Bagi sebagian orang, bersepeda merupakan hobi yang dilakukan di sela-sela rutinitas pekerjaan, seperti ketika libur di akhir pekan. Tapi lain ceritanya dengan Luthfi Maiza Kusuma, sang @penggowes yang menganggap bersepeda adalah jalan hidupnya. Selepas kuliah, pria asal Sambas, Kalimantan Barat ini memutuskan untuk menyusuri Nusantara dengan sepedanya. Kini, ia hampir khatam menjelajahi seluruh provinsi di Indonesia, minus Kalimantan Utara. Tak cuma itu, Luthfi juga menyusuri beberapa negara Asia dan kini tengah berada di Nepal.

Tim Hipwee Travel dan Sociotraveler berkesempatan mewawancarai Luthfi sang penggowes ketika ia memutuskan bergabung bersama Sociotraveler untuk mendaki Annapurna Base Camp. Berikut ini kisah inspiratif Luthfi Maiza yang sebaiknya kamu tahu.

Awalnya, Luthfi sang @penggowes ingin mengelilingi Indonesia sebagai ajang pelarian dari masalah keluarga yang cukup pelik…

Advertisement

Luthfi sejak kecil sudah menggemari sepeda, bahkan sejak TK. Hingga ia merantau kuliah ke Malang pun, ia tetap menggunakan sepeda sebagai sarana transportasinya. Hingga akhirnya pada tahun 2014, ia memutuskan untuk bersepeda menyusuri nusantara. Sebuah ide gila tentunya dari seseorang yang baru saja lulus kuliah. Tapi sebenarnya, ide gowes tersebut adalah pelarian dari masalah keluarga yang cukup pelik.

“Sebenarnya bukan keliling Indonesia, hanya menyusuri jalan saja. Motivasi awal lari dari beberapa permasalahan keluarga sekaligus perjalanan spiritual sih. Sebelum pengembaraan ini, saya bergabung dan belajar budaya di Debu Nusantara, sebuah perkumpulan kolektif yang fokus tentang budaya lisan di Malang. Di situ saya belajar tentang cerita rakyat dan kearifan lokal. Jadi, perjalanan ini juga punya misi untuk mendokumentasikan cerita rakyat dan menggali kearifan lokal dalam suatu masyarakat.”

Dari 2014 hingga sekarang, Luthfi sudah menyusuri 33 provinsi dan 4 negara Asia. Bagaimana Luthfi bisa survive dalam perjalanan yang sangat panjang ini?

Advertisement

Sudah 3 tahun lebih Luthfi mengembara dengan sepedanya. Tentu kita berpikir, bagaimana ia bisa memenuhi kebutuhan sehari-harinya ketika bersepeda keliling nusantara? Ada satu skill Luthfi yang bisa menghidupinya selama ini, yakni bermain biola. Jadilah ia pemain musik jalanan dengan biola di tangannya. Dari sanalah ia punya biaya untuk terus bersepeda keliling dunia.

“Awal pengembaraan sebelum membawa biola, saya mengandalkan uang hasil tabungan sekitar 700 ribu. Maklum baru lulus kuliah. Jadi survive mau makan kadang harus di jatah 5-7 ribu, kadang beli di warung nasi+sayur aja. Terkadang dilebihin sama yang punya warung. Sesekali beli pisang 1 sisir yang murah meriah tapi cukup buat sehari. Pernah kerja nyuci piring juga. Jadi ABK boat selama di Papua Barat juga pernah dijalani. Sekarang udah bawa biola, jadi street musician di beberapa kota di Indonesia. Termasuk di negara orang pun melakukan hal yang sama.”

Urusan tidur, Luthfi bisa numpang di rumah warga, ataupun di pos ojek. Kini ia sudah punya tenda, jadi lebih aman deh mau tidur di mana aja.

“Kalau soal tidur, dimanapun asal sebisa mungkin gratis dan ada atapnya. Ya kadang di kantor polisi, di bawah meja warung yang tutup, di pos ojek, kadang pula warga lokal banyak yang nawarin tidur di rumahnya. Sekarang bawa tenda jadi bisa tidur di kebun orang. Hehe.”

Di Nepal, ia sempatkan untuk ikut pendakian ke Annapurna Base Camp bersama Tim Sociotraveler. Ternyata selain @penggowes, doi juga hobi naik gunung lho!

Kami bertemu Luthfi ketika ia ingin bergabung untuk mendaki Annapurna Base Camp di Nepal. Tak cuma menggowes saja, Luthfi juga hobi mendaki. Sebelumnya, ia sudah pernah mendaki Kerinci, Merapi, Bromo hingga Semeru. Jadi ketika di Nepal, ia tak menyia-nyiakan kesempatan untuk mendaki ke Annapurna Base Camp 4.130 mdpl yang bersalju tersebut.

“Pada dasarnya saya adalah pendaki, dulu sempat aktif di mapala saat kuliah. Selama menggowes di Indonesia juga demikian, sembari gowes kalo ada gunung yang diminati saya daki. Berdasarkan sedikit ilmu yang saya dapatkan, saya percaya gunung memiliki mitologi (cerita rakyat) yang asyik untuk dikupas. Sehingga saya punya misi : Mitologi untuk Ekologi, yakni mempertahankan hal-hal yang dianggap mitos untuk kelangsungan lingkungan hidup. Di Nepal juga demikian. Puji syukur bisa sampai di Annapurna Base Camp bersama teman-teman Sociotraveler.”

Apa suka dukanya ketika menggowes keliling nusantara dan beberapa negara Asia selama ini?

penggowes via www.instagram.com

Melihat dari dekat masyarakat Indonesia dengan berkeliling menggunakan sepeda, tentu banyak pelajaran yang bisa ia ambil. Tak terhitung suka duka yang ia alami sampai sejauh ini. Tapi yang selalu ia ingat bahwa masih banyak orang di luar sana yang lebih ‘kurang beruntung’ dibandingkan dirinya.

“Saya pernah merasa jadi orang yang paling menderita di dunia ini karena permasalahan keluarga. Mungkin karena saya kurang bersyukur. Tetapi di saat melakukan pengembaraan, ternyata saya melihat dan merasakan langsung banyak orang lebih menderita daripada saya. Jadi, kadang saya merenung dan menangis karena melupakan Tuhan dan lupa bersyukur. Saya pikir ini ujian, saya akan saya lakukan dengan ikhlas. Sukanya lagi, saya dapat belajar banyak hal tentang “Harmony In Diversity”. Belajar tentang banyak budaya, saya menyukai itu dari dulu.

Dukanya pasti ada, seperti kecelakaan hingga masuk rumah sakit. Lalu, paling parah saat tidur hampir di “anu” oleh lelaki yang ternyata adalah seorang gay, karena awalnya saya nggak curiga saat dia ngajak tidur di rumahnya. Tapi untungnya saya bisa kabur.”

Ternyata tujuan akhir perjalanannya adalah China untuk bertemu pujaan hatinya. So sweet…

mencari pujaan hati via www.instagram.com

Perjalanan Luthfi bukan buat dirinya sendiri. Ia ingin perjalanan ini bermanfaat nggak cuma buat dirinya, namun juga untuk orang lain. Ia berpesan kepada generasi muda zaman now agar menggeluti passionnya dan mencoba untuk bermanfaat serta menginspirasi orang lain.

“Nah, sedangkan menyusuri jalan Asia, tujuannya nanti di China. Soalnya ada perempuan pujaan hati saya di sana. Tapi sebelum ke China masih ada beberapa negara yang jadi tujuan saya.”

Jika kamu bertemu Luthfi di jalan, jangan lupa sapa dan berbincang lah dengannya. Galilah inspirasi dari pemuda yang berani berpetualang dengan sepedanya keliling Indonesia dan Asia. Sukses buat Luthfi Maiza Kusuma. Semoga selamat sampai Indonesia.

“Jangan berpetualang dengan sepeda, Itu Beraaaat, biar aku saja!” tutup Luthfi mengakhiri ceritanya.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya