Ketika membicarakan pernikahan, seringkali istilah siraman dilibatkan. Bukan sekadar istilah tanpa makna, karena pasalnya, siraman ini merupakan upacara adat ritual warisan nenek moyang yang mengandung banyak falsafah di dalamnya.

Kamu yang turun temurun dari suku Jawa dan Sunda pun belum pasti paham ‘kan apa makna filosofis dibalik ritual yang kerap dijalani calon mempelai ini? Untuk memutuskan nantinya kamu menggunakan ritual ini atau nggak, lebih baik kita telaah satu-satu dulu apa aja makna di baliknya.

Dalam upacara siraman, kedua mempelai dimandikan dengan air yang telah dicampur dengan bunga tujuh rupa. Maknanya nggak sedangkal untuk membersihkan diri aja

kembang setaman yang identik dengan keharuman, keharuman nama keluarga harus dijaga via instagram.com

Air yang telah dicampur dengan bunga tujuh rupa atau biasa dikenal sebagai kembang setaman ini dibasuhkan ke tubuh mempelai oleh anggota keluarganya. Upacara siraman biasa dilangsungkan sehari sebelum ijab kabul dilantunkan. Hal ini merupakan sebuah simbol dari penyucian yang dimaksudkan agar untuk membangun mahligai pernikahan yang suci, maka calon mempelai harus memulainya dari keadaan yang suci pula. Jadi kalau ada yang bilang, siraman itu sama halnya dengan mandi biasa alias untuk membersihkan diri saja, ya nggak juga. Bersih nggak selalu suci dong, tapi suci pasti bersih. Hehe.

Upacara ini bisa dilakukan bersamaan, dan ada juga yang dilakukan secara terpisah antara calon mempelai pria dan wanita. Terlepas dari terpisah atau satu tempat, calon mempelai wanita tetap mendapatkan kesempatan pertama untuk menjalankan prosesi ini. Mempelai wanita menggunakan busana kain batik dengan motif Grompol yang dirangkapi kain mori putih sepanjang dua meter dengan posisi rambut diurai bebas. Katanya sih, pasca menjalani siraman ini, dosa di masa lalu dari kedua mempelai akan luruh.

Pencampuran bunga tujuh rupa dalam air yang digunakan pun sejatinya ada maknanya masing-masing. Mawar dan melati misalnya ~

Advertisement

walau sama-sama wangi, tapi maknanya beda via seputarpernikahan.com

Bunga mawar yang dicampurkan memiliki makna sebuah harapan agar calon mempelai dapat selalu jujur demi kebenaran. Sedangkan bunga melati yang harum mempunyai arti berupa harapan agar calon mempelai bisa membawa harum nama keluarganya. Lalu, bunga kenanga yang juga dicampurkan pada air siraman berarti harapan agar calon mempelai selalu dipayungi oleh keteduhan hati. Apa lagi kalau yang nikah bunga desa, Duh~~

Siraman bukan juga hanya perkara bunga, Ada pula namanya Konyoh Manca Warna yang merupakan lima macam warna lulur atau bedak basah. Bahan ini pun menyimpan khasiat bermakna

ada lulurnya juga, nggak cuma kembang

Lulur atau bedak basah ini dibuat dari tepung beras dan kencur serta bahan pewarna. Konyoh ini berfungsi sebagai sabun yang mampu menghaluskan tubuh. Masih ada landha merang, santan kanil, air asem yang berguna sebagai shampo dan conditioner si calon pengantin saat siraman. Harapannya, macam-macam cahaya yang dicampur tadi, bersinar menjadi satu dan meresap ke dalam tubuh calon pengantin sehingga nampak cantik dan mempesona.

Kemudian ada dua butir kelapa yang sudah tua yang sebagian sabutnya diikat menjadi satu dan dimasukkan ke dalam air yang sudah ditaburi kembang setaman. Maknanya, agar kelak kedua mempelai selalu hidup rukun dan tetap hidup berdampingan sampai akhir hayat atau hidup rukun hingga maut memisahkan.

Jumlah penyiram pada prosesi siraman pun tak luput dari perhatian, seringkali dilakukan dalam bilangan ganjil yang rata-rata berjumlah tujuh atau sembilan orang

jumlah penyiram pun menyimpan filosofi, nggak sembarangan via tiaraundangan.com

Beberapa orang diberi tugas untuk menyiram mempelai, mulai dari juru rias yang sekaligus merapalkan doa-doa di siraman pertamanya. Siraman berikutnya dilakukan oleh anggota keluarga yang dituakan, dan diakhiri oleh kedua orang tua atau ada juga yang justru orang tualah sebagai pemula atau yang memulai paling awal.

Tujuh orang mempunyai makna pitulungan atau pertolongan. Sebab, tujuh dalam bahasa Jawa ialah pitu yang berarti pitulungan. Jika dilakukan oleh sembilan orang berarti membersihkan babahan hawa sanga atau sembilan lubang yang ada pada tubuh manusia. Di beberapa wilayah tertentu, pihak penyiram kedua mempelai hanya boleh dilakukan oleh kaum wanita, karena mereka menganggap para ibu inilah yang secara intens telah merawat anak-anaknya sejak dalam kandungan.

Bahkan dari perlengkapan acara siraman aja melambangkan sesuatu lho. Termasuk gayung dan untaian padi kuning keemasan yang menyertai gayungnya

siap siap terharu kalau di nikahanmu nanti ada prosesi ini via sofiun.files.wordpress.com

Gayung yang disertai padi kuning merunduk berarti mampu mengayomi keluarga. Ada pula rebusan umbi-umbian yang tumbuh dalam tanah atau lebih dikenal dengan nama polo pendem, dimaknakan agar rumah tangga yang nanti akan dibina oleh sang pengantin akan mempunyai pondasi yang kuat. Masih ditambah rangkaian buah kulit, kendi air siraman tempat air kucuran wudlu, dan tumpeng robyong yang bermakna harapan akan keselamatan, kesuburan, dan kesejahteraan.

Selain itu, dalam ritual siraman ada juga pisang raja yang buahnya sudah masak pohon. Maksud dari dipilihnya pisang yang sudah masak ialah diharapkan dari pasangan tersebut setelah menikah telah memiliki pemikiran dewasa atau telah masak. Sedangkan pisang raja sendiri memiliki makna berupa pengharapan agar pasangan yang akan dinikahkan tersebut kelak mempunyai kemakmuran, kemuliaan dan kehormatan seperti halnya seorang raja. Ada lagi tebu yang memaknakan sumber rasa manis, sebagai lambang kehidupan yang serba enak.

Siraman tak hanya berisikan prosesi menyiramkan kembang setaman ke tubuh mempelai saja, acara ini sendiri diakhiri dengan potong rambut yang dilakukan oleh Ayah sang mempelai

setelah badan dikeringkan, ayahmulah yang akan menggendong hingga kamar via instagram.com

Setelah siraman dilakukan, air wudlu lalu dikucurkan oleh sang ayah dari kendi siraman. Kemudian kendi dipecahkan oleh kedua orangtua sebagai tanda pecahlah pamor sang anak sebagai wanita dewasa dan memancarlah sinar pesonanya. Kemudian, acara ini diakhiri dengan potong rambut dan menggendong mempelai ke dalam rumah. Hal ini melambangkan kasih sayang orangtua yang senantiasa mengiringi anaknya sampai detik terakhir menjelang tahap baru kehidupan sang anak.

Ini sih beberapa pengetahuan soal siraman yang bisa Hipwee bagikan kepada kalian. Inti dari semua makna dan filosofi dari bahan, perlengkapan, dan prosesi yang dilakukan ialah agar kedua calon pengantin akan kembali bersih menyambut hari baru di kehidupan rumah tangga, layaknya selembar kertas putih tanpa noda. Jadi, nikahanmu nanti mau pakai upacara siraman nggak nih?

Suka artikel ini? Yuk follow Hipwee di mig.me!