Traveling adalah sebuah istilah yang sering dipakai untuk orang-orang yang tengah melakukan perjalanan ke suatu tempat, untuk mendapatkan sesuatu. Lalu ada sebuah istilah “asam di gunung, garam di laut, bertemu dalam satu belanga” atau “sekali dayung, dua tiga pulau terlampaui” yang kerap menjadi peribahasa lucu para travel couple alias traveler yang berhasil menemukan jodohnya!

Memang benar mitos “traveling bisa mempertemukan kamu dengan jodohmu”. Masalah jodoh memang nggak ada yang tahu, bukan? Tapi, ada juga traveler yang percaya dan telah mengalami sendiri kejadian atas mitos jodoh dalam traveling. Nah, siapa sajakah mereka? Berikut akan Hipwee Travel bagikan kisahnya buat kamu!

Dina dan Ryan (Dua Ransel), sepasang nomadic-traveler yang menikah karena kesamaan hobi. Backpacker-an adalah jalan hidup.

Dina dan Ryan di Egypt.

Dina dan Ryan di Egypt. via www.duaransel.com

Advertisement

Kehidupan sebagai nomadic traveler telah dilalui oleh sepasang DuaRansel yang begitu menarik untuk diungkap. Perspektif hidup berpindah tempat alias backpacker ini berawal dari kesibukan merak yang membuat mereka jarang bertemu. Maka, mereka memutuskan untuk menjadi sepasang nomadic traveler.

Kisah cinta mereka berawal dari kampus di mana mereka kuliah. Dian, wanita asal Bandung yang ikut program pertukaran pelajar di Jepang, bertemu dengan Ryan, mahasiswa asal Kanada yang juga ikut program serupa. Ryan yang kini bekerja sebagai programmer dan Dina yang sebenarnya ahli sains, rela meninggalkan pekerjaan mereka demi sebuah perjalanan panjang tanpa batas. Untuk sang suami, dia bisa bekerja di manapun dia mau, jadi nggak perlu repot ngurus kerjaan. Sepasang traveler yang saling cinta karena hobi yang sama: traveling!

Kamu bisa simak kisah cinta dan petualangan mereka di sini.

Seorang gadis cantik dari Inggris yang memutuskan menikah dengan kepala suku di Hutan Amazon. Rupanya cinta tak pernah memandang status, ya.

Sarah bersama suami dan saudaranya.

Sarah bersama suami dan saudaranya. via globetrotters.co.uk

Advertisement

Adalah seorang traveler asal Inggris bernama Sarah Bogum yang tengah mengambil gambar tentang kehidupan manusia primitif di Hutan Hujan Amazon, Ekuador. Selain karena alasan ingin mengambil gambar, Sarah juga ingin berkampanye menentang perusahaan minyak yang hendak mengusir Suku Huaorani, penduduk asli Hutan Hujan Amazon.

Cinta tak pernah tahu, di mana dan kapan ia harus berlabuh.

Nah, perjalanan cinta Sarah bermula dari sini nih. Sarah yang memang memiliki jiwa petualang, ternyata harus takluk, bukan takluk oleh terkaman hewan buas atau ular Anaconda yang hidup bebas di Amazon. Melainkan harus takluk oleh cinta dari Kepala Suku Huaorani! Dan…AKHIRNYA MEREKA MENIKAH! akhirnya mereka menikah. 🙂

Amber dan Eric Hoffman yang mencintai wisata kuliner ini memutuskan menikah karena, ya, kamu tahulah, ya. Persamaan masalah perut. :p

Amber dan suami lagi di Langkawi. :O

Amber dan suami lagi di Langkawi. :O via www.withhusbandintow.com

Amber yang merupakan sebuah pengacara dari sebuah firma hukum ternama di dunia memilih untuk keluar dari pekerjaannya lantaran dia ingin mencari pengalaman baru dan pandangan baru tentang kehidupan. Amber punya sebuah tujuan untuk merebut kembali kehidupannya, kesehatannya, dan kewarasannya, dengan cara pergi ke suatu tempat, menulis, makan. Dari sinilah dia dan suaminya memutuskan untuk menjadi sepasang traveler kuliner, dengan tujuan agar semua orang atau pembaca blog-nya terinspirasi oleh kisah hidup mereka berdua. Mereka menamai keluarga mereka dengan sebutan: Adventures in Food. Ini pekerjaan yang paling enak nih. Jalan-jalan, makan-makan, dibayar, kenyang. 😐

Adam Poskitt dan Susan Natalia, blogger traveler yang menikah karena hobi yang sama; bahwa keluarga bukan penghalang untuk melakukan traveling.

Sepasang pergidulu ke Santorini.

Sepasang pergidulu ke Santorini. via pergidulu.com

Pertemuan kedua travelers ini terbilang unik. Hasil penelusuran alias kepo menyebutkan bahwa Adam dan Susan bertemu di sebuah CS (Couch Surfing) di Bandung. Berawal dari seorang teman yang mengenalkan Adam kepada Susan, maka terjadilah jalinan pertemanan di antara keduanya. Awalnya, Susan mengira bahwa Adam juga seorang CS, sebab Adam selalu mau ngikut ajakan Susan untuk menghadiri acara gathering CS di manapun. Mungkin ini yang namanya cinta kali ya, Gaes:

Cinta itu melakukan apapun seperti yang ia minta. Ke manapun dia pergi, bahagia bila kau bersamanya.

Ya, seperti itulah awal benih-benih cinta Mas Adam kepada Mbak Susan. Hubungan mereka kian serius ketika Susan menanyakan arah hubungan yang telah mereka jalin. Sebagai catatan, Adam (orang bule) nggak kenal yang namanya ‘nembak’. Makanya, setelah Susan menanyakan arah hubungan mereka, barulah beberapa hari kemudian Adam bertanya pada Susan, “Will you be my girlfriend?”

Nah, setelah dirasa visi misi keduanya senada, akhirnya Adam memutuskan untuk melamar Susan. Menurut mereka, keluarga bukan penghalang untuk traveling.

Kalau sudah punya anak, bukan berarti harus diem di rumah terus nggak bisa melihat dunia. Toh, anak-anak bisa dibawa traveling dan diajari oleh orang tuanya sambil belajar tentang kehidupan seacara langsung.

Dan, meski mereka telah menikah, mereka membuktikan bahwa pernikahan bukanlah penghalang bagi mereka untuk terus traveling. Bahkan, mereka rajin menuliskan perjalanan mereka di blog dan buku mereka yang berjudul Wisata Hemat: New Zealand.

Seorang rock climber yang menikahi pendaki wanita di puncak tertinggi di tanah Inggris. Jo Mellor dan Rob Tearle bisa jadi inspirasimu buat nikahin kekasihmu nih!

ILUSTRASI. Beginilah serunya nikahin dia di puncak gunung!

ILUSTRASI. Beginilah serunya nikahin dia di puncak gunung! via www.mirror.co.uk

Seorang rock climber, Jo Mellor akhirnya menikahi kekasihnya yang juga seorang pendaki gunung, Rob Tearle di atas puncak gunung tertinggi di tanah Inggris, Buachaille Etive Mor, Skotlandia. Setelah menempuh perjalanan bersalju selama dua jam lebih, akhirnya mereka berucap janji suci di atas ketinggian lebih dari 1.022 mdpl. Sepasang traveler asal Skotlandia ini memang menginginkan pernikahan di atas gunung, dengan hanya disaksikan beberapa temannya yang sekaligus seorang penghulu dan juga pendaki professional, Carl Iszatt dan Emily Iszatt. Romantis nggak sih, menikah di atas puncak gitu?

Yaelah, orang ditembak di puncak gunung aja udah seneng banget, Mz!

Nah, itulah beberapa kisah inspiratif dari para petualang yang akhirnya menemukan dan menentukan jodohnya ketika traveling. Ya, namanya jodoh, siapa yang tahu? Ya, ‘kan? So, bagaimana kisahmu dalam menemukan jodoh? Apakah traveling akan menyelamatkanmu dari kejombloan yang menahun? Ceritakan kisah penemuan cintamu dalam traveling di kolom komentar, ya! 🙂

Heh, kamu yang jomblo! Jangan baper, yak.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya