Ramai Tren “Downgrade Lifestyle”, Pertanda Daya Beli Kelas Menengah Sedang Tak Baik-Baik Saja?

Warga kelas menengah ramai-ramai mulai lakuin penurunan gaya hidup. Apa sih sebenarnya faktor dan alasannya?

Belakangan, lini masa Threads dan X lagi ramai sama pengakuan jujur anak muda soal downgrade lifestyle. Mulai dari pindah skincare ke produk lokal yang ramah kantong, beralih dari kopi kafe ke kopi saset, sampai mengurangi naik kendaraan pribadi.

Kenapa tren ini jadi perbincangan panas? Jawabannya sederhana: in this economy, maksain gaya hidup lama rasanya udah nggak masuk akal!

Di tengah harga kebutuhan yang makin ugal-ugalan dan daya beli yang menurun, menurunkan standar hidup bukan lagi soal gaya-gayaan. Buat banyak orang, terutama kelas menengah, ini adalah strategi bertahan paling realistis.

  • 🧴 Skincare lokal
  • ☕ Kopi saset
  • 🚌 Naik transportasi umum
  • 🍚 Ganti merek beras
  • 📺 Stop langganan streaming
  • 💼 Cari kerja sampingan

Kelas menengah mulai menerapkan downgrade lifestyle

Tangkapan layar curhatan warganet di Threads tentang gaya hidup yang mulai berubah
Curhatan warganet soal gaya hidup yang mulai berubah | Threads

Sebenarnya, apa sih downgrade lifestyle? Istilah ini merujuk pada keputusan sadar untuk menurunkan standar gaya hidup ke level yang lebih terjangkau, menyesuaikan kondisi ekonomi.

Fenomena ini bukan sekadar ikut-ikutan tren global seperti trading down atau loud budgeting. Kalau mengintip data Mandiri Spending Index (MSI) per September 2026, masyarakat kita memang lagi gencar berhemat lewat pola selective spending alias belanja pilih-pilih.

Menurut laporan tersebut, belanja masyarakat secara keseluruhan masih tumbuh 6,3% secara tahunan (year-on-year) pada pekan kedua September 2026. Tapi, porsi belanjanya mulai bergeser.

Porsi belanja yang menyusut (Agustus → September 2026)
  • 📱 Gawai17,6% → 16,3%
  • 🏠 Kebutuhan rumah tangga8,9% → 7,9%
  • 👗 Fesyen7,0% → 6,5%

Sumber: Mandiri Spending Index, via CNBC Indonesia. Bar abu = Agustus, bar oranye = September.

Artinya, masyarakat nggak berhenti belanja, tapi jauh lebih selektif membagi uangnya. Barang yang bukan kebutuhan pokok jadi yang pertama dikorbankan.

Di media sosial, ceritanya terasa lebih nyata. Banyak yang curhat ganti merek beras, beralih ke kopi saset, mencoret langganan streaming, sampai pekerja kantoran yang harus cari kerja sampingan demi menutup kebutuhan.

Saat laporan ekonomi nggak sejalan dengan realita

Ilustrasi kontras antara grafik pertumbuhan ekonomi dan gelombang PHK
Ilustrasi pertumbuhan ekonomi vs gelombang PHK | Hipwee

Di sinilah ironinya. Di atas kertas, pertumbuhan ekonomi sering diklaim masih aman dan konsumsi rumah tangga tumbuh positif. Tapi bagi kelas menengah, kondisinya jauh berbeda.

Ekonom Universitas Andalas, Syafruddin Karimi, menilai kelas menengah jadi kelompok yang paling rentan terjepit. Di satu sisi, mereka menanggung banyak pengeluaran tetap, mulai dari cicilan, biaya pendidikan anak, sampai rumah.

Bukan orang kayaPenghasilan pas-pasan untuk cicilan dan kebutuhan🥪Nggak dapat bansosNggak masuk kriteria penerima bantuan sosial

Di sisi lain, saat harga naik dan upah jalan di tempat, mereka bukan orang kaya, tapi juga nggak memenuhi syarat untuk menerima bantuan sosial, yang umumnya menyasar kelompok berpenghasilan paling bawah. Serba nanggung, kan?

Belum lagi pasar kerja yang kurang bersahabat. Puluhan ribu pekerja tercatat terkena pemutusan hubungan kerja (PHK) berdasarkan klaim Jaminan Kehilangan Pekerjaan (JKP) Kemnaker hingga paruh kedua tahun ini.

Ancaman jangka panjang di balik tren menurunkan standar hidup

Ilustrasi grafik menurun yang menggambarkan berkurangnya kelas menengah
Ilustrasi menyusutnya kelas menengah | Hipwee

Menyesuaikan pengeluaran tentu bukan cuma urusan potong bujet atau ganti merek belanjaan. Direktur Next Policy, Yusuf Wibisono, mengingatkan bahwa tekanan daya beli kelas menengah bisa jadi masalah serius bagi ekonomi nasional dalam jangka panjang.

60,8 jutakelas menengah pada 2018 (23% populasi)→46,7 jutakelas menengah pada 2025 (16,6% populasi)

Jumlah kelas menengah turun dari 60,8 juta orang pada 2018 menjadi 46,7 juta orang pada 2025. Sebaliknya, kelompok yang masuk kategori rentan miskin justru melonjak.

Kalau kelas menengah terus melemah, kemampuan belanja di luar kebutuhan pokok ikut ambruk. Ujung-ujungnya, sektor industri dan ritel ikut kena pukul. Masalah ini juga berkaitan dengan makin sedikitnya lapangan kerja formal yang layak, baik karena gelombang PHK maupun pergeseran ke pekerjaan informal yang upahnya terbatas.

Karena itu, pemerintah didorong untuk nggak cuma mengandalkan stimulus jangka pendek, tapi fokus menciptakan lapangan kerja formal yang layak dan memperkuat industri manufaktur, supaya kelas menengah nggak terus-terusan tergerus.

Jadi, apakah downgrade lifestyle pilihan yang tepat?

Menurunkan standar hidup jelas nggak gampang diterima, apalagi kalau selama ini kita sudah kerja keras siang dan malam. Merasa capek atau harus putar otak saat mencoret daftar belanja itu wajar banget.

🌱 Ada sisi positifnya, lho.Downgrade lifestyle bisa jadi angin segar buat ekosistem lokal, misalnya beralih ke brand lokal yang lebih terjangkau, atau ngopi di warung tetangga alih-alih gerai waralaba internasional.

Jadi, nggak usah minder kalau harus ngerem pengeluaran. Langkah ini justru bikin kita lebih sadar untuk mendukung produk lokal dan UMKM. Di saat kondisi lagi nggak menentu, kita bisa saling jaga lewat hal-hal kecil seperti ini.

Mau pengeluaran makin terkendali?Baca juga tips menghemat uang bulanan yang bisa langsung kamu praktikkan.

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

Part time - Content Writer, Copywriter, Editor Buku, dan Penulis. Full time - menghabiskan waktu dengan para kucing, nonton drama maupun film.

Editor

Bisa diajak diskusi panjang lebar tentang kehidupan asal ada segelas kopi di atas meja. Mengubah kafein menjadi inspirasi, lalu merangkainya menjadi cerita. Percaya bahwa ide-ide terbaik selalu datang dari hal-hal yang paling sederhana.