Mengintip Kota Arktik Longyearbyen di Norwegia yang Melarang Warganya Meninggal. Apa Alasannya?

Kota Longyearbyen Norwegia

Dengan berkembangnya ilmu pengetahuan, banyak hal yang sudah bisa dikendalikan manusia. Tapi setidaknya ada satu hal yang nggak akan pernah bisa kita tebak dan hindari yaitu kematian. Kalau sudah tiba waktunya, hal tersebut harus kita terima tanpa bisa berupaya, suka atau tidak.

Advertisement

Tapi sepertinya pemahaman tersebut harus ditolak mentah-mentah oleh warga sebuah kota kecil arktik di Norwegia bernama Longyearben. Pasalnya di kota tersebut berlaku sebuah undang-undang yang sudah disahkan pemerintah setempat, yang isinya melarang warganya untuk meninggal dunia. Nggak hanya itu, undang-undangnya juga melarang warga yang meninggal untuk dikuburkan di wilayah kota. Jadi warga harus tahu kapan kira-kira mereka meninggal, sehingga bisa keluar kota agar bisa segera dikuburkan. Meski terdengar aneh bin ngaco, ternyata itu semua ada alasannya. Berikut Hipwee Travel rangkum penjelasannya.

1. Pemerintah Longyearbyen mengeluarkan larangan meninggal untuk melindungi warga lain

Rumah kayu warna-warni di Longyearbyen via www.pinterest.cl

Dilihat sekilas, Longyearbyen merupakan kota kecil yang indah di daerah lembah. Tapi ketika mendengar ada undang-undang yang melarang warga meninggal mungkin bikin bergidik sekaligus bertanya-tanya. Apa alasan di balik undang-undang kontroversial tersebut? Karena faktanya, semuthakir apapun teknologi kita nggak bisa melarang orang yang memang sudah ditakdirkan meninggal.

Melansir dari New York Post, larangan meninggal di Longyearbyen sudah ada sejak tahun 1950-an. Aturan tersebut berlaku karena kondisi permafrost atau tanah yang membeku, sehingga bakteri dan serangga pengurai kesulitan hidup. Alhasil, jenazah yang dikubur nggak akan pernah bisa membusuk secara alami. Longyearbyen sendiri hampir selalu bertemperatur rendah dan diselimuti salju karena memang berlokasi di wilayah kutub. Jadi jika ada yang kekeuh menguburkan jenazah, maka mayat itu akan selalu utuh. Hal ini akan berbahaya jika jenazah punya riwayat penyakit, sebab virus akan tetap bisa hidup dan beresiko menginfeksi warga ketika tanah yang tadinya beku mencair. Bahkan virus Flu Prancis yang sempat jadi pandemi pada 1971-1920 masih bersemayam pada jenazah-jenazah yang dikubur sebelum larangan berlaku.

Advertisement

2. Kalau ada yang melanggarnya, keluarga dari orang yang meninggal bisa terjerat sanksi dan hukuman. Waduh…

Pemandangan malam di Longyearbyen via www.telegraph.co.uk

Larangan meninggal ini merupakan upaya pemerintah agar nggak ada jenazah yang dikuburkan di wilayah kota, sehingga warga yang masih hidup bisa terlindungi dari berbagai risiko buruk. Bukan artinya seluruh warga Longyearbyen dipaksa harus terus hidup. Meski begitu kematian dan kuburan masih masuk ke dalam tindakan ilegal karena secara tertulis dilarang dalam undang-undang. Namun jika ada warga yang tiba-tiba meninggal, aturan yang berlaku adalah jenazah harus disemayamkan di bagian lain di Norwegia.

Sementara untuk warga yang “diprediksi akan meninggal” semisal yang menderita penyakit kronis, maka akan dikirim ke tempat di mana jenazah mereka akan disemayamkan. Jika ada warga yang sudah diprediksi secara medis umurnya nggak panjang lagi dan meninggal di Longyearbyen, maka keluarga yang bersangkutan bisa terjerat sanksi dan hukuman.

3. Meski kurang ideal sebagai tempat tinggal, Longyearbyen bisa dikunjungi oleh siapa saja karena bebas visa

Advertisement

Beruang kutub di Svalbard, Longyearbyen via www.discover-the-world.com

Meski punya undang-undang yang aneh dan nggak punya rumah sakit bersalin untuk yang mau melahirkan, Lonyearbyen cukup ramah terhadap siapa pun yang akan datang. Ibu kota sekaligus pemukiman terbesar di Svalbard ini juga merupakan rumah bagi beruang kutub loh. Kalau kamu mampir ke sana, pertama akan disambut  hamparan gurun dan puncak gunung berselimut salju. Selama paruh tahun yang cerah matahari di sana bersinar 24 jam dalam 7 hari. Sementara di paruh waktu lainnya kegelapan berkuasa, dan kamu bisa menikmati aurora dengan puas.

Jumlah penduduk Longyearbyen terbilang sedikit yakni sekitar 2.926, jika dibandingkan populasi beruang 3.000 ekor. Penduduk kota ini sepertiganya merupakan imigran karena masuk dan menetap nggak perlu visa, asal kamu punya pekerjaan dan tempat tinggal. Dipercayai yang pertama kali menjelajahi dan menghuni Longyearbyen adalah bangsa Viking sekitar tahun 1200.

4. Tempat yang baik untuk menyimpan benih kalau terjadi bencana global yang memusnahkan semua tanaman

Global Seed Vault di Longyearbyen via www.northlandscapes.com

Karena suhu wilayah yang rendah sepanjang tahun, rata-rata suhu hanya 7 derajat celcius pada musim panas, maka Longyearbyen dinilai cukup ideal untuk membangun Global Seed Vault, sebuah unit penyimpanan sampel benih tumbuhan. Beroperasi sejak 2008, Global Seed Vault sudah menyimpan lebih dari 980.000 benih dari seluruh dunia. Jika terjadi bencana global yang memusnahkan seluruh tumbuhan, maka benih cadangan tersebut bisa kembali memulai peradaban.

Nah itu dia alasan di balik undang-undang kontroversial yang dijalankan untuk keselamatan warga lain yang masih hidup. Jadi bukan karena ingin memaksa semua penduduk hidup atau bahkan menentang kehendak tuhan, ya. Gimana, berminat mampir ke rumahnya beruang kutub?

Advertisement
Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

colour my life with the chaos of trouble

Editor

Penikmat jatuh cinta, penyuka anime dan fans Liverpool asal Jombang yang terkadang menulis karena hobi.

CLOSE