Kalau kamu pernah bertandang ke Kota Semarang, mungkin kamu pernah tahu mengenai sebuah tanjakan, yang sering disebut Tanjakan Gombel. Ya, kalau kamu masuk ke Kota Lunpia ini dari arah selatan, kamu akan melalui sebuah tanjakan yang sejatinya memiliki pemandangan yang sangat indah menghadap ke arah laut di sebelah utara, sekaligus pemandangan lansekap kota Semarang.

Bahkan, dulu sempat dibuat sebuah hotel yang sangat terkenal di masanya, hotel Sky Garden yang terletak di atas bukit yang berada di tanjakan gombel. Namun, karena beberapa hal akhirnya hotel itu ditutup dan jadi terbengkalai hingga sekarang. Menurutmu, gara-garanya apa? Hahahaa ya, mungkin ada hubungannya dengan jalanan yang dikenal paling misterius di Semarang ini. Ada misteri apa sih sebenernya di Tanjakan Gombel ini? Yuk simak!

Kalau kamu bertanya-tanya nama “Gombel” ini dari mana, sampai sekarang tak pernah ada yang tahu asal muasalnya, pun tak ada catatan mengenai pemberian nama. Tapi soal sejarah, di sana ada sebuah sejarah makam tokoh lho~

Gombel sendiri ya nama setan perempuan yang suka culik anak kecil pas adzan maghrib tiba via sapujagat.com

Nama “Gombel,” dilansir merdeka.com muncul saat Kiai Pandan Aran berziarah di sebuah makam di Gunung Jabalkat. Berziarah ke makam tokoh yang kini namanya diabadikan untuk sebuah jalan protokol di Kota Semarang. Kiai itu berziarah dan melewati tanjakan terjal dan curam, kala itu tanjakan Gombel ini memang sulit dilewati karena permukaannya yang berbukit. Sejak saat itulah disebut sebagai Tanjakan Gombel, nggak pernah ada yang tahu pasti perihal pemberian nama ini.

Pembangunan jalan yang kini disebut Tanjakan Gombel ini dulu begitu ditentang oleh masyarakat. Kamu tahu kenapa? Sebab di area itu banyak area kuburan, dan memindahkan jenazah bukanlah hal gampang

Di wilayah Gunung Jabalkat yang kini dikenal dengan kawasan Bukit Gombel (area yang kemudian dibangun jalan atau tanjakan Gombel) ini banyak dipakai sebagai area kuburan. Sesuai adat Cina, memindahkan jenazah bukanlah hal yang bisa seenaknya dilakukan. Karena itulah, masyarakat asli Tionghoa begitu menentang rencana pembangunan jalan di selatan kota Semarang ini yang kala itu digagas oleh Belanda. Akhirnya, penguasa wilayah saat penjajahan Belanda, Mr Baron van Heeckeren mengusulkan kuburan di sekitar tanjakan Gombel itu khusus bagi kerabat dekat yang sudah dikubur di situ. Sekarang, kawasan itu disebut kawasan Kedungmundu. Pemekaran Semarang bagian Selatan sendiri dimulai pada tahun 1909. Berdalih permasalahan pemenuhan fasilitas jalan dan pemenuhan kebutuhan pemukiman.

Menariknya, di balik keindahan pemandangan di Gombel, ada mitos bahwa segala masalah yang terjadi di sana selalu berkaitan dengan hal gaib. Kabarnya, ada Wewe Gombel dan beberapa makhluk astral lain penunggu bukit

Advertisement

di tanjakan Gombel, kecelakaan sering terjadi via jaringnews.com

Penduduk sekitar selalu mengaku percaya, ketika terjadi bencana macam tanah longsor dan juga kecelakaan, itu karena para makhluk gaib di sana sedang marah akibat pertapaannya diganggu. Konon, di tanjakan Gombel ini seringkali terlihat hantu Wewe yang menggoda pengemudi kendaraan yang melintas.

Dulu, memang sering terjadi kecelakaan lalu lintas di sini, baik yang menelan korban jiwa maupun hanya luka-luka. Sebagian besar korban mengaku, saat terjadi kecelakaan itu ada sosok perempuan mengenakan gaun rok panjang warna putih gading yang sedang menabrakkan diri, menyebrang secara mendadak maupun melambaikan tangan di pinggir jalan menanjak itu.

Kalau kamu nggak pernah mengalami, mungkin nggak percaya. Tapi nggak ada salahnya juga mendengarkan mereka yang mau berbagi cerita terkait pengalaman mencekamnya

kecelakaan masih kerap terjadi, hingga kini via ramesan.com

“Saya pernah mengendarai sepeda motor dari Banyumanik mau pulang menuju ke Semarang daerah Simpang Lima. Saat sampai di titik penyelamatan kecelakaan yang di sebelah kiri jalan tiba-tiba saya lihat ada wanita tinggi, mengenakan baju putih gading. Rambut panjang matanya membelalak melambaikan tangan ke saya berdiri di bibir sungai jalan. Saya merinding, langsung saya tancap gas dan wanita itu malah nekat nyebrang. Namun, saat saya berhenti wanita itu menghilang ketika sampai di tengah jalan,” ujar salah seorang warga bernama Muhammad Irfan, dilansir Okezone.com

Kalau kamu berkendara dari arah  Kota Semarang ke arah Banyumanik atau sebaliknya, kamu akan melihat jalan penyelamatan kecelakaan berbentuk tanjakan kecil naik sekitar 75 derajat berisi material pasir. Nah, di titik inilah konon letak lokasi Wewe Gombel berada. Beberapa orang bahkan menyebut bahwa lokasi ini merupakan lokasi kerajaan hantu.  Kalau berlangsung kecelakaan jalan raya di Tanjakan Gombel ini, masyarakat setempat akan memotong sapi dan lantas kepalanya ditanam di sana. Keyakinan kebiasaan ini memang sudah mulai berkurang, tapi masih ada sebagian yang meyakininya.

Karena banyaknya kecelakaan dan isu mengenai Wewe Gombel sudah menyebar, kemungkinan ya hal-hal ini yang menyebabkan sebuah hotel di lokasi bukit Gombel tak laku dan lantas gulung tikar. Duh, sayang ya?

bangunannya sih memang masih berdiri kokoh sampai sekarang, tapii via scarystory01.blogspot.com

Hotel Sky Garden yang sudah dibahas di awal tadi sudah tak beroperasi lagi kini. Bangunannya memang masih ada dan dalam kondisi tak terurus, namun sekarang justru digunakan untuk tempat gantung diri, pembunuhan, dan perkosaan yang masih sering terjadi pada malam hari. Mungkin hal ini juga yang semakin menguatkan mitos Wewe Gombel yang sudah tertancap di benak masyarakat.

Di perbukitan Gombel juga masih ada sisa kuburan China, tepatnya di dalam rimba yang ada di Gombel sana. Bukti pernah adanya kuburan di sana ialah adanya inskripsi atau batu nisan seluas 30 cm x 40 cm yang didirikan untuk menentramkan arwah korban kecelakaan massal rombongan pengantin dari Solo yang berlangsung sekitar tahun 1960-an. Apa nggak makin mengerikan?

Masih tentang sisa kuburan itu, batu nisan di sana hingga kini masih jadi jujugan mereka yang beretnis Tionghoa untuk melakukan sembahyangan

terlepas dari apapun, pemandangan di sini istimewa dan tak ada dua via portalsemarang.com

Mereka bersembahyang di sana utamanya pada bulan ketujuh Imlek (Jit Gwee), yaitu bulan saat warga Tionghoa mendoakan arwah leluhur mereka. Selain itu, di dekat batu nisan juga ada Mata Air Pengantin atau orang Jawa sering menyebutnya sebagai Sendang Pengantin. Kalau sepasang rombongan pengantin akan melewati wilayah perbuktikan Gombel ini, konon katanya mereka harus menyembelih ayam putih mulus atau melempar uang receh supaya rombongan pengantin tidak mengalami kecelakaan dan selamat sampai tujuan.

Terlepas dari segala mitos yang masih dipercaya, pemandangan kota Semarang dilihat dari tanjakan Gombel ini sungguh luar biasa. Akhirnya banyak juga muda-mudi yang memanfaatkan untuk berpacaran. Tapi ya gitu, beberapa dari mereka pernah melihat penampakan makhluk halus yang disebut genderuwo di bibir bukit.

“Saat itu sekitar pukul 21.00 WIB saya lagi mojok duduk berpelukan di atas sepeda motor dengan pacar saya. Tiba-tiba bau bakaran ketela pohon menyengat. Kemudian ada sesosok makhluk asing yang saya kira saat itu seekor monyet besar. Berbulu hitam lebat, matanya merah dan tangannya panjang sampai ke kaki. Dia bergelantungan. Saya dan pacar saya merinding dibuatnya. Akhirnya saya langsung cabut,” ungkap Nanang Setiawan penduduk warga Prembaen Selatan Kota Semarang, dilansir merdeka.com

Nah lho. Kamu masih berani pacaran di sana?