Gak terasa, kita sudah kembali memasuki bulan Ramadhan. Selama sebulan ke depan, kamu yang beragama Islam diperintahkan untuk menunaikan ibadah puasa. Tentunya, bulan puasa bukan berarti cuma berdiam diri, ‘kan? Meskipun menahan haus dan lapar, kamu tetap bisa melakukan aktivitas favoritmu seperti biasa, misalnya mendaki gunung.

Ya. Meski mendaki gunung adalah kegiatan yang melelahkan dan bikin pegal, bukan berarti aktivitas yang satu ini gak bisa dilakukan selama bulan Ramadhan. Kegiatan ini tetap bisa kamu lakukan tanpa harus membatalkan puasa ataupun mengorbankan pahala puasamu.

Advertisement

Memang, mendaki di bulan puasa butuh penyesuaian di sana-sini. Tapi, dengan tips berikut, dijamin pendakianmu tak kalah menyenangkan.

1. Mantapkan dulu niatmu untuk melakukan pendakian saat berpuasa. Tak cuma niat mendaki, tapi juga niat menuntaskan puasamu

Mantapkan hati, jangan lupa berdoa

Mantapkan hati, jangan lupa berdoa via durisekret.blogspot.com

Mendaki saat puasa adalah tantangan tersendiri buat kamu. Jalur pendakian mungkin akan terasa bertambah ganas. Tapi, asal kamu tanamkan niat yang kuat dalam jiwa, kamu pasti bisa melakukannya. Ketika rintangannya udah berhasil kamu lalui, puasamu pun akan terasa lebih bernilai.

Jangan sampai kamu niatnya naik gunung doang, tapi gak diiringi niat yang kuat buat puasa. Malu dong, kalau naik gunung justru cuma buat alibi biar gak usah puasa? ‘Kan yang wajib itu puasanya, bukan mendaki gunungnya.

2. Tubuhmu perlu waktu untuk beradaptasi dengan kondisi puasa. Mendakilah ketika kamu udah terbiasa

aaa

Biarkan tubuhmu beradaptasi via sarangpenyamun.wordpress.com

Advertisement

Pada hari-hari pertama berpuasa, mungkin tubuhmu terasa tak bertenaga—kecuali kamu udah terbiasa puasa Senin Kamis. Makanya, baru puasa satu dua hari, jangan langsung pergi mendaki. Bisa-bisa, kamu malah gagal puasa gara-gara tubuhmu lemas.

Biarkan tubuhmu beradaptasi dulu dengan kondisi puasa. Setelah minggu pertama, biasanya tubuhmu udah terbiasa puasa. Baru deh kamu bisa mulai berangkat mendaki. Jangan lupa isi harimu dengan berolah raga ringan sambil menanti berbuka puasa.

3. Absen dulu dari gunung-gunung yang jalurnya panjang dan berat. Toh, banyak juga gunung-gunung yang bisa kamu nikmati tanpa perlu menghabiskan waktu berhari-hari menjelajahinya

Golden Sunrise di Puncak Andong

Golden Sunrise di Puncak Andong via www.lensasemutireng.com

Jika ingin mendaki selama bulan puasa, gunung-gunung yang ramah didaki adalah pilihan terbaikmu. Libur dulu deh dari gunung-gunung yang memiliki jalur pendakian ekstrem maupun yang memakan waktu sampai berhari-hari, misalnya seperti Gunung Raung atau Argopuro. Toh, gunung-gunung yang gak terlalu tinggi seperti Gunung Andong atau Prau juga gak kalah menarik untuk didaki, kok.

Selain itu, rute pendakian juga wajib diperhatikan. Pilih jalur yang lebih mudah, singkat, dan tentu saja yang resmi. Kalau mau ekspedisi membuka jalur pendakian baru, mendingan kamu tunda dulu sampai puasa usai.

4. Keril yang ringan akan mempermudah pendakianmu. Cukup bawa peralatan dan logistik seperlunya aja, tak perlu berlebihan

Bawa yang esensial aja

Bawa yang esensial aja via www.flickr.com

Mendaki sambil menjalankan ibadah puasa tentu memerlukan manajemen pendakian yang baik. Tak terkecuali dengan manajemen peralatan dan logistik. Membawa peralatan yang esensial wajib hukumnya, sementara perlengkapan yang gak begitu diperlukan atau bisa disubstitusi bisa kamu tinggalkan di rumah. Dengan pengepakan keril yang efisien, langkahmu selama mendaki pun akan makin ringan.

5. Biar gak banyak godaan sepanjang pendakian, ajak teman-teman yang akan mendukung ibadah puasamu untuk menjadi rekan satu tim

Cari teman yagn bisa mendukung ibadah puasamu

Cari teman yagn bisa mendukung ibadah puasamu via kolomsunyi.wordpress.com

Meski gak ada tukang es cendol di atas gunung, godaan untuk berbuka puasa sebelum waktunya bisa lumayan mengusik imanmu. Selain haus, lapar, dan capek, melihat teman pendakianmu yang gak puasa juga bisa menggoyahkan iman. Apalagi, kalau teman kamu justru menggoda kamu buat membatalkan puasa, duh, berat banget godaannya.

Kamu bisa mendaki bersama teman-teman yang sama-sama berpuasa atau yang bisa menghargai ibadah puasamu. Tak masalah mendaki bareng orang yang berbeda keyakinan, selama mereka bisa menghormati ibadahmu dan mengikuti ritme mendakimu yang mungkin bakal lebih lambat dari mereka.

Yang paling penting, kamu mesti ingat poin pertama. Jangan sampai pertahananmu runtuh cuma gara-gara melihat temanmu makan dan minum.

6. Untuk menghemat tenaga, siasati dengan memilih waktu pendakian yang tepat

Mendaki malam hari

Mendaki malam hari via fsadam.wordpress.com

Mensiasati waktu pendakian adalah salah satu hal yang wajib kamu perhatikan. Toh, kamu gak harus mendaki di tengah terik matahari, ‘kan? Hal ini justru selayaknya kamu hindari.

Ada beberapa waktu pendakian yang bisa kamu pilih jika mendaki saat berpuasa. Antara lain, kamu bisa memulai pendakian di sore hari, itung-itung ngabuburit. Jadi, kamu bisa berbuka puasa sambil menikmati senja di lereng gunung. Setelahnya, kamu bisa melanjutkan pendakian tanpa harus menahan haus dan lapar. Ngemil sepanjang jalan pun bisa.

Alternatif lainnya, kamu bisa mulai mendaki setelah usai salat Tarawih dan dilanjutkan sahur di atas gunung. Kalau jalur pendakiannya cukup singkat, kamu bisa turun di pagi hari. Sementara jika sebaliknya, habiskan waktumu di atas gunung lalu mulai turun sore harinya.

7. Karena kamu butuh asupan gizi yang cukup, logistik yang kamu bawa pun gak boleh sembarangan, apalagi cuma mengandalkan mie instan

Makan yang bergizi seimbang

Makan yang bergizi seimbang via cmeythasari.wordpress.com

Ketika berbuka maupun sahur di atas gunung, jangan sampai alpa untuk memperhatikan asupan gizimu. Pastikan kamu mendapatkan cukup energi dari karbohidrat dan protein. Kamu bisa membawa sereal, bakso, sampai daging kornet kalengan. Asal jangan makan kornet babi aja, soalnya haram, Bro.

Makan mie instan juga gak dilarang, kok. Yang gak dianjuran adalah kamu cuma mengandalkan makanan yang satu ini untuk mengisi kebutuhan energimu. Gak sehat, apalagi mie instan ‘kan gak mudah dicerna dan menyerap air.

8. Sisanya, nikmati perjalananmu dengan santai tanpa memforsir tenaga. Jangan lupa ucapkan syukur pada Sang Khalik di atas sana

Bersyukur pada Sang Khalik

Bersyukur pada Sang Khalik via lowcosttraveler.wordpress.com

Ketika semuanya sudah kamu niatkan dan persiapkan dengan baik, ibadahmu pasti tetap lancar selama mendaki. Akhirnya, nikmati pendakianmu dengan santai. Semangat memang perlu, tapi tak usah melangkahkan kaki terburu-buru; aturlah ritme yang pas dengan kondisi tubuhmu. Bila udah sampai di puncak, jangan lupa tujuanmu mendaki, yaitu mengucapkan syukur dan lebih mendekatkan diri pada Sang Khalik.

Nah, naik gunung di kala puasa ternyata gak sesulit yang dibayangkan, ‘kan? Mendingan isi harimu dengan kegiatan positif kayak mendaki daripada cuma malas-malasan di rumah sampai bedug ditabuh. Apalagi, bulan puasa ‘kan banyak liburnya, hehehe.

Salam lestari.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya