Sontak berita ini ramai dan viral di media sosial. Jogja yang terkenal akan keramahannya seakan telah berubah gara-gara oknum parkir ini.

Advertisement

Bagaimana sih kronologis kejadiannya, yuk kita simak ulasan Hipwee Travel aja…

Hari Minggu lalu, akun Dunia Wisata Malang ‘curhat’ di Facebook tentang kejadian yang baru saja dialami. Mereka dimintai uang parkir sebesar 200 ribu rupiah oleh tukang parkir selatan Benteng Vredeburg, alias depan Bank Indonesia…

bukti statusnya

bukti statusnya via www.facebook.com

Intinya sih tim Dunia Wisata Malang parkir di depan Bank Indonesia dan dimintai uang parkir sebesar 200 ribu rupiah oleh oknum juru parkir. Mereka berjumlah 3 orang. Dan ketika mau minta bukti karcis parkir, mereka malah marah-marah dan malah mengusir tim Dunia Wisata Malang. Mereka heran dengan sikap ketiga orang tersebut. Jogja yang selama ini terkenal akan keramahannya kenapa kok bisa jadi beringas seperti ini.

Oknum parkir ini sebenarnya tidak resmi, atau bisa dikatakan parkir liar. Untuk itulah mereka tidak memiliki karcis parkir yang resmi

oknum juru parkir

oknum juru parkir via www.facebook.com

Dilansir dari Tribunnnews, Tiga orang ini bukanlah tukang parkir resmi karena mematok harga parkir yang begitu mahal, 200 ribu untuk 2 jam pertama. Ketika dimintai karcis mereka pun marah. Kemudian oknum parkir ini mengusir tim Dunia Wisata Malang. Karena tidak mau ribut dan takut kesulitan mencari lahan parkir, akhirnya dibayarlah 200 ribu ke tukang parkir abal-abal ini. Hal ini karena waktu mereka di Malioboro cuma sebentar, sekitar 2 jam saja.

Advertisement

“Khawatir berkepanjangan. Peserta tur kami terpaksa kami beri jatah jam jalan-jalan di Malioboro 1,5 jam saja agar estimasi 2 jam bisa kelar. Untuk jalan-jalan di Malioboro sebenarnya 2 jam itu kurang, tapi mau gimana lagi jika lebih akan dikenakan Rp 100.000 lagi tiap jam kelebihannya,” ucap tim Dunia Wisata Malang seperti dilansir oleh Tribunnews.

Sebenarnya tidak cuma oknum parkir liar ini yang salah. Tim Dunia Wisata Malang juga keliru karena parkir tidak di kawasan parkir bus yakni di taman parkir Ngabean dan Senopati

tarif parkir di jogja

tarif parkir di jogja via www.hipwee.com

Begini lho harga parkir yang sebenarnya, bus besar hanya sebesar 20 ribu rupiah saja untuk dua jam pertama, sementara untuk bus kecil cukup 15 ribu saja. Untuk satu jam berikutnya sebesar 50 % dari harga parkir. Nah, tentu oknum parkir liar ini harus ditindak karena meresahkan wisatawan yang datang ke Jogja. Kenapa harganya bisa sebesar itu, dan tanpa karcis parkir?

Namun bukan berarti tim Dunia Wisata Malang tidak ada kesalahan. Karena tempat parkir bus sudah disediakan di Taman Parkir Ngabean dan Senopati, bukan di depan Bank Indonesia. Semoga hal seperti ini bisa jadi pembelajaran buat semua pihak, termasuk wisatawan yang akan datang ke Jogja.

Advertisement

Lalu, apa yang sudah dilakukan oleh Dinas Perhubungan Jogja terkait hal ini? Karena kalau dibiarkan bisa mencoreng nama Jogja sebagai destinasi wisata andalan di Indonesia…

jangan parkir di depan sini

jangan parkir di depan sini via gudeg.net

Dinas Perhubungan mengakui jika memang halaman Bank Indonesia sebelah timur bukanlah lahan parkir bus sehingga kejadian ini bisa disebut terjadi pungli, alias pungutan liar. Dinas Perhubungan juga sudah sering memberikan peringatan terkait hal ini namun masih saja diabaikan. Untuk itu memang harus ada partisipasi masyarakat agar kejadian ini tidak terulang kembali. Laporkan jika ada kasus seperti ini lagi ya. Agar bia segera ditindak dan tidak mencoreng nama Jogja lagi.

Jogja tetap asik kok. Jangan kapok ya main ke Jogja. Salam hangat dari Yogyakarta untuk kamu semua…

Advertisement
loading...
Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

Traveler Baper, Penghulu Kaum Jomblo

200 Comments

  1. Arie berkata:

    Mohon untuk d tindak lanjuti

  2. Sepertinya itu bukan orang jogja…
    Orang asli jogja tau tata krama

  3. Orang begitu pantasnya dikasih karate sampai sempotongan

  4. Mohammad Nasir berkata:

    Waktu ke jogja mnjem korek ke orang , orangx aneh

  5. Nicko Ardians berkata:

    Namanya manusia mau dari mana asalanya mau dari arab atau mana pun itu ya pasti adalah manusia dengan sifat gak baik.

  6. Heru Setiawan berkata:

    Saya pernah naik becak dari parkiran bus resmi. Saya di tanyain sama tukang becak, kemana mas ? “Malioboro”, jawab saya. “Oh ya sini naik mas” jawab tukang becak tsb. Saya terlebih dahulu cek di google map, ternyata jarak dr parkir bus ke jl. malioboro lumayan jauh jika berjalan kaki, berhubung durasi tur saya terbatas akhirnya saya putuskan naik becak. Kemudian tukang becak pun mengayuh becaknya, namun ke arah yang berlawanan,harusnya ke kiri tp malah ke kanan. Kemudian saya tanya, loh ini bener to pak lewat sini ? “Iya jalur becak lewat sini mas”. Saya diam, mungkin memang seperti ini aturanya, pikir saya. Kemudian ketika melewati sebuah ruko2 pusat kaos dan oleh2, bapak tukang becak ini memberi penjelasan dan meyakinkan kepada saya kalo mau beli oleh2 bakpia / kaos disini saja, sama saja dibandingkan di jl. malioboro. Kemudian saya timpal “enggak ah pak, saya mau ke jl. malioboro saja”. Dan jawaban bapak tukang becak itu mengejutkan, “maaf mas, saya cuma bisa nganter sampe sini, kalo mau ke malioboro harus naik becak yg lain lagi.” Lohhhh.. tadi katanya kita mau ke malioboro, gimana sih???” Bapak itu hmtetep keukeuh menegaskan kalo saya harus naik becak yg lain supaya bisa sampe jl. malioboro. Akhirnya saya putuskan untuk jalan kaki saja, sudah sakit hati naik becak dibohongi. Saya bayar si bapak itu (saya lupa waktu itu si bapak pasang tarif berapa). Saya melanjutkan perjalanan dg jalan kaki +/- 30menit, melewati keraton, alun2, dan perempatan BI. Ini pengalaman pribadi saya.

  7. Agus Suparji berkata:

    mohon gunakan tempat parkir yang sudah disediakan.

CLOSE