Pekan lalu, dunia pendakian dihebohkan dengan adanya berita di beberapa media nasional tentang seorang pendaki yang mengadakan ekspedisi Jelajah Tanpa Batas 50 Gunung dalam 40 Hari. Buset! Siapa sih yang nggak terkejut? Adalah Willem Sigar Tasiam seorang pria berusia 58 tahun yang akan mengakrabkan diri dengan 50 gunung di Nusantara selama 40 hari.

Wah, menarik nih buat dibahas. Tapi sebelumnya, kamu kenal nggak sama Bapak Willem ini? Nah, kali ini Hipwee Travel akan memperkenalkan seorang pendaki solo dari Indonesia yang telah berulang kali mengukir rekor pendakian seorang diri ini. Yuk, langsung disimak!

Asal usul Willem Sigar Tasiam. Seorang anak karyawan PT Pelni yang sering berpindah tempat tinggal.

40 gunung dalam 32 hari. via willem-sigar.blogspot.co.id

Willem Sigar Tasiam, merupakan anak pertama dari lima bersaudara yang lahir di Pontianak, 22 Februari, 58 tahun silam. Seorang peranakan Manado buah cinta Arnold Tasiam dan Marie Katuk ini harus rela meninggalkan dunianya ketika dia dan keluarganya harus mengikuti keputusan ayahnya dalam menjalankan pekerjaan. Arnold Tasiam yang bekerja sebagai karyawan PT Pelni harus mengajak keluarganya untuk berpindah-pindah rumah karena tuntuan pekerjaan.

Dari kepindahan inilah Willem menemukan passion-nya. Berpetualang di alam bebas.

Willem zaman masih muda. via willem-sigar.blogspot.co.id

Advertisement

Pada tahun 1971, Willem harus pindah ke Jatinegara, Jakarta Timur. Namun, kepindahan inilah yang akhirnya membuat Willem menemukan jati dirinya. Pengalamannya dalam beradaptasi dengan dunia baru tentu tanpa disadari membentuk karakter si Willem kecil. Dari sinilah Willem mencintai dunia petualangan. Dia mencintai dunia traveling! Tapi bukan traveling mewah ala-ala anak zaman sekarang. Lebih ekstrem dan menantang. Mendaki gunung, kegiatan yang paling ia gandrungi. Gunung Gede dan Gunung Pangrango menjadi gunung pertama yang dia sambangi. Willem menuturkan bahwa kedua gunung ini cocok sekali buat para pendaki pemula. Mengingat treknya yang mudah dan tantangan yang nggak begitu susah untuk dilalui. Heem. Buat kamu para pendaki pemula, coba deh buktiin dua gunung ini!

Selain hobi mendaki, Willem pun jago main gitar klasik. Inilah yang membuatnya bisa menjadi seorang guru musik.

Willem saat di Rinjani. via willem-sigar.blogspot.co.id

Pada tahun 1992, ketika dia pindah ke Purwokerto, ternyata ia pernah loh jadi guru! Guru musik gitar klasik di Yayasan Yasmin, Purwokerto. Menurut informasi yang berhasil Hipwee Travel rangkum, meski Willem hanya mengenyam pendidikan hingga SMP, hal ini tak lantas membuat skill Willem hanya sebatas keterbatasan pendidikan formal. Kepiawaiannya dalam bermain musik pun tak perlu diragukan lagi.

Pernah bergabung dalam Klub Tapak, namun ia dipecat gara-gara dia lebih jago dari para seniornya. Waduh!

Willem, 2010. via willem58.blogspot.co.id

Mau jalan-jalan ke gunung kok harus biasa-biasa saja, padahal saya sendiri memang ingin mencoba terus. Ya, saya jalan sendiri bahkan bersaing dengan mereka. – Willem

Kejadian unik pernah Willem alami ketika dia ‘dipecat’ dari Klub Tapak, komunitas pecinta alam. Waktu itu, sebagai junior, kapasitasnya dinilai telah melebihi kemampuan para seniornya. Dan aktivitasnya yang terlalu padat juga menjadi alasan klub ini mendepaknya. Sebelum didepak, Willem sering sekali bersaing dengan mereka loh. 😀 Mungkin para seniornya merasa direndahkan dengan kemampuan si Williem. Hehe..

Akhirnya ia membuat komunitas sendiri dengan tanpa keterikatan dan ketentuan yang rumit. Siapa pun boleh gabung dan mendaki bareng.

Willem dan komunitas pecinta alam Perompak. via willem-sigar.blogspot.co.id

Setelah didepak dari Klub Tapak, Willem sempat membuat komunitas sendiri yang nggak mempunyai AD & ART, sehingga komunitas ini bebas untuk berkegiatan. Selain nggak terikat, komunitas yang belakangan dikenal sebagai Komunitas Lapas ini juga nggak punya ketentuan yang rumit. Siapa pun boleh gabung dan mendaki bareng. Willem juga tercatata sebagai anggota Wadah Pecinta Alam Jakarta yang dinaungi Dewan Harian Nasional Angkatan 45, hingga saat ini. Dedikasi yang tinggi untuk sebuah kecintaan terhadap alam. Salute!

Nggak lama setelah itu, Willem memutuskan untuk ber-solo hiking. Keputusan yang tepat, karena sederet prestasi ia hadirkan dalam hidupnya.

Mungkin lagi-lagi karena passion, solo hiking menjadi pilihannya dalam menyambangi gunung-gunung yang tersebar di Nusantara. Sejak keberadaannya dalam Komunitas Tapak, dia terbiasa mendaki gunung seorang diri. Kegiatan yang langka digemari para pendaki lain. Tapi Willem nggak pernah merasa sendiri ketika berada di gunung. Semua pendaki adalah temannya. Dia percaya, nggak ada pendaki yang nggak peduli. Tapi, dia nggak pernah menggantungkan hidupnya dengan pendaki lain di gunung.

Dari keputusannya inilah yang mengantarkan Willem sering mendapatkan prestasi yang nggak biasa. Sebagai pendaki solo, dia telah banyak mengekor prestasi yang brilian. Di antaranya adalah:

  • Pendakian solo di Jawa, Bali, dan Sumbawa, 14 gunung dalam 20 hari, 2004.
  • Pendakian solo di Jawa, Bali, dan Sumbawa, 20 gunung dalam 26 hari, 2005.
  • Pendakian solo di Jawa, Bali, dan Sumbawa, 23 gunung dalam 22 hari, 2007.
  • Pendakian solo di Jawa, Bali, dan Sumbawa, 24 gunung dalam 24 hari, 2009.
  • Pendakian solo di Jawa, Bali, dan Sumbawa, 25 gunung dalam 23 hari, 2010.
  • Pendakian solo di Sumatera, Jawa, Bali, Lombok, dan Sumbawa, 30 gunung dalam 27 hari, 2012.
  • Pendakian solo di Sumbawa, Lombok, Bali, Jawa Sumatera, 40 gunung, 32 hari, 2014.
  • Pendakian solo di Nusa Tenggara Timur, Bali, Jawa, dan Sumatera, 40 gunung dalam 32 hari, 2015.

Dan yang terbaru, bulan April tahun ini, di usianya yang telah mencapai 58 tahun akan menjelajah 50 gunung dalam waktu tempuh 40 hari. Good luck, Sir!

Banyak orang hanya mengenalnya sebagai panitia gerak jalan. Padahal ia pencetus Pendakian Maraton Gunung di Indonesia!

Willem di Tambora. via willem-sigar.blogspot.co.id

Nggak banyak yang mengenal Willem ini sebagai pendaki, apalagi pelopor pendakian gunung secara maraton di Indonesia. Orang hanya mengenalnya sebagai seorang panitia gerak jalan Rengasdengklok-Jakarta. Pendakian maraton gunung di Indonesia ini Willem dapatkan setelah membaca sebuah buku karangan Sutardjo Adi, yang meriwayatkan bahwa ia pernah mendaki 7 gunung dalam waktu 25 hari. Dari sinilah panggilan jiwa menantangnya untuk bisa melebihi Sutardjo Adi. And finally he did it better!

Ya, itulah profil singkat Willem Sigar Tasiam. Seorang pelopor pendakian maraton gunung di Indonesia yang rendah hati. Tanpa banyak berkoar, dia telah mengukir prestasi pendakian yang sungguh luar biasa. Kalau kamu, berapa gunung yang bisa kamu daki?