Mencumbu Dinginnya Ranu Kumbolo yang Indah Berselimut Embun Es. Syahdu dan Romantis

Embun Es di Ranu Kumbolo

Beberapa waktu lalu, suhu dingin telah menyapa beberapa daerah di pulau Jawa. Embun es turun di Dieng, pun demikian dengan Bromo dan Ranu Kumbolo. Penasaran ingin mencicipi es di Ranu Kumbolo, kami pun mendaki ke sana akhir pekan lalu (13-14 Juli) bersama tim Sociotraveler. Rombongan berjumlah 16 orang berangkat dari Tumpang, Kabupaten Malang dengan Jeep terbuka.

Advertisement

Destinasi pertama adalah basecamp pendakian Ranu Pane, 2.114 mdpl. Siapkan dokumen pendakian yang sudah kamu isi sebelumnya. Oh iya, mendaftar pendakian Gunung Semeru sudah online lho. Jadi kamu harus daftar lewat website TNBTS dan pastikan kuota pendakian masih ada. Kuota pendakian Semeru cuma 600 pendaki. Jadi kalau udah abis kuotanya, harus cari hari lainnya.

Pendakian dimulai dari ladang pertanian warga. Trek pendakian Ranu Kumbolo relatif landai dan tidak banyak tanjakan curam

ranu pane via www.jejakpiknik.com

Sebelum mendaki, kami harus briefing terlebih dahulu untuk dijelaskan apa yang boleh dan apa yang dilarang di sana. Start pendakian pukul 15.00 WIB dan terhitung cukup kesorean. Trek pendakian Ranu Kumbolo memang cocok untuk pemula. Tidak banyak tanjakan, relatif landai dan cukup teduh. Pos Ranu Pane ke Pos 1 cukup panjang, kurang lebih 1 jam perjalanan. Di Pos 1 dan pos-pos berikutnya ada banyak penjual semangka dan gorengan. Wah mantep banget tuh.

Waktu sudah akan memasuki malam. Udara semakin dingin, langit mulai gelap. Kami sudah kemalaman sejak sampai di Pos 3

erupsi semeru via www.explorebromo.com

Dari Pos 1 ke Pos 2 cukup dekat, hanya ditempuh 30 menit saja. Uniknya, letusan Mahameru terlihat jelas dari Pos 2. Suasana makin terasa dingin ketika malam menjelang. Kami pun terpisah dalam beberapa kelompok kecil. Ada yang di depan, tengah, ada pula yang di belakang. Memasuki waktu Maghrib, kami telah melewati Pos 2 dan melewati jembatan merah. Agak serem sih suasananya mengingat saat itu cukup sepi dan langit mulai gelap. Sesuai prediksi, kami bakal kemalaman. Untungnya semua bisa berkumpul di Pos 3 dan menghangatkan diri di api unggun yang dibikin di sana.

Advertisement

Berjalan di gelapnya malam, rombongan kami sampai di Ranu Kumbolo pada pukul 19.00 WIB. Suasana Ranu Kumbolo (2.389 mdpl) sangat dingin malam itu

es di tenda via www.sociotraveler.com

Ranu Kumbolo sangat dingin malam itu. Kami segera memasuki tenda untuk segera persiapan makan malam. Karena sudah menyewa porter, jadi tenda dan makanan pun sudah jadi. Tinggal santap aja deh. Menu makan malam itu adalah sayur sop dan mie ramen plus suki (bakso, daging dst). Menu yang cukup lezat ini bikin suasana malam yang dingin jadi tidak terlalu terasa.

Jelang tengah malam, embun es pun turun membasahi tenda. Suhu makin drop dan tenda perlahan basah. Kami pun kesulitan untuk tidur, meski ada 1-2 suara ngorok dari balik tenda. Bahkan ada yang rela menunggu pagi di perapian sambil berbincang dengan pendaki lain.

Keesokan paginya, suhu Ranu Kumbolo menyentuh -5 derajat. Dengan penuh perjuangan, kami pun segera keluar tenda menjemput sunrise yang mempesona

pagi hari di ranu kumbolo via www.instagram.com

Di tenda kami, es sudah mengkristal seolah seperti es kepal. Semalam sempat minus sampai -5 derajat. Suhu dingin perlahan menghangat dengan hadirnya sinar mentari pagi. Kami pun segera bergegas mengambil foto-foto tercantik dari Ranu Kumbolo. Kabut tipis perlahan terangkat dari danau dan terasa begitu magis.

ngopi di ranu kumbolo via www.instagram.com

Untuk menghangatkan tubuh, secangkir kopi hangat sudah cukup. Menikmati Ranu Kumbolo di pagi hari bersama kawan-kawan adalah salah satu hal yang tak terlupakan. Malam yang begitu dingin berganti dengan pagi yang cerah dan hangat.

Nggak cukup di Ranu Kumbolo, kami pun mendaki tanjakan cinta hingga ke Oro-oro Ombo. Cakep banget sih tempat ini

foto cover album di oro oro ombo via www.sociotraveler.com

Di belakang tenda kami ada spot bernama tanjakan cinta. Mitosnya sih kalau lagi nanjak ke sana nggak boleh nengok belakang. Kamu boleh nanjak sambil mikirin seseorang yang kamu sukai. Tapi kalau nengok ke belakang mitosnya bakalan nggak terkabul tuh keinginan kamu. Jadi harus mengarah ke depan dan fokus sambil memikirkan seseorang.

Di baliknya ada Oro-oro Ombo, hamparan verbena yang sangat indah dan menawan. Kamu bisa melihat kawasan Semeru dengan lebih lapang di sini. Secara kasat mata, pemandangan di Oro-oro Ombo kaya di New Zealand lho. Kece banget pokoknya

Rombongan kami balik ke Ranu Pane pada pukul 11.00 WIB. Meski dinginnya menusuk hingga tulang, namun pemandangan indah Ranu Kumbolo bikin suasana terasa hangat

saatnya pulang via www.sociotraveler.com

Agak berat rasanya untuk pulang dari Ranu Kumbolo yang begitu cantik ini. Namun sepertinya nggak mampu lagi kalau harus menginap sekali lagi di sana. Saking dinginnya sampai nggak bisa tidur. Akhirnya setelah makan, kami pulang ke Ranu Pane. Total perjalanan 3,5 jam untuk sampai ke sana. Lalu Jeep kami pun menjemput untuk membawa pulang ke Tumpang, lalu ke Malang. Berakhir sudah perjalanan seru ke Ranu Kumbolo dengan beragam cerita dan foto-foto cantik tentunya.

Kapan nih kamu mau agendakan liburan ke Ranu Kumbolo?

Advertisement
Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

Traveler Baper, Penghulu Kaum Jomblo

Editor

Traveler Baper, Penghulu Kaum Jomblo

CLOSE