Pernah nggak sih kamu ketemu orang yang jeprat sana jepret sini di sebuah destinasi wisata? Dan nggak jarang loh, hal ini dinilai mengganggu para pelancong lain yang berada di tempat yang sama. Dengan berkaos MT*A atau apalah yang menunjukkan bahwa dia adalah seorang petualang sejati, tapi hobinya selfie sana, selfie sini. Kadang rame-rame. Pernah? Apa yang kamu sematkan dalam diri mereka? Turis? Traveler? Alayers?

Nah, buat cari tahu jati diri mereka dalam menyikap sebuah perjalanan, Hipwee Travel akan uraikan beberapa hal yang membuat turis dan traveler tampak berbeda. Ini dia letak perbedaan mereka. Cekidot, Gaes!

1. Sebelum melakukan perjalanan, turis selalu punya rencana yang matang. Sementara traveler hanya mengikuti arus angin yang membawanya terbang.

Ngikutin kata hati ajalah, ya. Travelers. via www.nomapnomad.com

Tourist dont know where they heve been, travelers dont know where they are going. – Paul Theroux

Turis selalu membuat persiapan yang matang sebelum mereka jalan, seperti menentukan itinerary kala di tempat tujuan. Hal ini nggak berlaku bagi traveler. Traveler hanya melakukan persiapan sekadarnya. Masalah menentukan tujuan, mereka hanya mengikuti ke mana angin membawanya. Kayak hubunganmu. Eh.

2. Mempercayakan perjalanan pada biro travel menjadi pilihan bagi turis. Traveler akan mencari cara bagaimana bisa sampai tempat tujuan. Kalau bisa sih yang murah atau gratis.

Advertisement

Kalau bisa sih gratis~ via www.wayfaring.me

Nggak bisa dipungkiri lagi, turis lebih mempercayakan perjalanan mereka pada biro travel. Dengan harapan, apa yang mereka petik, sama hasilnya dengan apa yang mereka semai. Seberapa besar mereka membayar jasa biro travel, sebesar itulah kepuasan yang harus mereka dapatkan dari pelayanan biro travelnya. Beda cerita dengan traveler. Jelas, mereka mencari tahu bagaimana cara agar bisa mencapai ke tujuan dengan biaya yang lebih murah. Ada juga yang mikir, gimana caranya ke sana dengan biaya nol rupiah. Ada.

3. Masalah destinasi, turis percaya banget sama guidebook. Traveler mah nggak perlu pakai buku petunjuk.

Percaya banget sama ini. Turis. via hopeforallmin.wordpress.com

Turis pasti mempersiapkan segalanya dengan matang. Mereka mempelajari dulu bagaimana cara menuju ke suatu tempat, apa yang bisa mereka lakukan, dan apa yang bisa mereka bawa pulang. Seenggaknya mereka merasa nyaman di sana. Belajar dari sebuah guidebook.Traveler enggak perlu serinci itu. Ada tempat baru, langsung cus berangkat, tanpa memikirkan ini itu kayak turis.

4. Karena percaya pada agen perjalanan, turis hanya mengeksplor satu-dua tempat wisata saja. Traveler bisa jalan sampai ke mana-mana!

Ngikut baelah. Turis. via www.letusdrivetours.com

Ini enaknya jadi traveler. Bisa jalan ke mana pun dia suka, tanpa mesti ada batasan waktu dan batasan tujuan untuk menikmati suasana di suatu tempat. Berbeda dengan turis yang harus nurut si agen perjalanan. Diajak ke sini, ayo. Diajak ke sana, boleh. Udah kayak apaan tau…

5. Turis kadang kuwalahan membawa barang bawaan, nggak kayak traveler yang cuma bawa barang sekenanya.

Percayakan saja pada benda ini. Travelers. via www.pinterest.com

Masalah barang bawaan, turis sudah mempersiapkannya dengan mantap. Mereka menyusun rapi barang sesuai dengan estimasi waktu mereka pergi. Traveler sejati sih cuma bawa seperlunya. Seolah ini hanya kebutuhan sekunder, tersier, bahkan nomor sekian.

6. Turis disibukkan dengan pencarian penginapan. Tidur di mana pun jadi, menurut traveler. Yang penting merem.

Turis nggak mau tidur di sini. Yakin deh. via deviantart.net

Perbedaan yang mencolok dari turis dan traveler adalah cara mereka menginap untuk istirahat. Turis sudah mencari penginapan yang nyaman dan aman untuk mereka singgah beberapa hari. Nah, traveler nginap di mana aja pasti mau. Sayang duit, Coy.

7. Masalah membungkus kenangan, turis akan lebih sering berselfie dan traveler sibuk memotret keadaan sekitar. Kamu suka selfie?

Selfie boleh kok, Neng. :* via www.japantimes.co.jp

Sudah menjadi kewajiban untuk mengabadikan kenangan, ketika kamu berada di suatu tempat yang baru. Tapi cara dalam membungkus kengan ini menjadi sebuah pembeda antara turis dan traveler. Traveler akan memotret tempat di mana dia berada, sementara turis lebih suka berselfie atau grufie. Kamu yang mana? Suka selfie? Hem.

8. Kalau kamu suka pakai kaos bertuliskan I Love Bali, berarti kamu turis. Traveler akan mencari pakaian adat masyarakat setempat.

Hi, Anna! via aspectsofstyle.com

Biasanya, turis akan membeli kaos khas suatu tempat. Sementara traveler akan mencari tahu pakaian adat masayarakat setempat. I love Bali nggak lebih keren dari batik Bali loh. :p

9. Menikmati liburan adalah orientasi para turis, sementara tujuan traveler adalah perjalanan itu sendiri.

Menikmati perjalanan~ via www.techinsider.io

Remember that happiness is a way of travel not a destination. – Roy M. Goodman

Para turis menghabiskan waktu untuk liburan. Kepenatan selama di kota tempat mereka kuliah dan bekerja harus dibayar tuntas dengan liburan. Berbeda dengan traveler, mereka lebih menikmati perjalanan itu sendiri daripada sibuk merefresh diri dengan destinasi wisatanya.

10. Turis merasa puas dengan pemandangan yang mereka dapat. Traveler belajar hal baru dari sebuah tempat.

Belajar hal baru. Ntap! via www.mikaelstrandberg.com

A traveler without observation is a bird without wings. – Moslih Eddin Saadi

Selain bertujuan untuk liburan, turis mengukur tingkat kepuasan mereka dari pemandangan wisata yang mereka dapat. Kalau pemandangan yang mereka dapat nggak sesuai harapan, mereka akan menilai tempat itu nggak layak untuk dikunjungi kembali. Hal ini bertolak belakang dengan para traveler. Traveler justru merasa puas dengan hal-hal baru yang mereka dapat dari perjalanan mereka. Belajar hal baru, seperti bahasa daerah setempat, mencari tahu destinasi yang asyik dari penduduk setempat, dan sebagainya. Inilah yang menjadi orientasi para traveler selama berkelana.

11. Bagi turis, posting foto-foto cantik adalah akhir dari perjalanan. Traveler akan bercerita tentang perjalanan dengan sudut pandang yang lain.

Menuliskan dengan persepsi yang lain. Traveler. via www.gapyear.com

Di akhir perjalanan, kalau kamu follow akun Instagram temanmu, pasti banyak banget foto-foto baru dengan satu tempat yang sama dan dengan caption nggak nyambung di akunnya. Beda jauh sama temanmu yang seorang traveler sejati. Dia akan memosting foto dengan caption yang bernas tentang suatu tempat baru, dengan sudut pandang yang berlainan. Ini esensi dari sebuah perjalanan bagi para traveler.

Dalam dunia per-backpacker-an selalu beredar diskusi tak habis-habis tentang apakah kita ini sebenarnya turis atau traveler. Katanya, turis itu pasti menginap di hotel mahal sedangkan traveler di rumah penduduk lokal. Turis bawa koper, traveler bawa ransel. Turis naik pesawat, traveler jalan darat. Turis ikut tur terima jadi, traveler bertualang sendiri. Turis suka manja, traveler doyan cerita. Turis banyak duit, traveler pada pelit. Turis bawa buku panduan, traveler mengintil angin. Turis selalu bilang, I am traveler, si traveler bilang, Who cares? Turis adalah traveler amatir, traveler itu turis profesional. Turis selalu berdebat beda antara turis dan traveler, sementara si traveler cuma tertawa. Turis tak ingat tempat mana yang sudah dikunjungi, traveler malah tak tahu ke mana mau pergi.

-Agustinus Wibowo-

Yup, itulah beberapa perbedaan antara turis dan traveler. Nah, sekarang giliranmu berkaca, kamu termasuk yang mana? Tulis di kolom komentar, dengan jujur. 🙂