Pernah nggak kamu naik pesawat dan tidak beli bagasi pesawat? Pasti sering dong ya. Nah, kamu tetep boleh bawa barang kok ke kabin meskipun nggak punya bagasi. Maksimal barang bawaan 7 kg untuk kabin. Kamu bisa bawa 2 tas, atau 2 bawaan. Satunya tas besar, atau bisa sejenis koper kecil. Satunya lagi tas kecil yang biasa dipakai untuk membawa dompet, HP, ataupun kamera. Hampir semua maskapai punya peraturan serupa. Jadi kalau barangnya nggak terlalu banyak mending nggak usah beli bagasi.

Tapi kejadian ini bikin mikir keras kalau maskapai emang suka cari untung dari hal-hal semacam bagasi ini. Salah satu buktinya adalah kejadian penumpang Lion Air di bandara Bandung yang cukup viral. Penumpang Lion Air tujuan Bandung-Medan harus mengalami nasib sial ketinggalan pesawat gara-gara barang bawaan. Wanita ini sudah beli 6 tiket dengan 6 tas/bawaan di kabin. Namun karena dua di antaranya anak kecil, jadi barang yang cukup berat tersebut malah harus dibawa si anak.

Advertisement

Kok sampai begini sih Lion Air?

Status Esa Sinaga Mesha viral di Facebook. Dia komplain atas sikap staff Lion Air yang tidak mengizinkan dia membawa barangnya ke kabin

kronologis kejadian via www.facebook.com

Berdasarkan status Esa tersebut, dia memprotes staff Lion Air di bandara Husein Sastranegara Bandung yang tidak kooperatif. Ceritanya, Esa dan keluarganya (4 dewasa dan 2 anak) akan terbang dari Bandung menuju ke Bandara Kualanamu, Medan. Sesuai peraturan, ia membawa 6 bawaan seberat masing-masing 7 kg untuk dimasukkan ke bagasi. Sesuai dengan jumlah penumpang yakni 6 orang. Namun petugas justru menyoroti 2 kantong plastik berisi roti dan air mineral dan mengatakan harus masuk bagasi. Oleh Esa kemudian dibuanglah kantong plastik tadi.

Untuk detail lengkapnya bisa langsung ke Facebook Esa Sinaga Mesha berikut.

Belum selesai dengan 2 plastik yang dibuang, petugas Lion Air juga menyuruh agar 2 tas masing-masing dibawa anak-anak balita tersebut. Kok tega banget ya?

anak kecil bawa barangnya sendiri via pop.grid.id

Advertisement

Sesuai pengakuan Esa, dia membawa 6 tas atau bawaan untuk 6 tiket yang ia beli. Jadi ia memang taat akan prosedur bahwa masing-masing penumpang hanya bisa membawa 1 tas atau bawaan. Tapi petugas Lion Air justru meminta bawaan itu dibawa masing-masing orang, termasuk anak-anaknya yang usianya masih balita (3,5 tahun). Esa dilarang untuk membawa tas itu dan harus si anak yang bawa.

Entah dasar hukumnya apa sih, kenapa tas tidak boleh dibawa padahal sudah beli 6 tiket. Jadi seharusnya berhak bawa 6 tas. Apa pentingnya harus orang bersangkutan yang bawa, apalagi masih anak-anak? Mungkin itu yang ada dalam benak Esa ketika tahu staff Lion Air berkeras agar si anak yang bawa tas tersebut. Dampak dari ribut-ribut itu yang dirugikan adalah penumpang di mana sudah bayar 6 tiket dan harus hangus begitu saja.

Sudah berulang kali Lion Air bermasalah dalam urusan bagasi. Lalu mau sampai kapan begini?

bagasi lion air via www.republika.co.id

Dan kami ikhlaskan utk beli tiket yg baru lg.
Buat teman2 yg penasaran boleh dilihat video live saya sebelumnya.
Terimakasih lion air atas sistem kerja dari petugas bandara nya.
Kiranya mulai hari ini lion lbh meningkatkan pelayanannya.

Esa Sinaga di akun Facebooknya.

Satu hal yang mengherankan adalah, kenapa bisa TNI yang ada di lokasi tidak memberi bantuan apapun dan justru diam saja. Si ibu ini harus kehilangan 6 tiket di mana kita tau sendiri kalau tiket domestik sekarang sangat mahal akibat oligopoli kasat mata antara Lion Group dan Garuda Group. Dia harus beli tiket baru sebanyak 6 tiket lagi. Sampai kapan konsumen akan dirugikan?

Sudah sejak awal tahun, Lion Air sangat mengandalkan biaya bagasi untuk menutup biaya operasionalnya. Mulai dari peniadaan bagasi gratis hingga biaya bagasi yang kelewat mahal. Salah-salah, harga bagasi lebih mahal dari harga tiket pesawat itu sendiri. Hipwee Travel sampai bikin kompilasi masalah Lion Air di awal tahun. Setiap bulan selalu saja ada keluhan. Mau sampai kapan pelayanan Lion Air begini terus?

Kita tidak bisa menyalahkan penumpang karena pilihan maskapai sangat terbatas. Hanya ada 2 Lion Group (Lion, Batik, Wings) dan Garuda Group (Garuda, Citilink, Sriwijaya dan NAM) di mana harga bisa mereka atur bersama. Jadi, pilihan naik Lion Air bukan semata-mata karena murah belaka. Tapi karena pilihan yang tersedia sedikit. Semoga pemerintah segera turun tangan untuk mengatur regulasi yang tepat untuk dunia penerbangan Indonesia yang makin lama makin pelayanannya makin mengecewakan ini.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya