Kabar duka tak henti-hentinya menyapa kita semua di momen libur Lebaran kali ini. Setelah puluhan wisatawan tenggelam di pantai selatan Sukabumi yang menyebabkan 2 korban meninggal dunia, kini kejadian yang hampir serupa terjadi juga di Danau Toba. Kapal Motor Sinar Bangun yang mengangkut ratusan penumpang karam di Danau Toba pada Senin, 18 Juni 2018 lalu.

Ada ratusan korban hilang dan 4 korban ditemukan tak bernyawa. Tim SAR segera menyisir ke Danau Toba untuk mencari korban yang belum diketemukan. Bagaimana kronologis kejadian tenggelamnya KM Sinar Bangun ini? Yuk simak ulasannya ya.

KM Sinar Bangun tenggelam pada Senin petang (18/6), ratusan korban hilang. Empat korban ditemukan sudah tak bernyawa

pencarian korban hilang via www.liputan6.com

Advertisement

Duka kembali datang di momen libur Lebaran. KM Sinar Bangun tenggelam di Danau Toba, Senin (18/6) sekitar pukul 17.30 WIB. Kapal tenggelam saat berlayar dari Pelabuhan Simanindo, Kabupaten Samosir, menuju Pelabuhan Tigaras, Kabupaten Simalungun. Cuaca buruk dan ombak yang mulai besar membuat kapal susah dikendalikan. Terlebih, banyak penumpang yang bertujuan untuk wisata sehingga kapal mengalami kelebihan muatan yang cukup parah. Alhasil, hanya dalam hitungan menit, KM Sinar Bangun pun tenggelam. Beberapa penumpang menyelamatkan diri, sementara yang lainnya hilang. Data terakhir tercatat 192 korban hilang, sementara 4 korban ditemukan tak bernyawa.

Over kapasitas terjadi di KM Sinar Bangun di mana ada sekitar 180-190 penumpang padahal kapasitasnya cuma 43 penumpang saja

tim basarnas mencari korban hilang via regional.kompas.com

“Berkaitan dengan kapasitas, kapal ini kapasitas adalah 43 orang,” kata Budi Karya dalam jumpa pers di kantor Kemenhub, Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta Pusat, Rabu (20/6).

Tenggelamnya KM Sinar Bangun pada Senin lalu membuat geger dunia transportasi di Indonesia. Setelah mudik di darat yang relatif aman dan lancar, di perairan justru terjadi tragedi yang memilukan. Ada ratusan penumpang yang masih hilang sementara 4 korban sudah ditemukan tak bernyawa. Selain itu ada belasan penumpang yang telah selamat. Tidak jelasnya jumlah korban ini diakibatkan oleh tidak adanya manifes yang memuat jumlah dan nama penumpang sehingga sulit untuk menaksir jumlah korban.

Advertisement

Kapasitas kapal yang cuma 43 penumpang juga tidak layak untuk memberangkatkan ratusan penumpang. Kalau dijumlahkan korban yang dilaporkan hilang dan yang sudah selamat, kurang lebih 200-an penumpang yang masuk di KM Sinar Bangun, padahal kapasitasnya cuma 43 penumpang saja. Belum lagi barang-barang yang juga ikut diangkut.

Banyak kejanggalan dalam kejadian ini, salah satunya, nakhodanya justru tidak mengemudikan kapal. Ia malah berada di darat

evakuasi korban via pojoksatu.id

Ada beberapa kejanggalan yang terjadi dalam kasus KM Sinar Bangun yang tenggelam ini. Salah satunya, sang nakhoda justru berada di darat saat kapal ini tenggelam. Lalu siapa yang mengemudikan kapal motor tersebut? Saat kejadian, nakhoda yang bernama Tua Sagala, Warga Desa Simarmata, Kecamatan Simanindo, Kabupaten Samosir, Sumatera Utara tidak mengemudikan kapal tersebut. Ia meminjamkan kapal itu kepada seseorang, untuk dikemudikan dan membawa penumpang kapal itu.

“Ada yang aneh dalam pengungkapan kasus tenggelamnya KM Sinar Bangun. Karena dalam daftar korban yang selamat maupun yang hilang, nama nakhoda tidak ditemukan. Tapi nakhoda sampai saat ini masih berada di darat,” ucap Kapolres Simalungun AKBP Marudut Liberty Panjaitan kepada wartawan, Rabu 20 Juni 2018 seperti dilansir Viva News.

Pelajaran penting bagi kita semua, pentingnya punya kemampuan renang mengingat Indonesia didominasi perairan

pentingnya kemampuan berenang di laut via www.tribunnews.com

Bagi masyarakat di negara maritim, dengan nenek moyang yang handal di lautan, agak ironis apabila banyak dari kita yang tidak bisa berenang. Hal ini setidaknya untuk keselamatan mengingat banyak sekali transportasi laut seperti Kapal Ferry maupun kapal motor di perairan laut dan danau juga. Jika banyak dari penumpang KM Sinar Bangun mampu berenang, maka lebih banyak yang bisa diselamatkan. Kecelakaan kapal laut atau danau yang sering terjadi di Indonesia seyogyanya sudah jadi alarm buat pemerintah dan kita sendiri, bahwa kemampuan berenang sangat dibutuhkan dalam kondisi kritis ketika kapal tenggelam.

Semoga korban segera ditemukan dan kasus semacam ini tidak terulang kembali.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya