Cerita Unik di Balik Popularitas Pecel Lele Lamongan, Penguasa Kuliner Malam di Berbagai Daerah

Pecel Lele Lamongan

Bagi kamu penggemar kuliner malam kaki lima, pecel lele adalah makanan yang paling mudah dijumpai. Bahkan hampir di setiap daerah di pulau Jawa dan beberapa daerah di Sumatra pasti nggak asing dengan warung tenda pecel lele. Cita rasa gurih dari ikan lele dan sambal berpadu dengan lalapan segar membuat siapa saja sulit menolak kelezatan kuliner satu ini. Pecel lele dianggap berasal dari daerah Jawa Tengah, tapi ada juga yang menganggap berasal dari Jawa Timur tepatnya dari Lamongan.

Advertisement

Perbedaan pendapat ini karena di daerah Jawa Tengah memang banyak sekali penjual pecel lele, nah kalau anggapan pecel lele dari Lamongan karena pertama kali kuliner ini dikenalkan oleh orang Lamongan yang merantau ke luar daerah sehingga disebut dengan pecel lele Lamongan. Banyak penikmat kuliner ini  yang penasaran dengan asal-usul pecel lele Lamongan. Mengapa disebut ‘pecel’ padahal sama sekali nggak ada bumbu kacang khas pecel pada umumnya? Daripada penasara, yuk simak asal usul pecel lele Lamongan berikut!

Zaman dahulu orang asli Lamongan memiliki pantangan makan ikan lele. Menurut mitos yang beredar, jika orang asli Lamongan makan ikan lele, maka akan tertimpa kesialan

Nasi dan pecel lele | Credit photo by Si Gam via commons.wikimedia.org

Cerita ini sering membuat penikmat pecel lele Lamongan penasaran, mengapa orang Lamongan nggak boleh makan ikan lele padahal mereka jual pecel lele Lamongan. Cerita tersebut bermula ketika Sunan Giri mengutus Bayapati untuk mencari pusakanya yang hilang di daerah Lamongan. Setelah mendapat pusaka tersebut, Bayapati dihadang oleh Joko Luwuk sebagai penguasa daerah Lamongan. Untuk mengelabuhi Joko Luwuk, Bayapati menceburkan diri ke sungai yang penuh dengan ikan lele. Upaya tersebut akhirnya berhasil membuat Joko Luwuk mengira bahwa Bayapati telah hilang dimakan ikan lele.

Joko Luwuk yang kesal karena nggak bisa mendapatkan pusaka milik Sunan Giri, akhirnya bersumpah bahwa seluruh masyarakat Lamongan nggak boleh makan ikan lele. Seiring berkembangnya zaman, cerita tersebut dianggap mitos bagi sebagian besar orang karena sumpah Joko Luwuk nggak bisa terbukti. Jadi saat ini banyak kok, orang Lamongan yang makan ikan lele.

Advertisement

Banyak warga Lamongan yang merantau ke ibu kota untuk berjualan makanan pada tahun 60-an. Menu pecel lele dipilih karena ikan lele saat itu paling mudah didapat

Penjual pecel lele | Credit by Ikhsalul Amam via www.flickr.com

Awalnya pecel lele hanya dijadikan pilihan menu selain soto Lamongan yang dijual di Jakarta. Tapi ternyata banyak yang menyukai pecel lele, sehingga pada tahun 70-an mulai banyak penjual pecel lele. Sebenarnya di Lamongan sendiri menu ini awalnya bukan berbahan dasar ikan lele, melainkan daging unggas seperti ayam, bebek dan burung dara. Namun, saat itu ikan lele dipilih sebagai alternatif bahan baku yang paling mudah didapat di Jakarta. Awalnya orang-orang Jakarta kurang suka mengonsumsi lele. Namun, sejak diolah dengan cara khas Lamongan, lele menjadi salah satu makanan favorit di Jakarta.

Banyak yang penasaran dengan pecel lele: pecel tapi nggak ada bumbu pecelnya. Ternyata nama aslinya ‘pecek lele’!

Pecel lele | Credit photo by Gunawan Kartapranata via commons.wikimedia.org

Dilansir dari Grid, awalnya pecel lele Lamongan di Jakarta namanya pecek lele. Pecek sendiri merupakan cara penyajian makanan khas Jawa Timur, yakni lauk yang dipecek atau dipenyet diatas sambal. Nah, saat pecek lele mulai dikenal di Jakarta, banyak pembeli yang salah paham karena namanya mirip dengan makanan khas Betawi yakni ‘pecak’. Pecak khas Betawi sendiri merupakan suiran ikan air tawar termasuk lele yang digoreng atau dibakar lalu disiram dengan kuah santan berbumbu cabai dan kemiri.

Supaya membedakan pecek lele Lamongan dan pecak lele Betawi, akhirnya penyebutan ‘pecek’ diganti menjadi ‘pecel’. Saking populernya pecel lele Lamongan di Jakarta, akhirnya pada tahun 80-an banyak penjual pecel lele yang berjualan di berbagai daerah di pulau Jawa. Saat ini di Lamongan sendiri, kuliner legendaris ini tetap disebut dengan pecek lele. Jadi, sebutan pecel lele hanya terkenal di luar daerah Lamongan. Nah, udah terjawab ya, kenapa pecel lele nggak ada bumbu pecelnya~

Advertisement

Fakta menarik soal spanduk pecel lele Lamongan yang dibuat mirip di semua daerah dan alasan mengapa pecel lele dijual di malam hari

Warung pecel lele Lamongan | Credit photot by Yopee Saturdae via commons.wikimedia.org

Keunikan pecel lele Lamongan ternyata sering kali menimbulkan rasa penasaran di benak penikmat kuliner malam ini. Pasalnya, hampir bisa dipastikan setiap tenda pecel lele Lamongan di berbagai daerah memiliki warna dan gambar yang sama. Hanya nama pemilik atau nama warungnya saja yang berbeda, tapi tetap dengan warna-warna yang mirip. Dilansir dari CNN, kesamaan spanduk pecel lele Lamongan sebenarnya bukan suatu kesengajaan. Namun, seiring populernya pecel lele Lamongan di berbagai daerah membuat para pedagang ingin menunjukkan ciri khas pecel lele Lamongan dari tampilan spanduknya.

Warna-warna terang dipilih untuk menarik perhatian pembeli karena pecel lele kebanyakan hanya dijual di malam hari. Warna dasar spanduk sengaja dibuat putih, sementara ornamen lain dalam sepanduk berwarna jambon, hijau dan jingga terang, jadi mudah terlihat saat malam hari. Pecel lele Lamongan memang identik sebagai kuliner malam menurut orang-orang Lamongan, malam hari banyak orang yang enggan memasak dan lebih memilih membeli makanan untuk santap malam.

Nah, itulah cerita unik di balik populernya pecel lele Lamongan sebagai kuliner khas yang lezat dan digemari berbagai kalangan. Apakah kamu salah satu penggemar pecel lele Lamongan?

Advertisement
Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

Penikmat buku dan perjalanan

Editor

Penikmat jatuh cinta, penyuka anime dan fans Liverpool asal Jombang yang terkadang menulis karena hobi.

CLOSE