Bencana banjir bandang menerjang wilayah pesisir barat Provinsi Banten sejak Senin, 25 Juli 2016. Setidaknya, ada tiga daerah yang merasakan dampak langsung dari banjir bandang itu, yakni Kabupaten Serang, Kabupaten Pandeglang, dan Kabupaten Lebak.

Bencana ini menenggelamkan ribuan rumah dan turut memakan korban jiwa. Sampai hari ini, Rabu 27 Juli 2016, banjir belum surut di beberapa titik karena hujan deras masih mengguyur wilayah Serang dan sekitarnya. Ribuan orang juga masih mengungsi.

Banjir bandang mulai datang sejak Senin dini hari. Arus deras disertai lumpur memutus akses transportasi.

Banjir memutus akses di pesisir barat Banten. via twitter.com

Wilayah Serang dan sekitarnya diterjang banjir bandang sejak Senin dini hari. Banjir itu datang setelah hujan deras yang terjadi sejak Minggu siang. Bukan cuma arus air yang deras, banjir bandang itu juga disertai timbunan lumpur padat yang merusak bangunan.

Timbunan lumpur yang terbawa arus banjir membuat akses transportasi di pesisir barat Banten terputus. Jalan tidak bisa dilalui karena tertutup lumpur. Air tidak cepat masuk ke laut karena air laut pasang. Ketinggian air mencapai 1 sampai 1,5 meter.

Banjir bandang menenggelamkan ribuan rumah di tiga daerah serta menewaskan satu keluarga di wilayah Carita.

Advertisement

Empat orang tewas dalam kendaraan saat terjebak banjir via twitter.com

Banjir bandang yang menerjang Banten terbilang besar. Berdasarkan laporan yang dihimpun Tempo, banjir kali ini menenggelamkan 2.209 rumah di tiga kabupaten yang berbeda. Dari jumlah itu, 181 rumah di antaranya dalam kondisi rusak berat dan 50 rumah lainnya hilang.

Banjir lumpur ini juga memakan empat korban jiwa. Keempat korban itu satu keluarga. Mereka ditemukan tewas di dalam mobil Daihatsu Xenia putih dengan nomor polisi B 1892 BRH yang terjebak banjir. Petugas menduga keempat korban itu tewas akibat keracunan AC mobil.

Bahaya baru mengancam penduduk di pesisir barat Banten. Mereka dihantui ketakutan tercemar limbah kimia.

Bahaya masih mengancam wilayah pesisir barat Banten. via twitter.com

Keberadaan berbagai macam industri yang berdiri di pesisir barat Banten juga mengancam penduduk. Mereka dihantui ketakutan tercemar limbah kimia dari sekitar 85 industri kimia besar di sana.  Pemerintah terus berkordinasi dengan perusahaan terkait untuk menanggulangi pencmaran limbah.

BMKG memprediksi hujan masih akan terus mengguyur wilayah Banten dalam seminggu ke depan. Gelombang laut di pesisir barat Banten juga masih tinggi. Hal ini akan membuat air sungai yang mengalir ke laut akan kembali ke daratan. Oleh karena itu, BMKG meminta warga tetap waspada.

Kerusakan ekosistem di DAS Cidanau diduga menjadi penyebab utama banjir bandang di Serang dan sekitarnya.

Dampak kerusakan di Pandeglang akibat diterjang banjir. via twitter.com

Kerusakan ekosistem di daerah aliran sungai (DAS) Cidanau diduga menjadi penyebab utama banjir bandang. Hal ini bisa dibuktikan dengan penemuan banyak bekas penebangan pohon dan lumpur yang hanyut terbawa arus. Kerusakan itu membuat Cagar Alam Rawa Danau tak mampu lagi menghadang laju air.

Cagar Alam Rawa Danau yang merupakan satu-satunya ekosistem rawa pegunungan di Pulau Jawa sering diekspoitasi oleh penduduk sekitar dengan cara menebangi pepohonan dan diubah menjadi ladang. Padahal, cagar alam itu merupakan pemasok kebutuhan air terbesar untuk menggerakkan industri di daerah Cilegon.

Yuk kita tingkatkan kepedulian terhadap lingkungan. Karena alam adalah sahabat manusia, janganlah kita merusaknya!

Yuk sama-sama kita jaga kelestarian lingkungan via twitter.com

Bencana yang terjadi di Banten meninggalkan duka yang mendalam buat para korban dan keluarga. Oleh karena itu, jangan sampai musibah serupa terulang di lain waktu. Yuk kita sama-sama ambil pelajaran dari bencana di Banten. Kita harus tingkatkan kesadaran untuk terus menjaga lingkungan. Sebab, alam adalah sahabat manusia. Jadi janganlah kita merusaknya.

Salam cinta lingkungan!