Kamu bilang, banyak daerah di Indonesia yang jadi langganan banjir? Memang iya, tapi juga bukan negara kita saja. Coba kita tengok Bangladesh, negara ini sama saja, selalu beresiko terkena banjir. Bencana ini sudah lazim menjadi ancaman bagi anak-anak di Bangladesh untuk tetap bisa bersekolah. Akibat pemanasan global dan naiknya permukaan laut, negeri ini sudah mafhum terhadap banjir yang tak pernah lelah mengusik dan menghampiri. Keluarga yang tinggal di dataran rendah pun selalu bermasalah dengan banjir, seperti jalan yang tak bisa dilalui dan anak-anak yang tak bisa mengikuti pelajaran di kelas. Tapi itu semua tak lantas membuat anak-anak kehilangan haknya untuk mendapat pendidikan. Jadi, apa solusi untuk bencana yang satu ini???

Sebuah organisasi yang berbasis di Bangladesh sukses menginisiasi berdirinya Sekolah Terapung. Beginilah cara negara ini untuk memerangi banjir

perkenalkan, ini Rezwan, pahlawan pendidikan via senayanpost.com

Solusi memang tak harus datang dari pemerintah. Bisa saja dari organisasi macam LSM atau bahkan komunitas yang berbuat dan bergerak demi kehidupan yang lebih baik. Mereka berinovasi memerangi banjir dan tetap memberikan hak kepada anak-anak di Bangladesh untuk tetap mengenyam pendidikan. Mohammed Rezwan namanya, seorang arsitek Bangladesh yang membuat gagasan ini. Dia bersama timnya telah melakukan berbagai usaha untuk mencoba dan mendidik anak-anak yang mungkin tak pernah punya kesempatan untuk sekolah di kehidupan nyata. Selain itu, Rezwan juga ingin memastikan bahwa anak-anak tak akan putus sekolah meski tempat tinggalnya sedang dilanda banjir.

Ada 100 perahu yang ‘bertindak’ sebagai sekolah terapung di Bangladesh. Tolong jangan bayangkan suasana kelas yang nyaman dan pemandangan yang indah terhampar di luar ‘jendela’

ini sekolah mereka, tempat belajar sehari-hari via senayanpost.com

Memang sekolah ini jauh dari kata sempurna, tapi organisasi ini begitu serius menyediakan beragam fasilitasnya. Tak hanya menyediakan tempat saja, mereka juga memberi fasilitas lain seperti klinik kesehatan, perpustakaan dan bahkan pusat pelatihan pertanian dan pengelolaan keuangan. Kamu ingin tahu apa yang paling menakjubkan dari sekolah terapung ini?

Advertisement

Bahkan ada komputer dan akses internet nirkabel di dalamnya

Nggak ada halangan untuk nggak pergi ke sekolah meski hujan mengguyur dan menyebabkan banjir. Hingga saat ini sudah ada lebih dari 1000 murid di sekolah terapung ini

Jadi, sekolah terapung ini berupa perahu beratap yang melindungi anak-anak dari sengatan sinar matahari dan guyuran air hujan. Kamu bingung dari mana listrik untuk komputer berasal? Mereka menggunakan tenaga surya.

“Sebelum sekolah terapung beserta perpustakaannya datang ke desa kami, kami tidak tahu apa yang namanya internet dan komputer,” kata Hasinur Rahman, seorang pelajar, seperti dilansir dari aljazeera.com

Sekolah terpaung bisa jadi lebih lengkap dalam soal peralatan belajar mengajar dibanding sekolah-sekolah di darat, tapi apa kamu yakin sekolah ini benar-benar nyaman dibanding sekolah normal?

Keluhan ketika banjir datang biasanya tentang tak bisanya anak-anak berangkat ke sekolah karena kurangnya transportasi. Lewat sekolah terapung ini hal tersebut mampu teratasi

ini suasana saat belajar mengajar, sama kaya sekolah formal kan? via blogserius.blogspot.com

“Anak putus sekolah umum terjadi di wilayah ini. Sangat sulit bagi saya untuk menerima situasi demikian. Saya berpikir bahwa jika anak-anak tak bisa datang ke sekolah karena kurangnya transportasi yang tepat, maka sekolahlah yang harus datang dengan perahu,” papar Rezwan dilansir dari senayanpost.com

Ya, sekolah terapung benar-benar mendatangi para muridnya. Kalau sekolah terpaung sudah sampai di depan mereka, mereka tinggal melompat masuk ke dalamnya. Jadi dengan begini bukankah tak ada alasan untuk tak belajar di sekolah?? Setiap sekolah terapung bisa menampung setidaknya 30 pelajar dan diajar oleh seorang guru. Mereka belajar disana selama empat jam setiap hari, dan enam hari dalam seminggu. Bitahi (7), salah seorang pelajar di sekolah itu menyatakan, tanpa sekolah terapung, dia harus berjalan selama satu jam menuju sekolah.

Jangankan banjir, pergi ke sekolah di musim hujan saja sangat menyulitkan. Anak-anak harus berjalan jauh di jalanan becek dan melumpur, bukankah dengan begitu juga dapat membunuh semangat belajar mereka?

ini semua demi generasi penerus bangsa mereka via senayanpost.com

Organisasi tersebut juga telah melatih perahu-perahu yang mengajarkan penduduk desa tentang perubahan iklim. Mereka berharap bisa mendapat dana lebih besar untuk membangun lebih banyak lagi sekolah terapung yang bisa menampung sedikitnya 180.000 pelajar. Yaa, seiring dengan usaha negara itu memerangi pemanasan global, puluhan juta penduduk Bangladesh nampaknya akan terpaksa bergantung pada segala fasilitas serba terapung ketika air di sekeliling mereka naik.

Jadi, bukan hanya pasar saja kan yang bisa dibuat terapung? Sekolah pun bisa. Kalau Bangladesh bisa memberi hak kepada para pelajar kala banjir menghampar, kenapa Indonesia tidak?

kalau bangsa lain bisa, kenapa kita tidak? via blogserius.blogspot.com

Sekarang coba tengok pulau-pulau besar di Indonesia macam Kalimantan, Sumatera, dan Papua yang memiliki sungai panjang dan lebar. Sungai itulah yang dijadikan sebagai pasar apung dan sudah dikenal dunia lantaran keunikannya. Sementara itu Jakarta, Semarang, Tegal, Donggala, dan 14 kota/kabupaten lainnya yang telah dicatat oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) sebagai kawasan yang rawan banjir. Sebuah peluang untuk menyediakan sekolah terapung untuk anak sekolah agar tidak kehilangan haknya.

Setiap tahunnya anak-anak Indonesia kehilangan hak untuk belajar dan menambah wawasan ketika terjadi bencana. Kalau memang banjir sudah tak mungkin diatasi, sudah tak bisa ditanggulangi, kenapa tak gantian memberi solusi agar anak-anak tetap dapat menikmati pelajaran ketika air semakin naik? Bangladesh tampaknya perlu kita contoh inovasinya. Dan semoga Indonesia bisa memenuhi hak pendidikan warganya meskipun bencana acapkali datang menghadang.