Pandangan Politik Suku Baduy : Ditanya Pilih Jokowi atau Prabowo, Begini Jawabannya

Pandangan Politik Suku Baduy Dalam

Hipwee Travel akan memberikan liputan khusus destinasi wisata populer di Indonesia. Kami menamainya Reportase Jelajah Wisata. Tiap bulannya kami akan mengupas satu destinasi yang sering jadi impian para traveler. Tak cuma destinasinya saja, kami juga akan membahas sudut pandang dan cerita-cerita lain seputar destinasi tersebut yang tak pernah ternarasikan sebelumnya.

Untuk destinasi bulan ini pilihan kami jatuh ke Baduy, kampung adat sekaligus tempat wisata tersembunyi di pelosok Banten. Ada 5 tulisan di Reportase Jelajah Wisata Baduy yang akan terbit setiap hari. Simak tulisan kedua yang akan membahas pandangan politik warga Baduy, masyarakat yang sejatinya tidak butuh-butuh amat janji-janji politik dan Pemilu.

Advertisement

Artikel Pertama : Sensasi Semalam Menginap di Baduy Dalam. Harmoni Bersama Alam Tanpa Listrik, HP dan Toilet!

Sebagai masyarakat yang cukup menutup diri dari teknologi dan kemajuan peradaban modern, Suku Baduy bisa dikatakan tidak terlalu punya kepentingan ‘politik’. Betapa tidak, mereka hidup terisolir dan hubungan dengan masyarakat luar Baduy cukup terbatas. Mereka menanam pangan mereka sendiri, tidak bekerja di luar kawasannya dan tidak menggunakan teknologi semacam HP, TV, bahkan alat mandi seperti sabun dan odol sekalipun.

Di sela-sela kunjungan Hipwee ke Baduy Dalam, kami sempat berbincang dengan salah satu warga Baduy Dalam yang menemani perjalanan kami. Beliau adalah Pak Ardi, warga desa Cibeo yang menemani kami ke Cikeusik. Kehidupan di Baduy Dalam membuat ia tampak arif dan filosofis. Kali ini Hipwee akan bercerita tentang pandangan politik Pak Ardi terhadap politik, dan juga pemimpin Indonesia.

Advertisement

Disclaimer : Pandangan politik Pak Ardi tidak mewakili seluruh komunitas Baduy, namun garis besarnya kurang lebih sama.

Struktur pemerintahan di Baduy Dalam, satu desa dipimpin oleh kepala adat yang bernama pu’un

baduy dalam via kumparan.com

Ada 3 kampung yang masuk kawasan Baduy Dalam, yakni Cibeo, Cikertawana dan Cikeusik. Masing-masing kampung dipimpin oleh seorang pu’un atau kepala suku yang jadi pimpinan utama. Rumah pu’un pun tampak lebih tinggi daripada rumah warga biasa. Selain pu’un, ada jaro yang juga jadi pimpinan di Baduy Dalam meski posisinya lebih tinggi pu’un. Mirip dengan posisi Hokage dalam anime Naruto kali ya. Hehehe.

Secara administratif, warga Baduy Dalam berada di Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak. Mereka dipimpin oleh jaro pamarentah yang levelnya setingkat lurah. Masyarakat Baduy juga sangat menghormati pemerintah provinsi Banten. Mereka punya tradisi Seba, di mana masyarakat Baduy Luar dan Dalam berjalan kaki menuju kantor Gubernur Banten. Seba adalah melakukan kunjungan resmi kepada penguasa daerah beserta mengirim hasil bumi. Ritual ini di lakukan sebagai bentuk silaturahmi dan bukti kesetiaan warga Baduy kepada pemerintah, yakni kepada Bupati dan Gubernur. Seba di selenggarakan satu tahun sekali, biasanya dilaksanakan di bulan April tepatnya setelah ritual Kawalu usai.

Advertisement

Ditanya tentang pandangan politik nasional, begini jawaban salah satu warga Baduy Dalam yang menemani perjalanan kami

anak baduy dalam via www.facebook.com

Saat malam datang, kami dan tuan rumah makan malam bersama. Menunya sederhana namun begitu nikmat sekali. Ada sayur asem dan ikan asin. Sembari makan, kami berbincang santai dengan Pak Ardi. Beliau cukup berwawasan dan sering jalan kaki ke Jakarta. Sudah puluhan kali mungkin dalam hidupnya berjalan tanpa alas kaki ke ibukota. Ia biasanya berjualan madu, kerajinan ataus sekedar mengunjungi kenalannya.

Hipwee berbincang sedikit tentang pandangan politik dengan Pak Ardi. Terutama tentang Pilpres yang akan diselenggarakan tahun depan. Begini percakapan kami.

Hipwee : Bapak milih Jokowi atau Prabowo nih buat tahun depan?

Ardi Baduy : He he he, (tersenyum), kita tidak memilih salah satunya. Masyarakat Baduy berada di tengah-tengah. Siapapun yang terpilih, kami akan dukung.

Hipwee : Tapi tetap punya pilihan ‘kan Pak?

Ardi Baduy : Kita tidak memilih, tidak punya KTP saya. Jadi tidak bisa nyoblos. Tapi siapapun yang jadi Presiden ataupun Gubernur, kita tetap dukung. Yang penting aman dan tentram.

Hipwee : Apa karena nggak ada manfaatnya Pak? Maksud saya, apa sih manfaatnya pemerintah buat Baduy yang mampu mengurus dirinya sendiri.

Ardi Baduy : Ya tetap ada manfaat adanya pemerintah.

Hipwee : Memangnya apa sih manfaat untuk Bapak atau masyarakat Baduy?

Ardi Baduy : Tetap ya kita butuh pemerintah. Terutama soal keamanan dan juga harga pangan. Kalau ada pemerintah ‘kan lebih aman.

Hipwee : Pemerintah sekarang bagaimana Pak? Bagus?

Ardi Baduy : Bagus. Pemerintah sekarang bagus.

Hipwee : Lalu, bedanya pemerintah yang sekarang dengan yang dulu?

Ardi Baduy : Sama aja, bedanya dulu itu harga ikan asin cuma 5 ribu. Sekarang bisa sampai 40 ribu. Jadi lebih mahal.

Hipwee : Jadi Jokowi atau Prabowo nih Pak? Hehehe…

Ardi Baduy : Siapapun itu yang penting beras bisa panen dengan lancar. Hehe

Menurut Pak Ardi, sedari dulu, warga Baduy sudah ditawari untuk diberikan pekerjaan, sekolah dan dibangunkan rumah, tapi mereka menolak tawaran pemerintah tersebut

Suku Baduy dalam via www.adirafacesofindonesia.com

“Sekali dua kali saya sempat tergiur ya, tapi untungnya masih bisa berpikir secara sehat. Tidak, kita harus tetap memegang adat yang diwariskan leluhur,” jawab Pak Ardi ketika ditanya tentang tawaran akan hidup yang lebih modern.

Upaya memodernisasi Baduy sudah sering dilakukan oleh pemerintah sedari dulu. Dari penuturan Pak Ardi, sudah sejak lama pemerintah ingin membuat Baduy lebih maju, tentu dari perspektif negara bukan adat. Bagi masyarakat Baduy sendiri, upaya membuatkan rumah permanen, menyediakan akses sekolah maupun listrik, hingga menyediakan pekerjaan di luar Baduy bukanlah sebuah pilihan bijak dan justru menyalahi adat. Mereka memang menjunjung tinggi ‘Amanat Luhur’ yang sudah turun temurun dari leluhur Baduy. Untuk itu, pendekatan pemerintah dengan membuat Baduy lebih modern adalah tawaran yang kurang tepat. Untungnya, warga Baduy tidak tergiur modernitas dan masih kuat menjunjung tinggi budaya mereka sendiri.

Pak Ardi juga menyatakan bahwa Baduy juga merasa bagian dari Indonesia kok, dan beliau sangat menghormati negara ini. Upacara bendera 17-an pun beberapa kali diadakan di Baduy. Ia tetap bangga menjadi Indonesia dan berusaha menjaga ‘Amanat Luhur’ agar tetap lestari dan tidak tergiur gemerlapnya kehidupan modern. Secara politik, tak ada tendensi dan kepentingan warga Baduy tentang siapa yang akan dipilih. Pada prinsipnya mereka akan dukung siapapun yang menang meski secara adat warga Baduy Dalam tidak boleh ikut Pemilu.

Baduy tetap tidak memperbolehkan memakai alas kaki, sabun, shampoo, hingga odol. Tidak ada listrik ataupun sinyal HP, apalagi jepretan kamera. Semoga kearifan lokal Baduy Dalam selalu terjaga dan didukung dengan cara yang tepat, bukan diubah jadi lebih modern.

Iming-iming fasilitas dan modernisasi mungkin jadi cobaan yang cukup berat bagi warga Baduy Dalam. Jika tidak kuat dengan gemerlapnya dunia modern, mereka harus keluar dari Baduy Dalam ke Baduy Luar. Masyarakat Baduy Luar sendiri sudah cukup terbuka dengan dunia luar meskipun masih menjunjung budaya Baduy.

Jadi siapa yang akan mereka pilih, Jokowi atau Prabowo?

Advertisement
Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

Traveler Baper, Penghulu Kaum Jomblo

CLOSE