Hipwee Travel akan memberikan liputan khusus destinasi wisata populer di Indonesia. Kami menamainya Reportase Jelajah Wisata. Tiap bulannya kami akan mengupas satu destinasi yang sering jadi impian para traveler. Tak cuma destinasinya saja, kami juga akan membahas sudut pandang dan cerita-cerita lain seputar destinasi tersebut yang tak pernah ternarasikan sebelumnya.

Untuk destinasi bulan ini pilihan kami jatuh ke Baduy, kampung adat sekaligus tempat wisata tersembunyi di pelosok Banten. Ada 5 tulisan di Reportase Jelajah Wisata Baduy yang akan terbit setiap hari. Simak tulisan pertama yang akan bercerita tentang pengalaman menginap di Baduy di mana tidak ada listrik dan teknologi sedikitpun. Yuk simak!

Baduy adalah sebuah suku di kaki gunung Kendeng, Banten. Istilah Baduy sendiri adalah penyebutan dari orang luar dari asal kata ‘badawi’ yang artinya nomaden alias berpindah-pindah. Secara geografis, Baduy berada di Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak Banten. Mereka sendiri menyebut orang Baduy dengan istilah urang Kanekes. Suku Baduy terdiri dari dua komunitas yakni Baduy Dalam dan Baduy Luar. Baduy Dalam masih menjaga kemurnian ‘Amanat Luhur’ yang diturunkan oleh leluhur mereka.

Advertisement

Hipwee Travel berkunjung ke Baduy Dalam dan menginap di sana selama semalam pada akhir pekan lalu. Mau tahu serunya petualangan kami menembus desa yang terisolir dari dunia luar ini? Yuk simak perjalanan kami ya di artikel pertama ini. Dijamin bakal bikin kamu pengen nyobain nginep di sana deh.

Dari Jakarta, perjalanan ke Baduy dimulai dari Stasiun Tanah Abang. Kami naik KRL relasi Tanah Abang-Rangkasbitung yang kemudian dilanjutkan sampai ke Cijahe dengan mengendarai elf lokal

suasana kampung cijahe via www.hipwee.com

Meskipun lokasinya tidak jauh dari Jakarta, ternyata perjalanan menuju Baduy sama sekali tidak mudah. Kamu harus naik KRL kurang lebih 2 jam lamanya untuk sampai ke Rangkasbitung. Sesampai di ibukota Kabupaten Lebak ini, kamu mesti naik kendaraan umum berupa elf lokal untuk menuju ke Baduy. Ada dua jalur yang bisa kamu lewati, yakni Ciboleger dan Cijahe. Bedanya adalah, Ciboleger lebih ramah turis, fasilitas lengkap dan suasananya ramai. Tapi perjalanan ke Baduy Dalam butuh waktu 4-5 jam trekking. Kaki bakal gempor nggak tuh. Lama banget ‘kan, mending naik gunung Prau aja nggak sampai 4 jam sudah sampai di puncak. Hehehe.

Sementara itu, jalur Cijahe memang jalannya cukup rusak dan berlubang. Butuh perjuangan ekstra untuk sampai di Cijahe, kampung non Baduy terakhir sebelum masuk ke Baduy. Pemandangannya juga bukan desa-desa Baduy Luar melainkan hanya perbukitan dan ladang warga Baduy. Namun nilai plusnya, kamu cukup trekking kurang dari sejam. Bandingkan dengan Ciboleger yang mesti berjalan 4-5 jam. Hehehe. Sebagai generasi milenial yang males jalan jauh, jelas lah saya dan teman-teman pilih Cijahe. Kalau jalur rusak itu urusan supir elfnya yang nyetir. Hehehe.

Sore hari kami sudah sampai di Baduy Dalam. Dimulailah hidup tanpa listrik, tanpa HP, dan tanpa toilet selama sehari semalam

Advertisement

Pukul 16.30 WIB kami sudah menyeberang jembatan bambu sebagai pintu masuk desa Cikeusik, Baduy Dalam. Oh iya, di Baduy Dalam ada 3 desa yakni Cikeusik, Cibeo dan Cikertawana. Kami memilih Cikeusik yang terdekat dengan Cijahe. Treknya juga nggak berat-berat amat. Desa ini berada di kaki bukit dengan sungai yang mengalir seolah menjadi pelindungnya. Seger banget air sungainya!

Rumah Baduy Dalam terbuat dari anyaman bambu. Berbentuk panggung dengan hanya ada 2 ruang di dalamnya. Ruang pertama berbentuk kotak yang digunakan untuk tuan rumah memasak dan tidur. Sementara itu ada ruangan cukup luas di luar ruang kotak tadi, di mana tamu biasanya tidur berjejer di sana. Karena terbuat dari anyaman bambu, maka tak heran dingin begitu menusuk saat kamu tidur di sana.

Pantangan paling mendasar di Baduy Dalam adalah penggunaan teknologi. Listrik, HP, dan kamera terlarang di kawasan ini. Bahkan ekstremnya alat bantu seperti paku dan gergaji pun tidak boleh digunakan di sini. Warga Baduy menjaga ‘Amanat Leluhur’ secara turun temurun. Jadi, malam ini kami cuma bisa berbincang dengan tuan rumah dalam suasana remang-remang. HP pun tidak bisa digunakan, ya karena memang nggak boleh dan nggak ada sinyal. Beruntungnya, tuan rumah kami begitu ramah dan bercerita banyak hal tentang Baduy.

Isi obrolan kami akan membahas tentang agama dan pandangan politik Suku Baduy. Tunggu di artikel berikutnya.

Malam mulai larut, semua orang mulai beranjak tidur. Sayangnya, suasana malam di rumah Baduy Dalam cukup bikin susah tidur

lumbung di baduy via www.triptrus.com

Obrolan malam sudah selesai. Makan pun sudah tuntas. Sayur asem dan ikan asin jadi sajian istimewa yang terasa begitu alami dan nikmat. Teman-teman lalu tidur berjejer di ruangan tamu bagian depan. Sementara saya memilih sudut ruangan dan agak menyendiri. Namun rasanya mata ini sulit ditutup. Selain karena masih belum malam banget, sekitar pukul 22.00 WIB, namun suasana desa sudah sangat sepi. Hanya bunyi kodok dan jangkrik yang menemani. Nyala api temaram sedikit menerangi ruangan. Suasananya sedikit menjemukan ketika mata sulit terpejam.

Satu jam, dua jam, dan waktu terus terasa begitu lama. Teman-teman masih tertidur dengan pulas. Suasana malam kian terasa dingin dan sunyi. Apalagi muncul suara-suara aneh dari luar rumah. Malam ini terasa seperti camping di tengah hutan. Serem nggak sih kalau melek sendirian. Hehe. Akhirnya, mata bisa juga diajak kompromi ketika hari mulai berganti. Tengah malam, saya bisa tidur dengan nyenyak. Untungnya nggak kebelet pipis saat tengah malam. Males banget deh harus ke sungai gelap-gelap gitu.

Keesokan paginya, kami mandi di sungai dan bersiap-siap untuk pulang. Semalam di Baduy serasa kembali ke alam

pulang ditemani warga baduy dalam via www.hipwee.com

Pagi hari saat yang tepat untuk mandi. Buat kamu yang datang ke Baduy, jangan kaget kalau semua keperluan MCK harus dilakukan di sungai. Itupun tidak boleh menggunakan odol dan sabun, apalagi shampoo. Jangan khawatir, ada spot khusus cewek dan cowok yang terpisah kok. Jadi jangan ngintipin orang mandi ya. Hehehe.

Kami pun kembali ke Cijahe setelah sarapan bareng. Oh iya, karena tidak diperbolehkan mengambil foto, jadi kami tidak memotret satupun gambar di Baduy Dalam. Seluruh foto diambil di Baduy Luar. Mari kita hargai kebudayaan Baduy dan menahan diri untuk tidak motret atau selfie di Baduy Dalam.

Gimana, seru ‘kan liburan ke Baduy. Menginap semalam di sana tanpa teknologi, baik HP dan juga listrik bikin hidup damai dan tentram. Nggak ngurusin sosmed dan kerjaan untuk sementara itu ternyata bahagia ya. Ikuti liputan Baduy selanjutnya di Hipwee Travel ya!

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya