Siapa yang tak kenal dengan Gunung Rinjani? Gunung tertinggi ketiga di Indonesia yang terletak di Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat ini memang menjadi salah satu gunung favorit para pendaki. Tak cuma pendaki asal Nusantara yang datang kemari, pendaki dari luar negeri pun rela datang jauh-jauh untuk mencapai puncaknya.

Gunung Rinjani memang tujuan impian para pendaki. Siapa yang gak sudi menjamahi singgasana Dewi Anjani di puncak tertingginya? Pun, tak ada yang sanggup berkata-kata ketika cahaya senja yang keemasan menggelayut manja di dinding-dinding Danau Segara Anak.

Advertisement

Tapi, di balik foto-foto keren pemandangan Rinjani dan foto-foto indah di puncak dan Danau Segara Anak yang diunggah para pendaki ke medsos, ada sisi lain yang hanya dilirik oleh sebagian orang-orang yang peduli:

Rinjani ternyata ternodai sampah yang ditinggalkan para pendaki.

Selama ini yang sampai ke mata kita hanyalah foto-foto indah dari puncak Rinjani. Padahal, ada banyak “bopeng” di wajah gunung yang jelita ini

Sampah di Rinjani

Sampah di Rinjani via www.facebook.com

Kita mungkin terbiasa melihat foto-foto panorama cantiknya Rinjani yang diabadikan oleh para pendaki. Berdiri di atas puncak dan berfoto sambil memegang kertas bertuliskan “Gunung Rinjani 3.726 mdpl dengan latar Danau Segara Anak di memang terasa membanggakan. Mungkin inilah pencapaian tertinggi yang bisa dirasakan oleh para pendaki di gunung ini.

Advertisement

Tapi, di balik segala euforia foto-foto kece di atas gunung itu, ada hal memalukan dan memilukan yang seringkali luput dari perhatian kita semua. Untungnya, kita disadarkan oleh seorang pengguna Facebook bernama Melina yang mendaki Rinjani pada Mei lalu. Lewat akunnya, ia mengunggah beberapa foto yang menampilkan sisi lain dari Gunung Rinjani selama ini: foto yang menunjukkan bertumpuk-tumpuk sampah.

Ih, gunungnya kotor banget!

Ih, gunungnya kotor banget! via www.facebook.com

Di dalam foto-foto yang diunggahnya, kamu melihat sampah-sampah berceceran di sudut-sudut Pelawangan Sembalun. Mulai dari bungkus mie instan, makanan ringan, madu sachet, sampai tisu dan botol plastik. Beberapa sampah juga tampak dibakar, lalu sisanya dibiarkan begitu saja.

Pemandangan ini tentu membuat kita semua merasa miris. Kita seringkali sibuk berlomba mengabadikan sudut-sudut indah di atas gunung, memalingkan muka pada pemandangan bopeng seperti ini. Padahal, justru inilah hal yang paling membutuhkan perhatian kita, orang-orang yang mengaku mencintai alam.

Gara-gara begitu banyak pendaki yang “nyampah” di Rinjani, kantor Resort Taman Nasional Gunung Rinjani sampai disegel oleh para penduduk sekitar

Aksi protes masyarakat dengan menumpuk sampah di hamlaman kantor TNGR

Aksi protes masyarakat dengan menumpuk sampah di hamlaman kantor TNGR via www.facebook.com

Permasalahan sampah di Gunung Rinjani tak cuma terjadi kali ini saja. Kenyataannya, masalah ini sudah berlangsung sejak lama tanpa ada solusi yang jelas. Hal ini tentu saja membuat geram masyarakat di sekitar Sembalun. Pada Selasa (26/5) lalu, kelompok masyarakat yang menamakan diri mereka Solidaritas Masyarakat Peduli Sembalun (SMPS) berunjuk rasa di depan Kantor Resort TNGR.

Mereka melakukan aksi penumpukan berkarung-karung sampah di halaman depan kantor TNGR Sembalun serta penyegelan gerbang kantor menggunakan gembok dan rantai. Sampah-sampah yang mereka tumpuk saat aksi unjuk rasa diperoleh dari mengumpulkan sampah di sepanjang jalur pendakian. Aksi ini dilakukan sebagai bentuk protes dari para porter, guide, serta masyarakat yang menilai bahwa kinerja petugas TNGR kurang memuaskan.

Polemik sampah di gunung memang tak cuma kali ini saja. Tapi sampai kapan kita mau terus begini, merusak satu per satu surga yang kita miliki?

Sampah di gunung bikin hati sedih

Sampah di gunung bikin hati sedih via harryhermanan.blogspot.com

Masalah sampah seperti ini memang gak cuma dialami oleh Rinjani saja. Keadaan gunung-gunung populer lainnya seperti Semeru dan Gede Pangrango juga tak jauh berbeda. Bahkan, hal seperti ini bukan cuma di gunung, tapi  juga di tempat-tempat eksotis lainnya, seperti Pulau Sempu yang notabene wilayah cagar alam juga ternoda oleh sampah yang ditinggalkan oleh para pengunjungnya.

Ada yang mengatakan bahwa sikap kita saat mendaki adalah cerminan dari watak dan kepribadian kita sehari-hari. Jika melihat dari banyaknya sampah yang ada di gunung-gunung kita, apa yang terbersit di dalam benakmu?

Apakah budaya nyampah kita memang sudah sebegitu parahnya? Sebegitu mendarah dagingnya sehingga kita bisa dengan entengnya membuang sampah di alam bebas tanpa rasa bersalah?

Dari peristiwa ini kita sudah sepantasnya berkaca, apakah kepedulian soal lingkungan yang kita teriakkan saat ini sudah dilakukan lewat aksi nyata, ataukah baru sebatas jargon-jargon belaka? Haruskah kita menunggu surga-surga menawan yang kita punya berubah satu per satu menjadi serupa Bantar Gebang baru kemudian kita sadar dan beraksi?

Hei, gunung-gunung ini bukan mal atau jalanan depan rumah kita yang rutin dibersihkan setiap harinya oleh petugas kebersihan.

Tak ada petugas kebersihan di gunung. Yang ada hanyalah mereka yang dengan suka rela memunguti sampah yang bukan miliknya dan ikut membawanya pulang. Mereka yang dengan suka rela naik gunung dengan misi membersihkan dan membawa turun sebanyak mungkin sampah. Mereka yang dengan sabar mengedukasi kita para pendaki untuk tidak nyampah dan menjadi pendaki yang lebih baik.

Mereka tidak dibayar, tapi mereka rela melakukannya agar surga-surga kita tetap ada. Agar kita—baik yang suka nyampah maupun tidak— tetap bisa menikmati indahnya Indonesia.

Ketika seharusnya kita berterima kasih pada mereka, akankah kita terus keras kepala dan membuang sampah di alam seenaknya? Ingat, surga yang kita punya sekarang juga berhak dinikmati oleh anak cucu kita kelak. Oleh karena itu, kita harus sadar dan mulai menjaganya sejak sekarang.

“Jangan ambil apapun kecuali gambar!”

Mungkin udah saatnya kita memodifikasi etika yang satu ini. Mungkin udah saatnya kita gak cuma mengambil gambar dan foto, tapi juga membantu memunguti sampah yang berceceran di gunung, meski itu bukan milik kita. Gak usah banyak-banyak, semampu kita aja. Sedikit demi sedikit.

Kalau kita membangun mental ini dari sekarang dan melakukannya dengan konsisten, saya percaya, suatu saat gunung-gunung di Indonesia pasti merdeka dari sampah dan keindahannya kembali bisa kita nikmati dengan utuh.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya