Please! Jangan Lagi Menulis “Indonesia Itu Indah, Kapan Kamu Ke Sini!”

Alam Nusantara mana yang nggak indah? Nggak perlu lagi kamu menyangsikan keindahan alam Indonesia, sebab memang Indonesia dinilai sebagai negara dengan tingkat pariwisata yang cukup baik dan paling marak (kuantitas) di dunia. Bahkan dari tahun ke tahun turis asing yang berkunjung ke Indonesia selalu meningkat. Ini bukti bahwa Indonesia memang indah!

Advertisement

Nah, tapi kenapa sampai saat ini masih buanyak banget traveler kayak kamu yang suka nulis kalimat, “Indonesia itu indah,” di setiap mengunjungi tempat wisata? Itu nggak perlu, Gaes! Berikut Hipwee Travel akan memberikanmu beberapa alasan kenapa sebaiknya kamu berhenti menuliskan kalimat ambigu tersebut dalam setiap petualanganmu. Cekibrot!

Indonesia memang indah. Selain Pulau Dewata, wisata ke Raja Ampat, Wakatobi, dan Bunaken selalu menjadi prioritas turis mancanegara dalam beberapa tahun terakhir di Indonesia.

Banyak bule tertarik. :)

Banyak bule tertarik. 🙂 via blog.conservation.org

Menteri Pariwisata Arief Yahya beberapa waktu lalu menyatakan bahwa kunjungan turis asing di Indonesia mengalami peningkatan yang cukup baik, meski nggak terlalu pesat. Arief menambahkan, kalau ASEAN punya Thailand dengan sentra pariwisatanya, maka Indonesia punya Bali yang masih cukup ramai dikunjungi. Tapi, beberapa tahun terakhir muncul Raja Ampat, Wakatobi, dan Bunaken yang menjadi destinasi favorit para traveler, baik dalam maupun luar negeri. Sebuah prestasi yang cukup apik bagi pariwisata di Indonesia. So, kamu nggak perlu repot-repot menulis ‘Indonesia itu indah’!

Dengan memamerkan kalimat ‘Indonesia itu indah’, sama halnya kamu menyiksa jomblo dan orang-orang yang kurang piknik. Tersiksa oleh rasa iri yang mendera.

Sabar, Mblo. :(

Sabar, Mblo. 🙁 via sariwaran.com

Dengan kamu menuliskan kalimat seperti itu, sebenarnya banyak banget loh, orang-orang yang tersiksa! Apalagi kaum jomblo dan orang-orang yang kurang piknik. Cuma rasa iri yang mereka dapatkan dari postinganmu di media sosial. Kan kasihan…. 🙁

Advertisement

Indonesia itu indah, akan hancur ketika banyak traveler alay yang tertarik untuk mengunjunginya. Plis, jangan nulis kayak gitu lagi!

Ancur dah tuh! :(

Ancur dah tuh! 🙁 via liburmulu.com

Satu alasan paling mendasar kenapa kamu harus berhenti menuliskan kalimat ambigu itu adalah karena akan banyak banget traveler alay (termasuk kamu) yang akan mengunjungi tempat tersebut. Bukan malah menambah pendapatkan negara dari pariwisata, alam Indonesia malah terancam dengan kehadiran mereka! Dasar, traveler alay!

Kalau kamu selalu menulis dengan kertas dan pena, bukan nggak mungkin tempat itu akan jadi gunungan sampah.

Salah satu titik di Gunung Rinjani. :(

Salah satu titik di Gunung Rinjani. 🙁 via www.exploregunung.com

Ini yang paling meresahkan! Kamu yang suka nulis berbagai macam kalimat aneh di puncak gunung, di pantai, di jurang, atau di mana pun kamu berada dengan menggunakan selembar kertas, akan menimbulkan gunungan sampah yang susah mengurai! Bukan cuma karena selembar kertas itu, melainkan akan makin banyak traveler alay yang datang ke sana, dan meninggalkan berbagai sampah yang enggan mereka bawa pulang. Kan malah mengotori alam jadinya kalau begitu! 🙁

Dan, kamu tahu apa yang terjadi ketika tulisan alaymu itu memengaruhi semua orang? Inilah salah satu dampaknya…

Lautan manusia. :(

Lautan manusia. 🙁 via www.exploregunung.com

Semakin marak orang-orang kayak kamu yang menulis ‘Indonesia itu indah’, semakin banyak masalah yang akan menghampiri alam Nusantara ini. Gambar di atas bisa mewakili kejadian yang terjadi setelah kamu posting tulisan alaymu itu ke media sosial. 🙁

Advertisement

Semakin sering kamu menulis kalimat seperti itu, bisa dipastikan rangking pariwisata Indonesia bisa merosot di tingkat dunia.

(((edelwais)))

(((edelwais))) via instagram.com

Ya, semakin sering kamu menuliskan kalimat ‘Indonesia itu indah,” semakin banyak pula traveler alay yang mengunjunginya, dan semakin banyak pula sampah dan kerusakan yang akan ditimbulkan. Maka dengan begitu, bisa dipastikan Indonesia akan mengalami kemerosotan peringkat dalam pariwisatanya di tingkat dunia. Bahkan, harapan masuk ke peringkat 30 besar untuk wisata terbaik di dunia pada tahun ini bisa-bisa hanya sebatas mimpi.

Apa sih manfaat menuliskan kalimat itu? Pamer, keliatan keren, atau apa? Kenapa nggak fotoin aja tempat wisatanya malah lebih bagus. Dan buat yang dikasih ucapan macam itu apa jadi seneng, apa malah iri? Yuk direnungkan. Masalahnya sudah banyak yang melakukan itu dan hanya menumpuk sampah. Dan, membuat trend negatif traveler alay bermunculan di mana-mana!

Nah, itulah beberapa alasan yang cukup meyakinan, supaya kamu PAHAM dan MENGERTI kenapa kamu harus berhenti menulis ‘Indonesia itu indah, kapan kamu ke sini?’ dalam setiap perjalananmu. The point is, jangan sampai merusak alam Indonesia, ya!

Advertisement
Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

Senois.

22 Comments

  1. Dimaz Yogi Megantoro berkata:

    Maaf mas, tapi kok logikanya berantakan ya?
    "Ya, semakin sering kamu menuliskan
    kalimat ‘Indonesia itu indah,” semakin
    banyak pula traveler alay yang
    mengunjunginya, dan semakin banyak
    pula sampah dan kerusakan yang akan
    ditimbulkan. Maka dengan begitu, bisa
    dipastikan Indonesia akan mengalami
    kemerosotan peringkat dalam
    pariwisatanya di tingkat dunia. Bahkan,
    harapan masuk ke peringkat 30 besar
    untuk wisata terbaik di dunia pada tahun
    ini bisa-bisa hanya sebatas mimpi." Kok makin banyak pengunjung malah makin bisa merosot? logikanya dmn?

  2. Majdi Aljihaad berkata:

    Makin banyak pengunjung "alay" makin banyak sampah mas. Wisata terbaik bukan sekedar banyaknya jumlah pengunjung, ada aspek lain seperti infrastruktur dsb. Nah, diatas disebut makin banyak pengunjung alay makin banyak sampah dan makin banyak kerusakan, kalo sudah rusak begitu siapa yang mau dateng? liat potonya aja males.

  3. Latief Fickry berkata:

    maaf tapi menurut saya terlalu mengada-ada, author sepertinya sering melempar isu alay pada traveler.

    seperti pada point "menyiksa yg jomblo dan kurang piknik" kan bukan itu tujuanya? kalaupun (maaf ini kalaupun) ada efek negatifnya seperti itu kan apapun pasti ada efeknya. dan pada point "bukan nggak mungkin tempat itu akan jadi gunungan sampah." itu kan hanya pengandaian yang terlalu di generalisasi. bukan tidak mungkin tp bukan pasti, namun itu sudah di jadikan alasan untuk menghakimi? dan pada point "hancur karna travellers alay" jangan salahkan orang yang menulis kalau travellers alay mengunjunginya, banyak referensi yg bisa travellers alay dapatkan. dan masalah lautan manusia, saya rasa banyak pariwisata yg menjadi lautan manusia tanpa ada seorangpun yang menulis tulisan seperti itu.

    dan tolong di jelaskan secara sistematis hubungan antara penulisan seperti itu dan kemerosotan pariwisata indonesia di mata dunia.

  4. Dhia Fitra Anjaini berkata:

    Moral of the story: jangan alay, tahu diri dan etika, jangan dikit2 pamer ke medsos, setiap hal yang lo lakuin ada konsekuensinya. Itu aja sih sebenernya maksud artikel ini. Medsos itu hak lo, tapi bisa jadi pisau yang bisa nusuk diri sendiri lo juga. Lagian ga rugi juga kan kalo jalan-jalan cukup dinikmati diri sendiri aja, tanpa banyak publikasi?

  5. Riza Firliansah berkata:

    gue kira gue aja yg gagal paham sama artikel ini..
    mungkin yang nulis cuma ngasal aja kali ya..cuma berdasarkan opini dia aja..ini sih..
    gak ada bukti, sumber nya

  6. Latief Fickry berkata:

    gue setuju.

  7. Latief Fickry berkata:

    maaf mba dhia, kalo analogi mba dhia "post di medsos ibarat piso yg bisa nusuk lo", artikel ini bilang "piso itu bisa nusuk lo, jd jangan pernah sekalipun lo pake piso untuk alasan apapun" gitu. kan piso penting buat hal-hal berguna lainya. maaf sekali lagi

  8. Tina Nadeak berkata:

    Hahahaa ‘alay’???

  9. Mici berkata:

    Sangat setuju,,,,,dasar superr2 alayyy

CLOSE